5R/5S japanese concept

Awal mula mengenal 5S atau di Indonesia disebut dengan 5R ketika saya kuliah semester 3 pada tahun 2011. Pada waktu itu saya mengikuti pelatihan dari pemberi beasiswa saya untuk mengelola asrama. Lima S atau Lima R biasanya diterapkan pada skala industri atau tempat yang didalamnya menyimpan beberapa peralatan atau barang yang digunakan secara umum oleh sekelompok atau beberapa orang. Dari konsep pabrik diadopsi kepada asrama dimana tempat saya tinggal. Karena saya menjadi bagian penanggungjawab kerapian dan kebersihan, dengan senang hati saya mempelajarinya dan kemudian menerapkannya bersama teman-teman se-asrama.

5S adalah metode organisasi tempat kerja yang menggunakan daftar lima kata berbahasa Jepang yaitu seiri, seiton, seiso, seiketsu, dan shitsuke. Kelima S ini menjelaskan cara mengatur ruang kerja untuk efisiensi dan efektivitas dengan mengidentifikasi dan menyimpan barang-barang yang digunakan, mempertahankan area dan item barang, dan mempertahankannya. Biasanya terdapat peraturan yang dibangun berdasar kesepakatan dan standar yang mengatur setiap individu didalamnya selama bekerja. Dalam beberapa tahun ini, 5S telah menjadi 6S, elemen keenam menjadi aman (safety).

Lima S atau Lima R ini tidak bisa diacak, semuanya berurutan dan saling terkait. Apabila ada satu S yang tidak dijalankan maka prinsip tersebut tidak utuh dan tidak berhasil. Apa saja S tersebut?

S yang pertama – Seiri atau Ringkas yaitu kita wajib menyingkirkan barang-barang yang tidak diperlukan.

S yang kedua – Seiton atau Rapi yaitu merapikan barang-barang sehingga semua barang punya tempatnya sendiri.

S yang ketiga – Seiso atau Resik yakni dengan menerapkan kebiasaan membersihkan. Namun disini tidak sekedar membersihkan barang, tetapi juga sambil memeriksa apakah barang masih layak pakai atau tidak.

S yang keempat- Seiketsu atau Rawat. Apabila barang masih bagus dan berfungsi maka kita wajib untuk merawatnya dengan tujuan menghindari ketidakpastian. Misalnya kerusakan alat yang membuat celaka pekerja sebab tidak diservis rutin. Atau label warna yang salah letak sehingga menimbulkan kecelakaan industri, dll.

S yang kelima – Shitsuke atau Rajin. Konsep 5R terakhir ini yang paling sulit sebab berkaitan dengan habit, yaitu setiap orang didalam ruangan 5R memastikan seiketsu berjalan dengan baik dengan rambu-rambu atau peraturan yang telah disepakati.

Nah, jika saya simpulkan 5R/5S ini cocok untuk ruangan yang berisi berbagai macam prosedur serta penghuni yang bervariasi. Misalnya sekolah, asrama, kantor dan pabrik. Saat saya menerapkan metode ini di asrama, memang efektif. Disana terdapat peraturan, piket kebersihan dan berbagai kesepakatan yang tertulis dengan rinci. Namun tidak menutup kemungkinan juga bisa diterapkan dalam skala rumah tangga. Suami saya membuat formulasi khusus terkait hal ini di rumah. Kapan-kapan kita bagikan isinya 🙂