DAILY

Hai Sepuluh tahun lalu

Beberapa draft yang siap dipublish disini kutunda dulu, ganti dengan publish tulisan perasaan yang kerapkali lupa kalau gak segera dituliskan.

Beberapa pekan ini pikiranku berkecamuk, bukan sebab masalah melainkan sulitnya meminta izin pada seseorang yang sudah tidak berpijak di bumi ini lagi. Penuh memori, berat tapi butuh kerelaan darinya.

Akhirnya dengan mencoba mengumpulkan visualisasi, foto dan kenangan kucoba ‘berdialog’ dalam hening. Kucoba meminta maaf, mencoba bicara dari hati ke hati dan tentu kuucapka terimakasihku padanya. Tidak mudah memang, namun bukan berarti tidak mungkin.

Nik, kamu ngomongin apa sih?

Kenangan, 10 tahun lalu. Walaupun tak ada satupun benda, barang, bahkan tulisan yang tersisa tapi aku masih ingat itu kuat kuat. Bahkan beberapa kali menghantuiku hingga ke alam mimpi.

Pernah gak kalian merasa tidak kehilangan di saat orang tersebut menghilang?

Hilang jika masih ada wujudnya tak masalah, bisa berjumpa lagi. Namun disini bukanlah hilang menghilang, melainkan pergi untuk selamanya.

Sungguh, telat menyadari peristiwa berharga di momen yang tak akan pernah terlupa. Membuka pikiran dan mata hati seketika. Kemudian aku bisa tersenyum dan menerima apa adanya, semua tanpa kecewa.

Hanya saja ada satu dua hal yang memang tidak sempat terucap. Tidak sempat kusampaikan, apresiasi dari usahanya. Usaha membimbingku sehingga aku mampu melihat sosok Nikmah yang lebih luas sekarang.

Berderai air mataku setiap mengetik kisahnya, namanya yang sampai kapanpun tak akan bisa terhapus begitu saja.

Mungkin inilah saat yang tepat untuk kuungkapkan sehingga menjadi pelajaran berharga.

Bismillah

Sekuat tenagaku, beberapa hari ini kutuangkan dalam tulisan. semoga selesai tepat waktu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *