DAILY

Ibu atau Emak?

Sejak kecil, aku memang tidak dekat dengan ibu. Selain karena sering ditinggal jauh, perceraian dan saat itu usia ibuku tergolong masih sangat muda -masih labil- 20 tahun. Ibuku menikah dengan bapak yang telah berbohong dan dzolim. Pernah kutuliskan di kisahku kenangan pahit di masa kecil sebagai bentuk cleansing melalui tulisan.

Sejak usia dua tahun itulah aku dirawat kakek dan nenek, diasuh dengan penuh perjuangan. Bagaimana tidak, aku terlahir prematur di dukun bayi. Kata emak (panggilan untuk nenekku), jika saja tidak dijemur di keranjang setiap hari bisa-bisa mati kedinginan, membiru. Miris ya jika mendengar pernyataannya seperti itu, namun itulah faktanya diriku. Kemiskinan keluarga diturunkan dengan sangat dahsyat. Bahkan ibuku sendiri tidak bisa melawannya, padahal ibuku adalah sosok yang cerdas dan ulet.

Sejak kecil aku pendiam dan pendendam, seperti ada sesuatu yang kosong dan entah itu apa aku tak paham. ternyata kini aku menyadari, jiwa yang kosong dulu itu jelas dampak dari sebuah kekosongan cinta. Terutama orangtuaku yang tidak mempedulikanku, bahkan aku sangat tidak kenal dengan bapakku sendiri, ibuku juga demikian. Ibu tidak memberikan hak ASI dan asuh untukku. Bahkan sampai detik inipun aku seolah tidak memiliki bonding -selain daripada fotonya.

foto Emak dan Ibu
Sebelah kiri : emak, sebelah kanan : ibu

Berbeda dengan sikapku kepada emak (nenekku). Emakku sangat sabar mendampingi, bahkan saat aku sakit, sedih dan marah. Maka ketika dulu aku mencoba untuk berprestasi dan selalu menjadi juara di sekolah itu bukan atas dasar agar bisa menarik kedua orangtuaku -untuk peduli-, bukan. Melainkan agar aku bisa sekolah gratis, mendapatkan buku, bantuan atau minimal mendapatkan uang hadiah yang bisa kuserahkan ke emak.

Sejak kecil emak mengajarkanku untuk tabah, tegar, nrimo (menerima = bersyukur), ulet, dan mau berjuang. Hal itu berawal ketika aku SD kelas satu setiap pulang sekolah aku menggembala kambing menemani emak. Emak mencari rumput untuk makan kambing, sedangkan aku menjaga kambing-kambing (yang jumlahnya puluhan ekor) agar tidak ‘nyasar’ memakan padi sawah orang. Kambing itu adalah titipan dari ‘juragan’ kampung, dimana emak dan kakekku bekerja. Kakekku buruh labur (tukang cat gamping) sedangkan emak biasanya ikut nandur (menanam padi- disuruh orang) atau menyiangi rumput. Ibuku? entah kenama waktu itu- aku tak peduli.

Pun saat SMA, aku bekerja sambilan di rumah. Mulai dari membuka les untuk teman yang kaya raya (mengerjakan PRnya, mendapat upah), menjadi tukang bersih-bersih di rumah salah satu guru, rumah mewah, elit dan juga menjaga koperasi sekolah. Disanalah aku berkenalan dengan guru IPS yang menjadi koordinator koperasi- yang menjadi bagian dari kisah ini- oia aku juga sering ikut lomba olimpiade Matematika, menjadi pemred majalah sekolah hingga menang lomba karya ilmiah. Masa SMA tidak ada waktu untuk berleha-leha.

my mom
Ibuku bersamaku saat aku ada di Lumajang

Di jawa timur kampungku, kehidupan memang sulit diubah jika kita tidak mau merantau. Maka selepas SMA aku dengan percaya diri mendaftar SNMPTN ke PTN. Waktu itu aku memilih ITS dan UGM. Ternyata rezekiku ada di ITS Surabaya. Saat pengumuman itulah ibuku menangis, “darimana kita mendapatkan uang sebesar itu? untuk makan saja susah”. Sedangkan nenekku mencoba membesarkan hatiku agar aku bisa mencari solusi sendiri.

Berangkatlah pagi itu aku ke sekolah, naik angkot. Sampai disana aku menemui guruku, Pak Rahmat (semoga beliau sehat selalu dan dipenuhi kebaikan). Dari beliau aku diberikan uang dua puluh ribu rupiah untuk ke kota Lumajang (kabupaten), disana aku disuruh menemui ketua DPRD kabupaten, kenalan beliau. Dengan penuh do’a dan ikhtiar, aku berangkat menemui alamat yang telah diinformasikan oleh Pak Rahmat.

Sampai di rumah ketua DPRD tersebut, aku menjelaskan segala tujuanku. Tak lupa membawa bukti surat dari ITS pemberitahuan pendaftaran ulang. Beliau mafhum, kemudian memberikan amplop berwarna cokla. Beliau berpesan, “Nikmah, ini ada sedikit uang untukmu bukan untuk mendaftar ulang, melainkan ongkos ke Surabaya. Disana kamu harus menemui badan eksekutif mahasiswa (yang kemudian kukenal dengan istilah ‘BEM’) mintalah keringanan dan beasiswa. Belajar sungguh-sungguh agar kamu bisa bertahan dan lulus dari sana.”

Mataku berkaca-kaca, akupun berpamitan pulang. Sadar diri bahwa masa pendaftaran ulang sudah tinggal 2 hari lagi. Setiba di rumah, ibuku menangis. Bukan karena sikapku yang egois ingin ‘kuliah- seperti orang kaya’, bukan. Melainkan karena kegigihan dan tekadku, ibuku melepaskanku dengan air mata berurai. Anak gadis semata wayangnya pergi merantau mencari ilmu ke kota besar, ke provinsi kami, jawa timur. Padahal sebelumnya, oleh para tetangga aku dicibir dengan pedas dan diberikan pekerjaan ‘di pabrik’ atau ‘di pasar’ dengan tidak sopan. Ah kalau ingat masa itu, ingin aku tonjok muka mereka. Namun cukuplah kesabaran ini dan tekad ini kuperjuangkan.

Setiba di Surabaya aku mencoba bertahan, berburu beasiswa saat semesteran tiba. Bekerja sambilan mulai dari privat ngelesi SMP-SMA, kerja menjaga warnet hingga menulis magang di jurnalis kampus (walaupun tidak bertahan sebab kesibukan kuliah). aku kuliah di teknik kelautan, sejak awal belajar tentang perkapalan, fisika dan matematika setiap hari menjadi ‘cemilan kehidupan’ beruntung aku menyukai kedua pelajaran itu sejak SMP. Siapa bilang wanita tidak mampu? Marie Curie saja bisa, apalagi kita yang diberikan otak sempurna oleh Allah pasti bisa. Impossible kuubah menjadi I’m possible.

Dari kampusku, aku banyak belajar terutama arti sebuah perjuangan. Bahwa garis kemiskinan itu bisa diputus melalui pendidikan. Kini, aku bersyukur kehidupanku jauh lebih baik. Dengan memiliki seorang suami yang sabar, baik, walaupun berbeda suku- tidak masalah- (suami asli sunda), beda jurusan, beda kampus bahkan beda hobi namun aku menjalani kehidupan saat ini jauh lebih ceria. Sebab masa yang pahit Broken Home di masa kecil dulu sudah clear.

Saat ini aku memang sudah tidak di kampus lagi. Kemungkinan jika putraku sudah mandiri (kini putraku berusia 2 tahun) maka ingin kulanjutkan studi pascasarjanaku. Untuk saat ini aku dan suami mencoba membentang kebaikan dengan membuat sebuah komunitas berbenah. Sebab kebiasaan sejak kecil kami hampir sama : suka beberes. Maka sejak tahun lalu kami membuat  Komunitas Konmari Indonesia.

Segala sesuatu kurenungi, ini adalah bagaimana Allah ‘mengajari’ diri ini untuk selalu meningkatkan kapasitas diri. Maka memiliki prinsip Prinsip Hidup memang sangat penting, kini impian yang belum terwujud adalah menulis buku. Semoga dengan mengikuti lomba ini bisa menarik para pembesar FLP FLP Indonesia yang kini sedang milad ke-21 tahun. Semoga semakin jaya dan membawa peradaban literasi Indonesia.

#miladflp21

#kisahinspiratifFLP

5 thoughts on “Ibu atau Emak?”

  1. Perkenalkan saya Sri keumala Ratna. Dari Banda Aceh.
    Masya Allah.. dek Nikmah.. sedih sekali kisahnya. Seperti cerita didalam sinetron yg sering kakak lihat. Diceritakan Dari bayi sampai kisah adek nikmah sekarang ini. Ohya dek, bgmn keadaan emak, kakek, ibu, bpk dek nikmah skrg ini. Kak Mala doakan semua keluarga dek Nikmah dlm keadaan sehat dan selalu dalam lindungan Allah SWT.
    Semoga sukses terus ya dek, kita satu team juara Bogor.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *