IBU PROFESIONAL KELAS BUNSAY LEVEL 3

Game Bunda Sayang #BunSay Level 3 #Day 1 : Meningkatkan Kecerdasan Anak

Bismillahirrohmaanirrohim..

Alhamdulillah setelah libur hampir sebulan (terakhir ingat post blog hari terakhir game level 2 tanggal 12 Mei hehe). Masih dalam bulan syawal, izinkan saya memohon maaf lahir bathin (walaupun ini bukan hanya seremonial, harapannya semoga ke depan bisa lebih baik mulai dari nol lagi mencatat kebaikan, amiin).

To the point saja, HAHAHHA lagi on fire (plus ini menjadi sarana jeda diantara tumpukan deadline tulisan yang lain juga不) untuk langsung cusss ke laporan hari ini. Dengan Tema : Meningkatkan kecerdasan Anak.

Berbeda dengan game level sebelumnya yang saya bisa ukur berbagai aspek indikator dan bahkan suka ngemix and matchkan indikator, kali ini beneran suer saya bingung wkwkkw. Dan akhirnya saya bersemedi sejenak, mengamati tingkah pola anak yang semakin aduhai 不

Dari materi dijelaskan macam-macam kecerdasan, teorinya banyak. Namun kita disuruh memilih satu topik kecerdasan dengan project yang tepat sasaran sesuai dengan kecerdasan yang dituju.

Ada beberapa pilihan :

  1. kecerdasan intelektual
  2. kecerdasan emosional
  3. kecerdasan spiritual
  4. kecerdasan menghadapi tantangan

Saya mikir lamaa, buntu. Ingin semua kecerdasan itu saya rangkum, wkwkwk tapi kan jadi gak fokus. Sebenarnya dari kemarin ada niatan untuk meminta pendapat suami, sudah saya siapkan bahannya sayang sekali waktunya enggak pernah match karena jadwalnya mulai padat. Well, saya urai saja dan mengulang teori parenting yang selama ini pernah dipelajari.

Dari 4 kecerdasan itu, akhirnya saya mengerucut untuk fokus meningkatkan kecerdasan emosional anak. Kenapa?

Jika kita memahami kinerja otak, ada istilah wiring. Wiring ini semacam pemasangan kabel, dimana kabel2 ini (susunan syaraf) akan berpengaruh terhadap kinerja komponen. Misalnya jika wiring rasa sedih sebab banyaknya bentakan di masa kecil yang mendominasi, maka ia akan lebih mudah menjadi sosok yang tidak percaya diri, penakut dan tidak mampu memberikan pengaruh ke lingkungan. Atau malah menjadi pusat perhatian sebab ingin membuktikan bahwa dirinya tidak takut (ini berbahaya jika menjangkiti anak yang sudah baligh sementara akalnya -dalam hal ini kecerdasan emosi- belum terasah, ia akan mudah mengikuti teman tanpa memikirkan akibatnya).

Kabar baiknya, semua wiring itu bisa di-rewire (bentuk atau susun kembali).

Rewire itu ibaratnya mengurai kabel2 yg sudah terjalin dan membentuk kabel-kabel baru. Sama seperti orang dewasa, misalnya ingin menciptakan kebiasaan baru.. Menciptakan kenangan-kenangan indah yg baru.. Sebisa mungkin mengurai jalinan yg lama yg jelek-jelek.

Setau saya dalam dunia parenting.. Misal kita bentak anak.. Nah diotak anak terjalin 1 kabel yg isinya ‘bentak’… Bsoknya ngulangin lagi.. Nambah lagi kabel bentaknya.. Pas udah gede, anak akan bersikap sesuai kabel2 yg ada.. Jdnya suka membentak juga. Nah itu teorinya ya, hehehe. Faktanya masih banyak dari kita yang paham teori, aplikasinya masih terseok-seok. *itu mah saya wkwk不

Nah! karena makin maraknya wawasan tentang kabel-kabel itu – alias neuro-parenting maka saya coba untuk meningkatkan kecerdasan anak sesuai tahapannya, dimana pada neuro parenting untuk fase awal pertumbuhan anak ditekankan untuk meningkatkan kecerdasan emosinya dulu sebelum yang lain-lain. Selain itu, sebab anak usia 0-5tahun belum memahami berfikir konkret jadi mengenalkan rasa emosi inipun pakai imajinasi/berfikir abstrak.

Beda berfikir abstrak dan konkret kayak gini :

Syahid anak usia 3 tahun, berfikir kalau tidur itu ya kalau ngantuk. jadi dia bebas tidur dimana saja kalau ngantuk.

Nah, kalau anak berfikir konkret, kalau didalam kamar itu ya artinya ‘tidur’. Atau kalau udah kenal itungan, tidurnya pakai jam. Padahal anak usia balita mana ngerti jam? wkwk不 itu salah satunya, belum lagi jika mengembangkan atau meningkatkan pola pikir abstrak yg lain, insyaaAllah jauh lebih kritis serta lebih kreatif di masa mendatang. Amiin.

Selain alasan diatas, saya juga mau mengukur kemampuan diri sendiri dalam menjelaskan emosi ke anak. Seberapa mudheng/pahamnya anak jika saya ajarkan itu? wkwkwk, semoga lancar tiada kendala. Soalnya justru yang emosi kadang umiknya ini wkwk不

Lalu apa project saya?

intinya ada 5 poin yang saya buat laporannya sebagai berikut :

Day 1- Game Level 3 #kecerdasan emosional

Hari ini Syahid berhasil mengenali emosinya sendiri, yaitu : sakit, sedih, ngantuk/cape dan semangat. Tapi enggak berhasil mengelolanya, dia nangis, masih juga ngamuk/ngambek. Namun di sisi lain dia mau bersemangat dan berempati, yaitu mau membantu saya beberes dan juga semangat menyusun flash card buah yang saya jadikan obyek hari ini.

Di sela-sela bermain, Syahid marah karena flash cardnya tergeser kakinya (berubah tatanan). Saya yang ada di dekatnya segera membuat penjelasan kalau itu geser karena kakinya sendiri, namun dia tidak terima wkwk不 yasudahlah.

Oia ada cerita lucu juga sih tapi kemarin kejadiannya dimana dia punya empati karena abinya pulang malam dan minta pijit kaki.

Syahid : mii ini minyak abi (yg buat pijet malam sebelumnya)
Umi : iya
Syahid : kaki abi sakit ya mi, kulit abi
Umi : oh…itu abi sakit mata ikan hid
Syahid : abi digigit ikan ya mi
Umi : 不不不 bukaaan namanya aja hid
Syahid :

jadi memang sangat polos ya anak-anak itu wkwkk.

Kembali ke topik, “jadi, apa project untuk game level 3 ini Nik?

InsyaaAllah saya akan mengenalkan kemampuan mengenal dan mengelola emosi pada anak dengan “CHEF Project by #keluargaAangHudaya”

Chef disini adalah singkatan dari child can explore feeling melalui project keluarga Aang Hudaya (hestek #keluargaAangHudaya yang saya kumpul biar lumayan banyak di IG saya). Singkatannya pun maksa ya wkwkwk 不 eh tapi itu chef dalam arti sebenarnya adalah koki -juru masak- memang hobinya anak saya dan abinya (Aang Hudaya) jadi sesuailah dengan nama projectnya.

InsyaaAllah kegiatan untuk mendukung tercapainya indikator ‘kecerdasan emosional) nanti selang-seling setiap hari, mulai dari :

  1. making art- painting & drawing (ini udah niat dong saya beli cat air segala wkwk)
  2. messy play- ini bisa dengan masak, bikin playdough maupun main pasir
  3. pretend play- ini pakai mainan yang ada aja, udah cukup
  4. outdoor play- ini yang sederhana aja, biasanya Syahid main keluar ngejar ayam, metik tanaman, daun atau ngumpulin kerikil 不 *eh ini tadi pagi juga dia gitu kayaknya main ke kandang tetangga
  5. reading stories- ini adalah koenjti hehehe, alhamdulillah di rumah ada banyak buku cerita tentang emosi namun saya sendiri belum telaten menceritakan padanya, huhuhu.

Baiklah, itu saja untuk hari pertama ini. Haduh, deg-degan yaa, semoga kuat. 不

Fighting!

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *