IBU PROFESIONAL KELAS BUNSAY LEVEL 1

Game Bunda Sayang #BunSay Level 1 #Day 1 : Komunikasi Keluargaku

Waaah daag diig duug nulis ini, secara ini adalah hari pertama pada game level pertama keluarga Aang Hudaya πŸ™‚

Jadi, udah beberapa pekan lalu saya cerita ke suami kalau mau fokus membersamai anak pakai tabel dari kelas Bunda Sayang. Semalam udah mulai sih tapi mau dipost jadi kurang fresh, jadilah pagi tadi start anak bangun pagi saya buat agenda sebagai laporan game pada post blog ini. Target saya bisa melaporkan berturut-turut 17 hari ke depan, sebenarnya 21 hari ya kalau mau bangun habit positif πŸ™‚ tapi intinya saya mau ubah cara komunikasi pada anak.

Selama ini saya sadari cara saya bicara cenderung instruksi gitu ke anak, walaupun itu berjalan juga tapi nggak nyaman juga lama-lama dari sisi anaknya kan. So, pakailah ceklis dari kelas BunSay ini. Tidak mudak mengubah cara berkomunikasi, namun dengan coba di hari pertama ini setidaknya bisa diukur apa bedanya dan dampaknya πŸ™‚

Oia kenapa ngga fokus ke suami? HAHAHAH untuk suami mah gampang, bisa diatur kan udah sama-sama dewasa lah yaa. Paling penting bagi saya ini ngejar ketertinggalan waktu bersama anak dan fokus pada milestonenya. Karena sejak awal niat ikut kelas ini untuk anak maka saya fokus ke depan insyaaAllah untuk anak, dengan cara merangkai poin aktifitas saya bersamanya.

Pagi ini -setelah anak bangun biasanya nih anak suka ngamuk (pusing bangun kayak setengah sadar gitu kann) kadang minta sesuatu pakai teriak -ini efek dia pernah melakukan ini dan kami langsung gopoh jadinya kalau minta pakai teriak. Maka saya susun Agenda hari ini untuk fokus cek emosinya. Alurnya dari mandiin anak dulu, terus sarapan, terus bertanya dia mau ngapaian πŸ™‚

Karena masih 1 anak jadi cukup membuat saya fokus satu πŸ™‚ saya belum bisa membayangkan jika anaknya ada 2 atau 3 entah gimana nilainya hehe..

Oia nama anaknya nih M. Syahid Al-Fatih, usia 3 tahun 8 bulan. Kesulitan selama ini adalah : mengendalikan emosi, menyampaikan keinginan dan sulit mengatakan rangkaian kata yang njelimet.

Pagi tadi (28 Maret 2019) saya sampaikan ke dia, “Hid, sarapan dulu atau mandi?”

Syahid menjawab “mandi mi”

Maka setelah mandi saya jelaskan kalau umi lagi ikut kelas Bunsay dan mau rekam syahid (minta izin nih ceritanya) untuk menilai dia) mbuh dia ngerti apa nggak -_- pokonya ngomong dululah yaa uminya haha.

Syahidnya asyik sendiri -_- baca buku, baiklaah..saya sediakan aja sarapan kalau gitu.

U : umi

S : syahid

U : Hid, mau makan telur atau minum dulu?

S : mam teyul mi (telur yes -_-)

U : oke, oke. setelah itu syahid mau apa?

S : bikin kue

U : wow, baiklah

P. S >> Syahid nih suka bikin kue yaa buibuuu, karena suka liat abinya bikin kuee jadi lebih antusias kepada kue, cara bikin kue dan prosesnya, walaupun dia lelaki -_- alhamdulillah sih daripada mainan gadget kan yaaa

Namun sampai di dapur ternyata oh ternyataa saya tidak menemukan itu tepung dan minyaknya. Akhirnya saya alihkan dia untuk membuat adonan susu cair dulu. Syahid semangat sekali, menuang, mengaduk dan bilang “Mi, uus enaak nyaniis” (Mi, susu enaak, manis)

Karena dia ngebet banget sama tepung dan kue, tetaplah uminya ini didemo

“Miii kue kuee mi ahid mau bikin kue”

Wow, okee! saya ajaklah dia gowes ke warung (Syahid paling suka dibonceng, mancal pakai sepeda pancal) untuk membeli bahan kue >> tepung terigu, minyak goreng seperempat (di rumah kami nggak pakai minyak goreng sawit, jadi kalau untuk mainan aja ya beli sawit tak apalah :D) dan pewarna pandan. Kemudian dia membuat kuenya itu di video di yucubΒ ini.

Jika tidak menonton video saya dokumentasikan juga berupa foto πŸ˜€

Sebenarnya dialog lebih banyak pada saat dia fokus sarapan, ketika mengerjakan sesuatu lebih banyak diam dan bicara sesekali. Mungkin karena anak lelaki ya -_- jadi fokusnya satu.

Ada kejadian menarik waktu membersamainya pagi tadi. Saat ke warung, biasanya dia minta jajanan namun karena udah antusias sama beli tepung dan bahan kue jadinya syahid nggak meminta apapun πŸ™‚ selain bahan itu, artinya memang itulah keinginannya saat kelaur rumah unutk membeli bahan yasudah itu saja. Tidak terdistraksi dengan aneka jajajanan di warung kelontong πŸ™‚ alhamdulillah

Ada juga kejadian ketika susunya tumpah, Syahid dengan antusias mengambil serbet untuk dilap (video di yucub ini) πŸ™‚ ini bagi kami biasa saja namun ada hal yang bertambah hari ini yaitu dia mampu mengatakan “Mi, basah ahid lap yaa” (biasanya jika ngelap yaudah lap aja -_-) mungkin hatinya sedang hepi jadi bisa mengatakannya dengan binar mata yang mempesona uminya #halah πŸ˜€

Untuk kalimat perintah tadi cukup simple, “Hid, ambil sendok, Hid, ambil mangkuk dst” dan dia otomatis mengambil itu berturut-turut, tidak sekaligus.

Dengan mengubah intonasi suara dan menatapnya dengan seukuran badan anak membuat anak lebih lama diajak berdialog. Ini harus dikonsistenkan ya Nik πŸ™‚

Setelah selesai agenda, saya sampaikan terimakasih padanya dan mengacungkan jempol “good job boys!”

Namun saya kritisi juga terkait meletakkan bahan kuenya yang tercecer, alhamdulillah kooperatif.

Baiklah.. itu saja untuk hari pertama ini. Pengamatan dari pagi – siang saja.Β Dari hasil pengamatan hari ini saya buat berupa tabel (dan hasilnya) seperti ini :

Demikian untuk tugas hari ini, insyaaAllah besok kita lanjutkaaan πŸ™‚

Sumber kegiatan hari ini :

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *