EDUKASI

Bijak Bermedsoc

Akhir-akhir ini saya merenung, dalam waktu 24jam saya hitung berap jam menggenggam smartphone? Jika jumlah jam lebih banyak daripada waktu ibadah dan produktifitas, wah sepertinya sia-sia ya. Apalagi mata ini sering ‘tidak sadar’ mengikuti timeline yang seliweran tiada henti. Mulai dari postingan viral agama, politik, pendidikan hingga obrolan nggak jelas.

maka ketika senin kemarin Hp saya tetiba mati tanpa sebab, otomatis panik tapi saya segera sadar. Mungkin ini teguran ‘ke-sekian kalinya’ untuk tidak berlebihan dalam menggenggam Hp (dibandingkan menggenggam ‘hati atau perasaan’ anak).

Ya, saya sebagai ibu rumah tangga sangat menyadari -walaupun saya tidak menyediakan televisi di rumah- waktu untuk anak dan membaca bisa berkurang bahkan sangat kurang saat menggenggam HP. lantas bagaimana dengan bisnis dan komunitas yang dikelola? bagi saya ini hanyalah masalah manajemen waktu dan manajemen diri. Setidaknya siang ini saya ingin mengungkapkan banyak hal di facebook namun tak sampai hati, toh nanti tenggelam di timeline. lebih baik saya tuangkan kesini.

Pertama, banyak hal yang mengusik pikiran tatkala membaca status. Apapun itu. Mulai dari politik yang makin memanas, isu agama hingga segala sesuatu bentuk opini. Saya tekankan pada diri sendiri ‘jangan mudah terpengaruh’ pada sesuatu yang beredar. Misal kemarin emak-emak ngeviralin beritanya Ahok yang gugat cerai Veronika, what? apa-apaan ini. Apa gak ada kerjaan lain selain mengomentari hal-hal nggak penting itu. dan bodohnya, kenapa say aikutan membacanya? (walaupun nggak komen, ngga ngelike- whats?!)

Kedua, sesuatu yang viral belum tentu benar. Konsep tabayun dalam islam wajib kita lakukan. Dulu banget saat saya masih menggebu-gebu sering banget ngeviralin sesuatu yang belum jelas kebenarannya. Maka hal tersebut menjadi pelajaran penting untuk diri saya pribadi bahwa setiap diri kita wajib memiliki prinsip. Prinsip ini yang ada pada sifat integritas diri. Jika hilang integritas, maka hilanglah semua.

Ketiga, ini jaman memang jaman menggenggam bara api. maka sebaik-baiknya pai yang digenggam memang hanyalah islam, iman. Caranya tingkatkan kualitas diri, demi islam. Islam ini suci, saat ini sudah diobok-obok dan mulai dikikis dihancurkan secara massif oleh berbagai pihak. Maka jika diri kita masih kurang memiliki nilai islam, maka janganlah mengatasnamakan islam. Apalagi hingga men-tahzir oranglain. Naudzubillah, Teruslah belajar!

Keempat, setiap orang memiliki pengalaman, latar belakang, pengethuan, ilmu dan wawasan yang berbeda,. Maka wajar berbeda dalam hal sudut pandang. Jangan menggeneralisir sesuatu. Saya sudah mengalami hal tersebut saat dulu menggenalisir bahwa semua laki-laki jahat, mirip bapak, biadab, dsb. Saya tidak mendapatkan pengalaman baik apapun terhadap makhluk laki-laki, kebencian itu mematikan. Bahkan kenal dengan lelaki dalam dunia nyatapun saya selalu berfikir negatif. maka ini harus diubah. Pun siapapun kita, jangan berlebihan. Mislanya membenci seseorang atau ilmu atau sesuatu sebab masa lalu, ah saatnya move on. Jangan pernah seperti umat yahudi, yang mereka ‘awet’ dalam mendendam pada suatu kaum hingga berabad-abad turun menurun generasi.

Terakhir, ini demi ‘kesehatan jiwa’. Benar zaman ini sangat rawan jika kita tidak mempedulikan jiwa diri kita sendiri. Sibuk mengurusi oranglain, sibuk mengomentari oranglain padahal diri sendiri tak jelas. Bagaimana jiwa kita supaya tetap ‘on the track‘ jangan sampai menyimpang dari fitrah manusia. Disinilah setan sering membisikkan sesuatu hingga mengalir kedalam darah. naudzubillah. Maka sejak awal tahun ini saya menghindari membaca timeline-kecuali gak sengaja- sebab dampak dari membaca status ‘negatif’ yang sering seliweran di beranda Fb itu sangat mempengaruhi pikiran. Lebih banyak saya membaca buku denga nsuasana ‘spark joy’ didalam rumah sambil membersamai anak,

Zen stones
Zen stones in water

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *