DAILY

Flash Back

Perahu kertasku kan melaju
Membawa surat cinta bagimu
Kata-kata yang sedikit gila
Tapi ini adanya
Perahu kertas mengingatkanku
Beratapa ajaibnya hidup ini
Mencari-cari tambatan hati
Kau sahabatku sendiri
Hidupkan lagi mimpi-mimpi
(cinta-cinta) cita-cita
Yang lama ku pendam sendiri
Berdua ku bisa percaya
Ku bahagia kau telah terlahir di dunia
Dan kau ada diantara milyaran manusia
Dan ku bisa dengan radarku menemukanmu
Tiada lagi yang mampu berdiri halangi rasaku
Cintaku padamu…
*sayup-sayup terdengar lagu perahu kertas di mp3, makin membuatku pengen masuk sastra aja (ingat kugy-tokoh perahu kertas)
yah, aku memang memaksakan diri untuk masuk ke suatu bidang hanya untuk mengikuti keinginan (bukan karena bakat). and..mirisnya aku memang gak pernah paham apa yang menjadi bakat/potensi diriku…sejak ku mulai di bangku sekolah esde esempe esema hingga melangkah ke SNMPTN perguruan tinggi.
dan hal itu terjadi padaku hampir puluhan taun (eh, enggak ding, 20 tahun aja kalee :D).. ah tapi itu terlalu lama bagiku.. dan percuma aku menyesalkan itu semua..toh sudah berlalu, dan tinggal selangkah lagi mencapai finish.. (lulus, amiin) 😀

ehmm… ada banyak hal yang bisa kupelajari selama hampir 4 tahun hidup di kota pahlawan ini..

belajar dari angkatan, etos, dan segala manusia yang berkeliaran di sekitarku dan juga berbagai harokah yang aku sempat masuk kedalamnya.. organisasi mahasiswa maupun lembaga dakwah.

empat tahun bukanlah waktu yang singkat, justru cukup membentuk pola pikirku..

disini aku belajar memaknai kehidupan, bahwa hidup ini bukan hanya untuk diri kita sendiri namun justru hidup ini hanyalah untuk beribadah pada Allah SWT. dan kita diciptakan hanya untuk beribadah kepadaNya..

segala sesuatu yang kita niatkan bukan karena-Nya maka akan tertolak.. itulah makna hakikat kehidupan sebenarnya..

terlepas dari ceritaku di atas.. aku hanya ingin sharing masalah keseharianku saja..

selama ini ku menganggap bahwa hidup ini bergantung dari orang yang terdekat dengan kita. namun ternyata tidak benar.

yeah, mungkin selama ini aku  adalah orang yang bergantung pada lingkungan. atau istilahnya ‘terwarnai’ sebelum mampu ‘mewarnai’..yeah, mo mewarnai gimana? aku saja hingga detik kemarin belum tau warnaku sendiri? ehehee…

namun Alhamdulillah setelah melalui proses puanjaaaang dan melelahkan.. sekarang aku tau warna diriku sebenarnya.. yah, aku ini orang yang sulit berubah, sulit move on KECUALI jika diriku sendiri yang menginginkannya berubah 🙂

ya..walopun ku hidup katakanlah di lingkungan baik agamanyapun namun ku bukan orang yang bisa saja menelan mentah-mentah semuanya.. ku harus mencerna sedikit demi sedikit.. jika orang-orang menuntutku untuk segera cepat berubah..bisa saja dengan mudah ku berubah, detik itu juga malah! namun perubahan yang semu!! aku justru nampak menjadi seperti sosok oranglain dan bukan diriku sendiri. jauh dan makin jauh dari hati nuraniku paling dalam..

jujur, aku bukanlah pribadi yang dengan mudah menolak oranglain.. aku ini sungkanan (bahasa jawa), kadangkala ku ingin menarik diri untuk mengatakan ‘tidak’ pada orang yang baik padaku (menolongkulah) namun aku sendiri yang melebur..meleleh..huwa!

finally…aku capek.. aku berubah bukan atas dasar kemauan diri sendiri, sungguh menyiksa pikiran dan jiwa!

so that, mulai kemarin nich..aku memutuskan untuk tegas (walaupun sudah berbagai cara usaha ku lakukan untuk memberikan #kode agar ku bisa menjadi diriku sendiri pada orang di sekitarku) namun baru bulan ini aku berhasil.. hmmm… *menghela nafas lega*

saat ini,,aku bersyukur.. karena Allah sajalah aku berubah.. berubah mulai dari hal yang paling kecil : senyum, ngobrol dengan teman, meningkatkan amalan yaumi, dan beberapa hal yang menjadi kewajibanku selama aku kuliah disini..

bersyukur..dan senantiasa bersyukur.. 🙂

yakin bahwa dari berbagai macam ‘persoalan batin’ ku selama ini..Allah memberiku jalan untuk menjadi sosok yang lebih dewasa…

oia, balik lagi ke perahu kertas…

aku ingin sedikit mengutip kata-kata yang ada di film tersebut yang mencirikan kisah hidupku banget, niichh 😉

Apa yang orang bilang relistis, belum tentu sama dengan apa yang kita pikirkan. Ujung ujungnya kita juga tahu kok, mana yang diri kita sebenarnya, mana yang bukan diri kita. Dan kita juga tahu apa yang pengen kita jalani” -Perahu Kertas 🙂

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *