IBU PROFESIONAL

Change Maker Family : Keluarga Berbenah

Assalamu’alaikum wr. wb. Blog ini aku tujukan kepada tim IP Bogor yang sedang mengadakan sayembara Change Maker Family. Kebetulan pagi tadi langsung scroll down dan pas baca ada sayembara. Kemudian jiwa kompetitifku muncul, “wah ini kriterianya memenuhi nih, coba deh ikut siapa tau menang”

Kriteria tersebut adalah

  1. mempunyai target perubahan pada tahun 2018
  2. ikut berkontribusi di lingkungan masyarakat
  3. sedang atau sudah merintis gerakan perubahan

Nanti 3 hal itu akan aku jelaskan kenapa keluargaku masuk kedalam 3 kriteria itu. Agar enak aku gunakan #KeluargaAangHudaya di setiap penjabarannya, semoga diterima hehe

Sebelum masuk menjadi bagian dari “change maker family” lebih jauh lagi kita jalan-jalan dulu tentang pandangan diri, pernikahan dan keluarga. Bahwa semua itu ngga akan bisa terwujud dari 3 kolaborasi itu : individunya, jenjang pernikahannya dan juga keluarga.

#KeluargaAangHudaya yang terdiri dari suami (Aang Hudaya), istri (Khoirun Nikmah) dan tim supoorter : Syahid Al-Fatih (putra pertama kami-3yo) memang mengawali menjadi keluarga berbenah dari individu dulu. Ketika kami masih kuliah (berbeda propinsi, jurusan, suku, minat, jarak) pada waktu itu mencoba ‘memantaskan diri’ agar bisa sefrekuensi. Kemudian mantap bahkan sebelum kami berdua lulus, sudah meniatkan untuk segera membentuk keluarga dengan pernikahan dan inilah momentum sebenarnya dalam berproses untuk menjadi keluarga yang menggerakkan perubahan. Dengan sangat sederhana pernikahan terlaksana, 19 Agustus 2014.

Seiring waktu berjalan, passion yang sejak masa single kami terapkan juga yaitu menerapkan konsep 5R/5S di rumah agar nampak rapi dan menyenangkan. Kemudian mengenal KonMari dan share metodenya awalnya secara individu kemudian mengajak beberapa senior untuk terus mengembangkannya dan kini komunitas tersebut bertransformasi menjadi Organisasi Gemar Rapi yang didirikan oleh 5 orang (2 didalamnya saya dan suami).

Nah, kembali ke poin 1-3 yuk.

Pertama, mempunyai target perubahan pada tahun 2018

Orang mana sih yang stuck di tempat? pasti semuanya ingin mempunyai perubahan. Pun demikian dengan #KeluargaAangHudaya .

Pada 2018 (yang sudah di penghujung tahun ini) sudah mulai terealisasi satu demi satu target yang kutuliskan pada 2017 lalu.

Secara individu, per januari 2018 target itu terwujud. Mulai dari memiliki sertifikat student Marie Kondo, menerbitkan buku, menemukan partner yang cocok untuk komunitas (pada waktu itu mulai meminta petunjuk padaNya agar memantapkan hati dan mengukuhkan hati dikuatkan dengan orang yang sefrekuensi), menerbitkan buku #KonMariMengubahHidupku hingga berjumpa dengan beberapa coach mulai self healing, selftalk hingga self improvement semua itu dituliskan dan terwujud bersama #KeluargaAangHudaya.

Dan target didalam keluarga di rumah juga terwujud ceklisnya walaupun belum sempurna, misal membuat jadwal gadget time ke anak, tanpa TV tapi masih ada laptop – dan ini kalo lagi pakai laptop suka direbut anak wkwk- serta target baca buku serumah (semacam kompetisi dengan pasangan). Tahun ini sudah membeli buku lebih dari 30 judul dan membaca 45 judul buku.

Selain itu, proses komunikasi, serta tahapan pernikahan juga tertarget.

Mulai dari fase euforia (tahun pertama, masih malu-malu meonglah, egoisentris, adaptasi), kemudian pain (tahun kedua, berdarah-darah menciptakan komunikasi yang efektif dengan pasangan), kemudian 2016-2017 lalu masuk fase ketiga yaitu struggle (ini fase penuh perjuangan, menstabilkan emosi, berproses lagi mencoba hear and listen yang pas dll).

Tahun 2017-2018 ini kami masuk tahap survive yaitu mencari dan menelusuri lagi segala potensi yang kami punya, apa aja harapan ke depan, peta skenario atau planning pernikahan ini dll. Dan saat ini sudah mulai masuk ke tahap kelima -Blessing- dengan memberikan gambaran utuh perjalanan selama ini : pernikahan ini untuk apa, menghadapi emosi diri sendiri, berdamai dengan kondisi, berjuang bergenggaman bersama hingga mampu kompak di luar. Hal sepele seperti manajemen gadget juga sudah mulai diterapkan walaupun trial error juga terpenting progressnya itu kami hargai dan nampak hasilnya.

Kedua, ikut berkontribusi di lingkungan masyarakat

Kontribusi kepada masyarakat ini adalah bentuk rasa syukur #KeluargaAangHudaya- kami berdua agar memiliki nilai kebermanfaatan di sekitar. Walaupun katakanlah rumah masih mengontrak, setidaknya ada yang bisa kami bagikan kepada oranglain. aku pribadi sejak 2016 januari menjadi relawan guru paud di komplek, ngga bergaji namun mencoba melakukan sepenuh hati. Sebab amalan yang mudah adalah dengan memberikan waktu serta ilmu untuk kebaikan oranglain, apalagi anak usia dini sangat membutuhkan arahan agar teroptimalkan tumbuh kembangnya.

Di Paud juga ada class parenting sehingga diharapkan para orangtua juga belajar.

 

Di komplek juga aku dijadikan sebagai sekretaris rumah qur’an, ide awalnya dari teman seperjuangan di lingkaran ingin membuat sebuah lembaga yang terkurikulum terstruktur dengan baik. Di rumah qur’an ini aku belum ngajar, namun hanya bantu merapikan file, membuat proposal atau LPJ ketika ada acara dll. Ngga digaji juga karena murni volunteer, bahkan uang yang diberikanpun (dibagikan dengan dalih sama rata sesama pengurus) tetep aku kembalikan ke lembaga. aku meyakini prinsip bahwa mencari uang itu dengan profesionalitas, bukan melalui lembaga sosial atau yang bersifat volunteer.

Selain itu, sejak lama memang kegiatan kemasyarakatan memang menjadi passion suami. Itulah kenapa ia enjoy dalam bekerja di lembaga sosial Dompet Dhuafa. Ia sendiri aslinya sebagai trainer berbenah 5R sejak singlenya. maka ketika dipanggil untuk mengisi metode berbenah, dengan semangat ia lakukan.

Sedangkan aku pribadi baru mau menunjukkan diri di depan panggung baru awal 2018 lalu, tepatnya 9 januari 2018 pada waktu itu diminta mengisi di majlis kajian di sebuah masjid. Dan semakin hari jadwal kami berdua semakin padat, baik dipanggil kerumah-rumah atau pada acara kemasyarakatan hingga kementrian. Ada yang atas nama individu namun sebagian besar mewakili komunitas.

Selain berbenah, suami juga mengisi acara zerowaste di instansi atau sekolah-sekolah sebagai wujud pengabdian masyarakat sebab ia telah melakukannya di rumah. aku sih tim hore aja 😀

Ketiga, sedang atau sudah merintis gerakan perubahan

Pembahasan ini berkaitan dengan Gemar Rapi yaitu gerakan menata negeri dari rumah dan pribadi. Organisasi ini nggak ujug-ujug berdiri, ceritanya ada disini. Maka per 5 September 2018 gemar rapi dibentuk. Jadi umurnya masih beberapa bulan saja. Sedangkan metode yang beneran full gemar rapi baru akan disampaikan di akhir bulan ini pada acara seminar di BTW tanggal 29 Desember 2018. Untuk kelas gemar rapi dimulai tahun 2019 dengan metode yang super baru dan insyaaAllah cocok untuk orang Indonesia. Dan kami berdua bersama 3 pendiri gemar rapi semakin optimis bahwa organisasi serta metode gemarrapi ini kelak menjadi bagian dari Indonesia seutuhnya.

Berbenah yang Indonesia yaaa gemarrapi ^^

Membuat sebuah perubahan atau gerakan bagi kami dimulai dari unit terkecil masyarakat yaitu individunya. Dari individu-individu ini tuntaskanlah semua dari rumah sehingga ketika keluar dari rumah mampu menginspirasi dan menebarkan energi kebaikan/positif.  Sehingga (kalo pinjam kata ‘Aa Gym) “apakah kita adalah bagian dari sumber amasalah di Indonesia? ataukah menjadi solusi?” bisa kita jawab bersama.

Dan rapi ala gemar rapi ini bukan sekedar berbenah biasa namun yang mampu membenahi individu dan semoga dengan berbenah dan merawat rumah merupakan perwujudan nyata dalam rangka merawat Indonesia.

Dokumentasi Pribadi disini.

Demikian pemaparan 3 poin diatas, semoga tim IP Bogor berkenan membaca. Terimakasih semoga bermanfaat. Wasaalamualaikum wr wb..

2 thoughts on “Change Maker Family : Keluarga Berbenah”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *