ALIRAN RASA IIP IBU PROFESIONAL

Aliran Rasa Menjadi Member Ibu Profesional

Bismillah..

Salam kenal, saya Khoirun Nikmah biasa dipanggil Nikmah atau Niknik. Saya anak pertama dari satu bersaudara, kelahiran Lumajang Jawa Timur 28 tahun lalu.

Setelah menempuh pendidikan di Teknik Kelautan ITS (angkatan 2009) saya menikah dengan teman seangkatan tapi berbeda kampus, beda usia, beda suku dan provinsi. Namanya Aang Hudaya (IPB46) yang berdarah murni sunda. Singkat cerita, awal menjadi istri dan kemudian tahun 2015 menjadi seorang ibu ini merupakan perjalanan yang absurd dan melelahkan menurut saya. Bagi saya lebih baik mengerjakan soal kalkulus, fisika, hidrodinamika daripada harus mengurus anak. Bagi saya, mengurus anak itu merepotkan sekaligus melelahkan.

Disebabkan di masa kecil saya ada yang ‘tidak beres’ dengan problem bonding bersama ortu (tidak dekat dengan ibu, jauh dengan ayah, dan segala problem perceraian mereka) menyebabkan saya kurang mampu menghayati menjadi seorang ibu tuh seperti apa. Bahkan seringkali saya menangis karena kebingungan yang luar biasa. Ditambah lagi sejak dulu, saya tidak pernah menyentuh anak bayi, bermain dengan anak-anak, kalaupun mengajar les biasanya saya lebih memilih untuk segmen usia SMP-SMA. Benar-benar nol, plus saya tidak punya saudara juga (terutama adik).

Namun saya bersyukur, suami saya berkebalikan. Orang yang sangat sabar, selalu support dan telaten, rajin sekali. Hal itu disebabkan karena dia sudah terbiasa merawat tujuh adiknya yang usianya dempet-dempet. Sehingga merawat anakpun sangat lihai.

Singkat cerita, tahun 2016 ada kawan yang bilang kalau dia ikut kelas IIP. Waktu itu saya cuek aja, ngapain ikutan kelas, saya enggak punya waktu. Setahun kemudian, suami saya bilang kalau ‘saya merasa sendiri’ (ini efek perpindahan domisili yang begitu cepat) lebih baik berkomunitas bersama sesama ibu-ibu. Karena dasarnya saya orang introvert, enggak suka keluar rumah dan justru lelah jika bertemu tatap dengan banyak orang maka saya ditawarilah untuk ikut yang online aja. Jadi, saya ikut IIP ini atas dasar rekomendasi dari suami, hehe.

Sebelum masuk kelas IIP saya cleansing innerchild mandiri kurang lebih setahunan. Sebelumnya saya pernah konsultasi ke psikolog di awal 2014 sebelum menikah. Ternyata inner child itu memang perlu didamaikan dulu supaya saya bisa lebih fokus menjalani aktifitas harian. Dampak dari inner child yang belum tuntas, membuat saya tidak produktif, tidak fokus dan juga sering membuat keputusan yang salah (refleks).

Pada akhir tahun 2017, bulan Desember saya ikut pra-matrikulasi. Di kelas tersebut saya mengikuti tantangan menulis 3 hari berturut-turut. Kemudian lanjut kelas matrikulasi di januari 2018, masuk angkatan 5. Disini saya mengerjakan NHW 8 pekan lamanya setiap hari rabu, saya dokumentasikan disini (NHW Matrikulasi). Sayangnya selesai kelas, saya ketinggalan pendaftaran kelas BunSay (angkatan 4) maka saya pending hingga akhirnya bisa masuk di angkatan 5, Alhamdulillah.

Di kelas Matrikulasi lalu, saya bisa menuliskan kembali Visi-Misi Keluarga ketika mengerjakan NHW 2. NHW itu berkesan menurut saya karena mendorong kembali untuk melangkah lebih terukur, lebih baik dari hari ke hari. Menjadi pengingat diri tepatnya.

Di akhir kelas, saya juga sempat ikut student exchange (masa matrikulasi). Menurut saya, ini pengalaman unik bisa mengenal Ipers di wilayah lain.

“Ketika kamu hanya akan melakukan apa yang kamu bisa dan hanya apa yang kamu tahu, maka dirimu haya bisa melakukan hal – hal yang biasa. Namun sebaliknya, jika berani mencoba maka dirimu akan mendapatkan hal – hal yag luar biasa.”

Sebelum pembukaan kelas Bunsay saya juga sempat masuk nominator change maker family di wilayah Bogor (masuk 3 besar dan diundang waktu wisuda matrikulasi batch 6).

Kegiatan sehari-hari, apa?

saya Full di rumah, main sama anak, baca buku, nulis-nulis, kadang bantu ngajar di PAUD (jadi relawan) dan mengurus Gemar Rapi. Gemar Rapi ini menjadi bagian dari passion yang dikombinasikan dengan cita-cita. Saya ingin menjadi bagian dari solusi di negeri ini walaupun sak dulit (sedikit sekali) namun semoga menjadi pemberat amal di akhirat kelak. Gemar Rapi murni dibangun sebagai metode berbenah Indonesia, ini menjawab dari kesaklekan metode KonMari yang saya geluti sebelumnya.

Kembali ke IIP, dengan ikut komunitas Ibu Profesional ini mampu membuka dan mendongkrak kapasitas saya sebagai seorang ibu walaupun hanya berada di rumah. Saya enggak bosan lagi karena jadi lebih sering membaca, menulis untuk memenuhi tugas yang diberikan fasilitator. Hal ini berdampak positif kepada tumbuh kembang anak dan keharmonisan keluarga kecil saya.

Dengan ikut kelas juga menjadikan saya semangat mengisi blog ini juga (karena sejak awal memang menggunakan blog sebagai media pengumpul tugas).

Selain berada di grup wilayah IP Bogor, saya juga ikut grup rumah belajarnya (walaupun masih online, belum pernah ikut yang offline). Karena hobi menulis, saya ikut satu rumbel : menulis. Disana saya jadi aktif lagi nulis -terutama fiksi- sehingga menghidupkan akun wattpad saya. Dari 2016 ternyata saya sudah punya akun wattpad, sebelum ikut rumbel hanya saya gunakan untuk membaca karya oranglain saja. Namun kini saya mulai publish cerita disana.

Untuk karya, di IP Bogor belum nampak hilalnya hehe. Saya hanya mampu berbagi apa yang saya pahami seperti topik berbenah, inner child, mindfulness dan self therapy. Untuk buku, baru ikut yang cernak (dari rumbel Menulis) yang kini prosesnya sedang diilustrasikan.

Untuk karya di luar IIP, saya menulis di beberapa penerbit. Salah satunya Bentang Pustaka. Tahun lalu menulis buku non-fiksi KonMari Mengubah Hidupku (2018) dan tahun ini launching buku Gemar Rapi oleh penerbit yang sama, Bentang. Itu non-fiksi, kalau buku fiksi masih progress menulis novel (yang enggak kelar-kelar dari awal tahun, semoga ada mood untuk menyelesaikannya).

Untuk karya lain, saya marathon menulis buku antologi bersama tean-teman di Nulis Yuk batch 22. Masih proses semua, rencana ada 2 buku.

Selain itu, juga ada penerbit lain yang sedang marathon saya kerjakan juga naskahnya. Menulis solo, karena memang lebih mudah mengutak-atiknya (dibandingkan dengan antologi).

Saya ingin belajar lebih baik dan konsisten dalam segala hal yang itu baik, hal itu bisa saya kerjakan -salah satunya- dengan mengikuti kelas Bunda Sayang saat ini. Di kelas lebih membuat saya ‘berpikir’ bagaimana konsistensi bisa terbentuk melalui kebiasaan kecil yang berdampak (small/micro/mini habits loop). Saya ingat apa yang Ibu Septi katakan ;

Bersungguh-sungguhlah dalam mendidik anak dan mengelola keluarga, maka kita akan dihargai dengan kesungguhan itu. Jangan pernah risaukan materi, selama kita bersungguh – sungguh menjaga amanah-Nya. Karena Sang Pemberi Amanah selalu menyiapkan satu paket dengan rezekinya, tugas kita menjemput rezeki itu dengan sungguh-sungguh, dan tetap memprioritaskan diri untuk tetap menjaga amanah-Nya dengan baik.

Maka menjadi seorang ibu memang tidak perlu cemas, cukup bersungguh-sungguh dalam belajar, memperbaiki diri dan fokus kepada keluarga maka saya yakin insyaaAllah itulah surga yang dijanjikan Allah kepada kita. Demikian aliran rasa dri saya,

Salam, Khoirun Nikmah

Bogor-11 Juli 2019 18:28 WIB

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *