EDUKASI

Bencana Kemanusiaan : Gejala Alam atau Hukuman Tuhan?

Hari ini saya mengikuti seminar tentang kebencanaan. Maklum sudah lama nggak mengulik materi ini, pada waktu kuliah mitigasi bencana dulu sudah lupa dan filenya juga entah kemana 🙁

Akhirnya saya ikut, soalnya masih banyak masyarakat setiap kali ada kejadian bencana responnya seperti ini :

“Argh, rasakan itu mah orang yang syirik, kena azab tuh”

atau

“Ya siapa suruh tinggal di daerah rawan bencana, gunung itu meletus suka-suka mereka lah. Udah waktunya juga.”

Dan berbagai percakapan lain, baik yang menghubungkan dengan takhayul maupun yang super sekuler. Lantas, bagaimana alqur’an menjelaskan fenomena ini? Bagaimana kita menyikapinya jika bencana terjadi?

Alhamdulillah bersama pakarnya langsung, beliau adalah Dr.Eng Yunus Daud, Dipl.Geotherm. Tech, M.Sc. dari Universitas Indonesia yang merupakan Ahli Geothermal Indonesia. MasyaaAllah.

Dengan pembawaan yang cukup ringan, kocak namun sangat runut serta ilmiah beliau menyapa semua yang hadir. Baik dari siswa smart ekselensia maupun dari peserta umum.

Setelah dibuka oleh Mas Eko dan didampingi oleh moderator, Pak Yunus yang biasa disapa dengan Ustadz Yunus memulainya dari alquran surat al-alaq 1-5

Didalam alqur’an surat al-alaq disebutkan iqro’ hingga 2 kali. Ustadz Yunus mengatakan bahwa “Janganlah kita memisahkan ilmu pengetahuan dengan alqur’an, sebab segala sesuatu yang sudah tercantum didalam alqur’an sudah jelas kebenarannya. Terbukti para saintis banyak yang mengimani alqur’an setelah tahu bahwa apa yang ditelitinya sudah tertera pada alqur’an 1,500 tahun lalu.”

Didalam al-alaq dijelaskan bahwa kita disuruh baca. Baca apa?

ada 2 perintah baca, yaitu membaca alam semesta (kauniyah) dan membaca ayat-ayatNya didalam alqur’an yang mulia (qauliyah).

Allah yang Maha Mulia menurunkan alqur’an yang mulia yang dibawa oleh malaikat yang mulia (jibril) untuk Nabi yang mulia (Muhammad), maka bisa dipastikan bahwa siapa saja yang mengikuti alqur’an maka hidupnya akan mulia.

Buktinya apa?

Peradaban manusia yang super modern saat ini menemukan berbagai kesimpulan sains (empiris = bisa dibuktikan), tanpa manipulasi jika melihat dengan jelas itu semua sudah ada didalam alqur’an. Termasuk pada al’alaq yang menjelaskan tentang arti al-‘alaq (bahasa indonesia : segumpal darah, namun bahasa ‘arab artinya : sesuatu yang melekat) sesuatu yang melekat ini terbukti setelah ditemukan mikroskop canggih hingga meneliti keberadaan bakal manusia didalam rahim yakni ialah sesuatu yang melekat, kokoh (yang akan menjadi janin manusia) masyaaAllah.

Pun dengan ilmu fisika, bilogi, kimia, geografi dan segala cabang ilmu semuanya ada didalam alquran bahkan masih banyak ayat yang belum mampu manusia pecahkan maksudnya 🙂

Bisa cek juga di Surat Fushilat : 53

Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al Quran itu adalah benar. Tiadakah cukup bahwa sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?

dan Hasyr : 21.

Kalau sekiranya Kami turunkan Al-Quran ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan ketakutannya kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir. — Surat Al-Hasyr Ayat 21

Alam semesta ini diciptakan harmoni, apa buktinya?

  1. bisa kita cek betapa rapi, teratur, seimbang dan kokohnya bumi ini (Al-Mulk : 1-3, Ar-Rahman : 7-8)
  2. Bumi diciptakan dalam kondisi yang siap untuk hidup dan kehidupan manusia serta makhluk hidup yang lain. (Al-Baqarah : 22)
  3. Bumi Tunduk dan patuh pada kekuasaan Allah, bersujud dan tasbih padaNya. (Al Hajj : 18)

Ada beberapa fakta menarik tentang indahnya alam dibalik ‘bencana’ gunung api.

Indonesia merupakan negara yang memiliki potensi geothermal yang besar, hampir 40% potensi di dunia ada di Indonesia semua (terbukti dikelilingi oleh gunung, berbaris rapi. Kecuali kalimantan, namun di Kalimantan juga ada potensi bencana angin).

Gunung-gunung itulah yang menyebabkan tanah di Indonesia sangat subur sebab adanya magma yang keluar (lava) yang membawa banyak mineral penting untuk kesuburan tanah. Adapun lahar (partikel/dust, pasir batu, abu vulkanik) juga menjadi potensi yang menguntungkan untuk lingkungan.

Dan juga keluarnya batuan yang cantik-cantik dari dalam gunung api, juga tembaga, emas, perak, serta besi.

Belum lagi potensi pemandangan yang indahnya alam, misalnya danau toba, danau 3 warna di flores, dan blue fire di kawah ijen. Belum lagi keindahan bawah lautnya, pantainya. Luar biasa.

Lantas, bagaimana persepsi kita seharusnya terhadap bencana (sebagai orang beriman dan berfikir)?

Alam semesta ini diciptakan Allah selalu ada manfaatnya, itulah kenapa jangan sampai kita memandang sesuatu dari satu sisi negatif saja. Sebab alam semesta ini merupakan anugerah dari Allah.

Jika dilihat secara sekilas, seolah-olah gunung api meletus itu menyebabkan bencana. Memang betul, namun gunung api meletus juga memuntahkan mineral yang bermanfaat untuk kehidupan.

Secara alamiah, segala fenomena alam ini merupakan sunnatullah (memang Allah desain seperti itu, alamiah, tanpa intervensi apapun jika waktunya terjadi pasti terjadi) bahkan seorang pakar sekalipun tidak mampu meramal kapan terjadinya gempa, tsunami maupun angin/topan. Secanggih apapun alatnya, tidak ada yang mampu untuk menentukan kapan waktu yang tepat bencana itu terjadi.

Alam semesta mengandung ujian dan teguran, didalamnya ada anugerah yang luar biasa sekaligus bencana. Sebagaimana didalam ayat ..basyiron wa nadziron.. artinya ada kesenangan (tanah menjadi subur dengan adanya gunung api, mineral banyak, potensi sumber daya aam yang luar biasa) dan juga bencana (gempa, tektonik, tsunami, gunung meletus dll). Maka, sikap kita seharusnya adalah :

  1. menyadari setiap kejadian merupakan anugerah sekaligus bencana yang perlu kita gali ilmunya. Sebab ada bencana yang memang sunnatullah (Indonesia terletak pada posisi berbagai lempeng benua dan lempeng samudera, secara logika wajar jika akan selalu ada pergeseran dan gempa. Menurut Ustadz Yunus, setiap tahunnya bergeser sepanjang 12 sentimeter- bisa dipelajari, ilmiah- maka jika terjadi momentum : massa kali kecepatan itulah yang kita harus sadar itu pasti terjadi, namun kapan? itu rahasiaNya).
  2. Jika sudah terjadi bencana, apa reaksi kita? bersyukur atau justru kufur? disinilah letak pentingnya ujian yang datang, agar Allah tahu mana yang benar imannya dan mana yang rapuh.
  3. Ada juga bencana yang memang dijadikan teguran untuk manusia, yakni bencana yang memang diakibatkan oleh ulah manusia sendiri (misalnya banjir, sunnatullah air pasti mengalir dari atas ke bawah, namun jika yang diatas -hutan- digunduli maka wajar jika kemudian terjadi banjir dan longsor. Juga global warming, efek rumah kaca, peningkatan karbon monoksida yang melubangi ozon, luas hutan yang makin berkurang, boros energi, dll menyebabkan cuaca ekstrim. Namun di luar banjir, longsor dan cuaca ekstrim semua itu sunnatullah memang sudah ada sejak bermilyar milyar tahun sebelum manusia ada. Bisa dicek di ilmu antropologi, di satu sisi Alquran juga sudah mengabadikan tentang manusia-manusia yang melampaui batas sehingga Allah tegur langsung.)

Demikian tulisan singkat dari pemaparan Ust.Yunus tadi siang, padahal banyak penjelasan menarik lainnya namun tidak bisa saya tuangkan semua disini sebab keterbatasan diri untuk menuliskan serta mencatatnya 🙂

Wallahu’alam. Semoga semakin membuat kita berfikir dan meningkatkan keimanan kita padaNya 🙂

Amin..

1 thought on “Bencana Kemanusiaan : Gejala Alam atau Hukuman Tuhan?”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *