ALIRAN RASA IIP IBU PROFESIONAL KELAS BUNSAY LEVEL 2

Aliran Rasa Game Level 2 #Melatih Kemandirian Anak

Alhamdulilah, 17 hari tanpa jeda Allah berikan kemampuan pada saya untuk menuliskan tugas setiap hari dalam rangka melatih kemandirian anak. Gimana perasaannya?

“senang dan penuh kesyukuran.” 🙂

Selama ini saya biarkan secara alamiah anak untuk melakukan hal-hal yang disukainya. Namun semua hal yang disukai dan ataupun yang tidak disukai anak batita ternyata bukanlah alamiah mengalir begitu saja, namun dia juga mencoba mencari cara serta melihat (mencontoh) apapun yang dia lihat di sekitarnya. Itulah kenapa hal ini membuat saya semakin sadar untuk bersikap lebih baik dalam rangka memberikan keteladanan pada anak.

Namun dari semua hal yang alamiah itu, ada hal-hal yang memang perlu diupayakan. tidak mengalir begitu saja, contoh paling mencolok adalah mengajarkan toilet training. Hehehe, ini cukup menguras kesabaran dan energi jika tekad diri ini tidak disetting full power 😀

Selama 17 hari lalu, saya tidak memasang target muluk-muluk paling penting adalah melihat keseriusan dan upaya anak apakah dia mampu diarahkan untuk hal itu ataukah masih butuh waktu di kemudian hari. Bagi saya, anak pertama ini memang cukup membuat diri banyak belajar 🙂

Tema yang saya angkat dalam melatih kemandirian anak adalah sebagai berikut :

Self help ini basicly buat dia lebih mudah untuk menyiapkan dirinya dalam upaya membangun rutinitas keseharian, yang kita tahu bahwa masa depan kita dibangun oleh rutinitas-rutinitas/kebiasaan. Konon kata para pakar parenting, anak balita ini hanya perlu dibiasakan atau setting waktunya untuk mendapatkan pola hidup. Sehingga seandainya tidak kita pola, maka ia akan terpola oleh kebiasaan yang buruk.

Disana saya letakkan bangun pagi, mandi pagi, gosok gigi, makan sendiri sebagai urutan pertama. Sebab hal inilah yang membuka waktu untuk kebaikannya di jam-jam berikutnya. Kemudian pola komunikasi juga perlu saya teruskan, terutama pada game level 1 lalu yang belum tercapai dan penting menurut saya ‘yaitu menyampaikan keinginan dengan baik’ sebab saya sadar, ini anak batita masih butuh belajar kosakata, emosi, ngomong dengan baik, tidak terburu-buru, jelas dan itu tidak bisa sim salabim, itulah kenapa saya masukkan kedalam self helpnya dia.

Kemudian hal yang berkaitan dengan dunia sekolah (rencana di usia 5 atau 6 tahun mendaftar kuttab- dan ini perlu dilatih dari saat ini) yaitu mengenal tauhid, membaca buku, berani tidur di kamar sendiri (persiapan untuk punya adik nanti) dan paling penting adalah toilet trainingnya. Memang saya akui ini toilet training merupakan produk gagal yang saya ciptakan sejak masa kecilnya yang di masa silam menggunakan pampers. Idealnya dan sebaiknya tidak menggunakan itu, maka wajar jika anak saya biasakan dengan pampers di masa bayinya maka ketika telat melepas pun (usia 2,8-3 tahun) maka sungguh membutuhkan effort yang cukup lumayan juga. Dan hingga detik ini saya masih kesulitan untuk melatih buang air besarnya, mungkin masih butuh waktu beberapa bulan lagi.

Kemudian adding value ini, merupakan nilai tambah yang saya tujukan agar anak memiliki nilai percaya diri yang baik. Walaupun seandainya tidak tercapai juga tidak apa-apa, setidaknya dengan menstimulus melalui tema tersebut mampu mendongkrak rasa percaya dirinya bahwa dia mampu dan bisa dan suka.

Sengaja memang saya tumbuhkan -jika misalnya tidak tercapai pun tidak menjadi masalah dan tidak pula berpengaruh pada basic skill self helpnya- sebab bagi saya pribadi, anak lelaki memang perlu didongkrak serta diarahkan cara mengolah ‘kreatifitasnya’ agar lebih terarah dibandingkan dengan anak perempuan yang dari segi emosi lebih baik. Terutama anak kinestetik, itulah disana saya arahkan untuk meningkatkan nilai sosialnya dengan bermain bersama temannya, bermain dengan alam hingga skill kerumahtanggaan.

Syahid termasuk anak yang memiliki bakat alam/nature sehingga hal ini membuatnya lebih bersemangat jika dia dipersilahkan untuk berkeliaran di alam, hehe. misalnya dia suka mungutin batu, daun dan bermain hujan-hujanan. Pun demikian dengan memasak (ini sebab suka melihat abinya masak) dan tentu skills kerumahtanggaan juga penting (saya pilih memilah sampah dan mengembalikan barang pada tempat semula) untuk masa depannya.

Bagaimana lika-likunya?

Rasanya cukup nano-nano ketika mendampingi anak, ada hari-hari saya sangat optimal membersamainya namun ada pula hari-hari yang begitu ala kadarnya saja. Ini menjadi PR pribadi untuk saya sendiri.

Terimakasih atas semangat semua peserta di kelas, dan tentu kepada fasilitator tersayang, mba Noni yang sabar dan selalu meladeni kecerewetan atau analitik2 saya yang receh hehe.

Semoga kebiasaan untuk melatih kemandirian anak ini terus istiqomah, sebab ini memang menjadi tugas wajib saya sebaga orangtua. Sebagaimana yang alqur’an sampaikan bahwa masa depan anak sebagiannya bergantung pada pola asuh dan pendidikan yang diberikan orang tua.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (Q.S. Attahrim; 6)

And the last, resume tiap pekan :

List Sepekan 1 (20 April-27 April 2019)
List pekan ke-2 (28 April-4 Mei 2019)
List pekan ke-3 (5-11 Mei 2019)

Sampai jumpa insyaaAllah di next game selanjutnya 🙂

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *