DAILY

Berbicara adalah Solusi

Sudah sangat lama saya tidak melihat televisi, keluarga saya memang tidak memiliki televisi. Dari masa sekolah hingga kuliah hingga saat ini berumahtangga saya dan suami tidak pernah melihat televisi karena terbiasa sejak kecil tanpa TV juga tidak punya banyak waktu untuk melihatnya. Dan juga  harapan kami agar anak-anak kelak tidak bergantung pada benda kotak hitam yang bisa menghabiskan waktu atau menghilangkan produktifitas itu. Namun walaupun hidup tanpa Televisi, saya masih mengikuti berita dari portal online maupun dari berita yang seliweran di timeline facebook saya, mulai dari kasus perebut laki orang (pelakor), korban persekusi (pembakaran di Bekasi), hingga kasus kekerasan, bullying.

1076x616-5-movies-about-bullying

Sedikit mengelus dada, kenapa selalu ada berita seperti itu. sadar diri bahwa ini di dunia, tempat berbagai macam ujian maka hal tersebut wajar, tinggal bagaimana kita menyikapinya. Saya sendiri pernah menjadi korban bullying saat SD. Waktu saya SD, pelaku bullying biasanya mereka anak-anak orang kaya, sok merasa memiliki kekuasaan (bahkan gurupun tidak berani menegur- sebab orangtuanya kaya raya donatur sekolah) hingga karena sombong bersebab hal  tertentu (misalnya cantik fisiknya, kekar badannya, dll.).

Zaman dulu, bullying dilakukan saat pulang sekolah atau jam istirahat, sederhana hanya saling lempar ucapan tidak layak (misalnya waktu itu dikatakan hidung pesek, maka saya balas mereka dengan anak bodoh –nilai rapor jelek) atau saling sindir (misalnya saya yang tidak punya bapak, mendapat ujaran ‘anak nggak jelas’ dll). Intinya bullying kala itu tidak sampai beradu fisik. Berbeda dengan berita dan video yang tersebar di media sosial, melihatnyapun terasa ‘panas’ air mata dan sesak melihat tingkah polah generasi muda zaman ini. Bahkan ada yang meng-upload dengan bangga di facebook atau instagramnya tanpa rasa takut diviralkan atau mendapat hukuman sosial. Dimanakah moral dan (minimal) rasa malu mereka berada?

13000874

Bullying ternyata tidak hanya terjadi pada anak-anak atau usia sekolah lanjutan, di masyarakat sikap ini kerapkali menimbulkan konflik horizontal. Tawuran antar warga kampung (seperti di Cibinong, Ciapus dan Cikaret), antar pendukung bola, antar pelajar, mahasiswa  hingga antar tetangga. Sikap-sikap kasar, mencaci yang berujung adu fisik kerapkali terjadi disebabkan adanya penyulut masalah. Pola pikir, mental dan karakter yang buruk serta kelainan jiwa menjadi pemicu bullying.

Di era digital ini, karena tidak harus dengan kontak mata atau bertemu langsung untuk melancarkan aksi bullying. Maka sangat mudah orang membully oranglain. Justru hampir 80% perilaku bullying yang berakhir pada kekerasan fisik atau melukai badan korban berawal dari adu mulut di dunia maya (cyberbullying). Kemanakah jiwa-jiwa nasionalis patriotik generasi dan masyarakat kita? Padahal sudah utuh dan lengkap ada pada dasar negara ini berdiri. Inikah akibat sejarah dan penanaman nilai pancasila hanya sampai pada text book? Aplikasinya : nol.

cardboard_robot

Direktur Rehabilitasi Sosial Anak Kemensos Sosial Nahar juga mengatakan kalau tahun ini pihaknya semakin banyak menerima laporan bullying dibandingkan tahun lalu. Total laporan yang kami terima sampai Juni 2017 sebanyak 976 kasus. Sekitar 400 kasus mengenai kekerasan seksual dan sekitar 117 kasus mengenai bullying, sedangkan kasus anak dengan hukum sekitar 214 kasus dan anak terlantar sekitar 165 kasus.

Walau mengalami kenaikan, namun Nahar berpendapat, hal itu tidak mengartikan tingkat kekerasan tumbuh. Data tersebut justru memperlihatkan bahwa tingkat kesadaran masyarakat untuk melaporkan kasus kekerasan semakin tinggi, yang mengkhawatirkan justru jumlah yang tidak melaporkan.

minimal-desktop-wallpaper-speak-up

Lantas bagaimana kita bersikap jika mendapatkan peristiwa kekerasan atau menemukan kasus tindak kekerasan (baik secara moril maupun fisik) ?

Saya melihat dari dua sisi pandang, yakni dari segi pelaku dan segi korban.

  1. Segi pelaku

Kenali diri sendiri, ini penting karena jika tidak mengenal diri, tidak tahu potensinya apa dan hidup untuk apa maka akan menjadi kesalahan besar dalam hidup. Ingat, hidup muda atau berkuasa tidak selamanya. Roda terus berputar, maka gunakanlah waktu yang lapang untuk belajar menata masa depan. Hidup juga bukan sekedar hidup, namun persiapkan juga untuk bekal ke akhirat.

Jika merasa memiliki hal di luar kendali misalnya faktor psikologis. Gangguan psikologis seperti gangguan kepribadian ataupun gangguan emosi maka carilah peneyebabnya, konsultasikan ke orang yang lebih paham. Bisa ke guru BK, orangtua atau pakarnya. Jika kamu emosi karena berbagai masalah yang dihadapi lebih baik tulis atau BICARA pada orang yang bisa memberikan solusi, bukan teman sebaya atau orang yang labil ya.

Dan ingat, belum tentu masa depan kalian yang suka membully teman atau bersikap kasar kelak lebih baik dari orang yang kalian bully/sakiti.

3D colourful people talking

Pun biasanya bullying terjadi juga dipengaruhi oleh toleransi sekolah atas perilaku

Bullying. Contoh sikap guru, dan faktor lingkungan yang lain. Selain itu, lingkungan keluarga juga mempengaruhi perilaku bullying. Maka ada baiknya setiap awal masuk sekolah atau ketika di rumah (bisa difasilitasi oleh guru atau orangtua) untuk menuliskan TARGET, TUJUAN HIDUP, NILAI-NILAI dan mengajarkan CARA BERKOMUNIKASI serta pendidkan agama ketika anak sudah beranjak remaja. Hal ini meminimalisir terjadinya kekerasan dan konflik emosi. Sebaiknya setiap anak atau orang yang mudah tersulut diberikan terapi atau cara untuk menyalurkan emosi dengan cara BERICARA YANG BAIK.

  1. Segi korban

Jika kamu merasa dibully atau bahkan menerima perlakuan tidak layak, maka BICARA adalah solusinya. Bagaimana cara agar perlakuan itu berhenti hanya dengan satu cara yaitu : BICARA atau LAPORKAN pada pihak yang berwajib, bisa ke orangtua atau jika takut bisa menulis di lembaga khusus yang profesional menanggapi setiap kasus. Bisa klik di https://lpsk.go.id/

LPSK

Kenapa BICARA?

Kalian yang masih labil, takut dibalas sadarlah jika tidak segera dituntaskan masalah tersebut akan menjadi borok di masa depan, umumnya korban bullying akan ragu dalam bertindak karena kepercayaan dirinya dikikis saat masa kanak-kanak atau remajanya. Bahkan sosok dewasa pun akan terjerembab menjadi sosok kekanakan jika hal ini tidak dituntaskan. pun dengan Anda yang sudah dewasa, bicaralah pada ahlinya, jangan mudah tersulut jika ditakut-takuti. hukum di negara ini masih hidup. Maka : BICARALAH. Selain menyelamatkan diri sendiri, juga menyelamatkan bangsa ini dari kebobrokan moral. Karena bullying sangat merusak produktifitas anak bangsa.

 

Oke, semoga artikel ini bermanfaat. Ingatlah, masa mudamu sebelum tuamu, masa lapangmu sebelum masa sempitmu. Setiap detik bergerak cepat, tak ada gunanya jika memendam masalah dan menutup diri.

 

Salam

Khoirun Nikmah, S.T

Bogor – jawa barat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *