IBU PROFESIONAL KELAS BUNSAY LEVEL 2

Game Bunda Sayang #BunSay Level 2 #Day 10 : Melatih Kemandirian Anak

Hari ke-10 Alhamdulillah, tidak terasa sepekan lagi selesai game level 2.

Sabtu, 29 sha’ban 1440 H ini bertepatan dengan segala agenda menyambut bulan suci Ramadhan. Syahid walaupun belum genap 4 tahun, antusiasnya tinggi. Namun kemarin tidak ikut pawai -_- ketiduran padahal sudah pesan ingin ikutan. Hari inipun demikian sebab waktunya habis di perjalanan (estimasi jakarta bogor 2 jam, sampai rumah ternyata lebih dari pukul 5 sore).

Pagi tadi, Syahid semangat bangun pagi, ikut sholat subuh berjamaah ke masjid. Semalam sudah sounding bahwa hari ini dia ikut naik mobil (grab car, syahid nih paling semangat kalau diajak naik mobil wkakaka) untuk ikut agenda di dekoruma jakarta selatan, tepatnya menemani umi-abinya yang mengisi gemar rapi disana.

Berangkat setengah delapan pagi, sampai jakarta setengah 11 siang -_-

Alhamdulillah agendanya berjalan lancar, Syahid sendiri meminta bermain di lantai 1, dia enggak mau diajak naik ke lantai 2, maka saya temani dia sambil memberikan stimulasi terkait kemandirian, motorik, dan juga sosial.

Apresiasi untuk syahid yang dari bangun pagi hingga malam hari tidak ngompol πŸ™‚ bahkan di tempat umum skalipun. πŸ™‚

Syahid sangat betah di lantai 1 dekoruma, disana ada display kamar tidur anak. Komplit dengan mainan, meja kursi belajar dan berbagai buku. Itulah sebabnya dia nggak mau diajak ke lantai dua. saya sampaikan “Hid, umi ke atas ya.” diajwabnya “Nggak mau, umi sini, duduk sini, deket syahid.”

Wkwkwkk, okelah. saya temani sambil terus memberikan edukasi tipis-tipis.

Syahid membaca buku (menebak gambar tepatnya, hehe kan belum bica baca)
Syahid mengikuti arahan saya, menyusun puzzle dan kemudian diangkat diletakkannya diatas meja

Selesai bermainpun, dirapikan itu mainannya πŸ™‚

Tentu pola komunikasi pada level 1 lalu masih sangat relevan, alhamdulillah Syahid sangat kooperatif walaupun cukup gaduh sebab dia memang bertipe kinestetik (saat diajak ke lantai 2, lari kesana-kemari, naik-turun tangga dan bean bag dengan suka cita. Sayangnya momen keaktifan di lantai 2 tidak saya dokumentasikan).

Sempat nangis ketika abinya selesai acara harus lanjut ke acara berikutnya, syahid harus ikut saya pulang, naik grab. Tiba di rumah sekitar pukul 17.00 WIB. Kemudian syahid mengajak ke warung beli susu (sepedaan), mandi dan makan malam. Kemudian bersiap tidur sambil menanyakan “Mi, abi mana?” (sabar yaa, agenda abi hingga malam banget hari ini πŸ™‚ maka saya temani dia, sambil membuat laporan keuangan RQ, transfer sana-sini, dan juga ngetik blog tugas ini).

Syahid sudah memiliki kebiasaan setiap hari membantu saya, mulai dari mengambilkan minum, merapikan sandal sebelum masuk rumah, meletakkan pakaian kotor ke mesin cuci, meletakkan piring, gelas kotor ke westafel, mencuci tangan ketika kotor, bakan memasak pun dia sangat menikmatinya. Sepertinya apa yang dilakukaΒ  ortu itulah yang dia lihat dan tiru. Seperti selalu melihat abinya masak. Sehingga hal hal yang demikian karena sudah menjadi kebiasaan, luput saya apresiasi dan saya sampaikan disini. Hiihi

πŸ™‚ Alhamdulillah dengan doa, kerja bersama dalam satu tim bersama suami yang support untuk melakukan perubahan dari rumah, semuanya menjadi lebih ringan adanya.

Syahid insyaaAllah memang disiapkan untuk menjadi pemimpin, terutama pemimpin kelak sebagai suami, sebagai umat, sebagai khalifah di muka bumi. Pendidikannya dimulai dari rumah πŸ™‚

Laporan hari ini :

adapun untuk pekan ke-2 (terakhir tepat hari ini) :

There are times as a parent when you realize that your job is not to be the parent you always imagined you’d be, the parent you always wished you had. Your job is to be the parent your child needs, given the particulars of his or her own life and nature.

Ayelet Waldman

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *