DAILY

KonMari Effect

Ini adalah blog ‘hutang’ saya kepada WAG shokyuu kelas Depok, bulan lalu ketua kelas dan anggotanya meminta saya untuk menuliskan apa efek konMari di kehidupan saya. Hehehehe. Gomen nee.. minna san, saya meminta maaf, baru sempat menuliskannya hari ini.

Sebenarnya saya sudah membuat blog khusus kekonmarian saya di sini tapii tidak berjalan lancar sebab menuliskannya pas lagi luang aja. Dulu saya membuat blog itu karena website konmariindonesia.com kita belum berjalan. Nah karena udah jalan, jadi bye bye deh blogspot~ hehehe

Saya juga menuliskannya di wordpress ini ada di kategori khusus KonMari. Hanya coretan biasa yang bercerita tentang keseharian saya. Nah jadi sama kayak tulisan sebelumnya aja, ringan dan santai juga tapi khusus kali ini saya menuliskan efek dari kegiatan berkonMari saya.

Marie Kondo

Berbeda dari kebanyakan orang yang mengenal konMari dari buku atau internet ataupun temannya. Saya mengenal konMari justru dari suami saya, kami berdua memang suka berbenah, pekerjaan suami juga mengurusi asrama mahasiswa dan aset SDM di beastudi Indonesia seluruh wilayah. Sebelum mengenal konMari, kami berdua sudah menerapkan metode 5R (5S) -seiketsu Kaizennya jepang- saat kuliah di tahun kedua (2010). Suami juga seringkali memberikan training 5R di sekolah-sekolah, asrama dan kampus.

Budaya resik, ringkas, rapi, rajin dan rawat kami terapkan juga setelah menikah (2014) hingga saat ini. Metode KonMari baru kami kenal tahun lalu saat suami diminta presentasi bedah buku Marie Kondo di kantornya. Jadi mau gak mau saya harus membantu suami juga, saya harus membaca, praktik dan membuat presentasinya (suami tinggal edit dan bicara aja). Hingga saya sharing ke facebook dan banyak yang berminat belajar juga. Alhamdulillah.

Efeknya apa setelah berkonMari?

Pertama, saya jauh lebih rilex. Saya adalah orang yang visual, mudah sekali stress jika melihat yang berantakan, jika dalam kondisi ‘sadar’ mungkin saya bisa membuat toleransi untuk menarik nafas dan membuang nafas sejenak saat melihat kondisi rumah berantakan. Namun kadangkala saya stress dan marah juga, endingnya saya jadi cuek dan gak peduli dengan sekitar saya. Udah males. Nah, sejak beres berkonMari saya jauh lebih rilex dan rumah lebih legaaa.. asik buat olahraga didalam rumah dan juga berfikir luasss.

Kedua, saya menjadi tidak konsumtif. Awalnya saya berfikir tatkala ada barang yang ingin saya beli, maka saya harus menabung dan kemudian saya membelinya dengan suka cita. Namun, terkadang barang tersebut hanya saya gunakan beberapa kali saja sudah tidak saya sentuh lagi. Misalnya saya ingin beli baju A, pas baju A datang ternyata gak sesuai ekspektasi. Endingnya saya harus beli lagi dan lagi. Itu sangat menguras kantong. Pada saat saya berbenah kategori pertama (clothes) saya jadi mengerti bahwa saya memang hanya menyukai pakaian yang berbahan kaos, bahan wolvis gak mudah kusut dan yang resleting. Akhirnya saya menyingkirkan banyak pakaian saya yang tidka nyaman dan tidak spark joy saat itu. Kini saya lebih berhati-hati dalam membeli sesuatu. Saya memunculkan 3 pertanyaan saat saya mau belanja kebutuhan pribadi : apakah memang benar-benar dibutuhkan?, apakah sudah memenuhi fungsi keseharian? (awet, berkualitas, nyaman, spark joy) dan apakah barang tersebut akan mampu menjadi nilai tambah untuk jangka panjang?. jika tidak terjawab 3 pertanyaan itu maka saya urungkan.

Ketiga, sarana cleansing paling efektif. Yap, seperti yang pernah saya ceritakan pada semua orang yang mengenal saya yakni saya punya problem innerchild yang parah. Yakni telah ‘dibuang’ oleh bapak kandung dan tidak mendapatkan bonding apapun dari ibu saya. Pengasuhan penuh dari kakek nenek, pernah saya ceritakan di INNER CHILD dan di sini. Sejak kuliah bahkan saya sering menemui psikolog untuk terapi dan membersihkan diri dari karat-karat bayangan masa kecil. Cleansing itu berlanjut hingga  saya menikah karena memang banyaak sekali yang harus saya terima, maafkan dan ikhlaskan.  Dan efek berbenah ala marie kondo ini juga memberikan efek terapi terbaik dengan diri sendiri karena akhirnya saya bisa berdialog dengan diri secara nyata melalui barang barang yang ada di tangan.

Keempat, menemukan passion. Pada tahun lalu saya sempat mengakses temubakat.com namun saya menolaknya karena tidak sesuai dengan apa yang saya pikirkan. Kemudian sayamengenal metode konMari. Ketika berbenah, saya mencoba menggali segala aspek yang membuat saya berbinar-binar (spark joy, memancarkan rasa gembira). Sejak saat itu semua benda yang ada didalam ruangan itu seolah berkata “ya, inilah kamu. kamu adalah orang yang .. bla ..bla..bla..” wah! aha! sayapun tersenyum. Betul. Kemudian saya mengikuti Talents Mapping yang berbayar dan hasilnya memang sesuai detail dengan diri saya. Bahkan saya bisa berdiskusi dengan suami (yang ikut test berbayarnya juga) mengenai bakat, minat dan aktifitas yang cocok. Akhirnya saya tahu passion saya adalah mengerjakan sesuatu fokus di depan laptop atau buku. Jika sudah melakukan penelitian, atau analisis atau sesuatu yang dikerjakan membutuhkan fokus, saya bisa lupa waktu. Misalnya saat membuat kurikulum intensive shokyuu-chukyuu dan jyoukyuu. Wah gak bakal bisa bergerak dari ‘kursi panas’. Nah, hal itu berbeda dengan suami saya yang memang berkebalikan dengan saya.

Kelima, menata diri. Setelah beres berkonmari, saya tidak lagi memikirkan beli ini-itu atau pengen (barang) yang begini-begitu sebagaimana sebelumnya. Mungkin saya orang yang terjadwal paten, segala sesuatunya harus saya tulis atau list. Awal menikah saya menuliskan ingin beli meja kerja, kasur springbed, lemari yang model abcd, bahkan peralatan elektronik juga (mulai magiccom, oven, blender, mixer bahkan breadmaker) semua saya list, saya targetkan bisa membelinya pada bulan sekian sekian. Alhamdulillah -atas izin Allah- tercapai semua, kemudian seolah kurang puas maka saya suka list apa lagi yang perlu saya beli. Pokonya seolah olah saya bekerja hanya untuk membeli barang ini itu. Cape deh. Wkwkwk. Akhirnya beres berkonmari saya menyadari bahwa saya telah menanamkan mindset yang kebanyakan orang gunakan. Padahal sejatinya hidup ini bukan untuk hal tersebut, saya ‘seolah terlahir kembali’ untuk menata diri. Menata diri setelah tidak lagi terjebak pada rutinitas semu. Jika dibuat alur, rangkaiannya agak panjang emang, karena beberapa referensi yang saya gunakan juga banyak. Menggabungkan teori a dan b, praktik, gagal. coba lagi dll (yang ini akan menjadi kurikulum di kelas chukyuu). Maka memang betuul, apa yang dikatakan Marie Kondo bahwa berbenah rumah hanyalah sarana, tujuannya lebih dari itu. Kini, saya justru lebih berfikir banyak mengenai aset dan investasi, bukan barang konsumtif, keinginan semu atau hal-hal yang membuat diri lupa pada hakikat tujuan hidup. Hidup pun jadi lebih tertata rapi juga.

Saya akhirnya suka menelisik kehidupan Marie Kondo. Bagaimana manajemen waktunya dll. Saya juga menjadi tertarik buku bacaan yang Marie Kondo baca. Saya juga suka tersenyum ternyata suami kita juga sama-sama memasak. Marie Kondo setiap pagi berbagi tugas dengan suaminya, urusan dapur adalah kekuatan suaminya. Ternyata itu juga sama dengan suami saya di rumah dimana setiap hari yang memegang urusan dapur adalah suami. Jago masak. Alhamdulillah..

Kehidupan yang ‘sebenar-benarnya’ baru dimulai setelah kita beres membenahi rumah. -Marie Kondo-

Lantas, apa yang telah berhasil dibuang?

Saya telah berhasil ‘mempensiunkan’ baju-baju yang (dulu) suka saya sayang jika dibuang (digunakan juga nggak) hadeuuh #tobat, tiga lemari baju kayu – konvensional, sofa ruang tamu, komputer, 2 rak buku (dan juga bukunya), 1 meja komputer, akuarium, peralatan dapur yang tidak pernah digunakan dan tidak digunakan lagi dan beberapa produk stok yang berlebih.

Lalu, apa yang tersisa saat ini setelah tidying festival?

Saya hanya menyisakan 3 drawers untuk kategori clothes, 2 rak buku dan 1 meja kerja saja. Jadi ruang tamu sudah lapang dan anak bisa berlari kesana kemari dengan riang.

Penutup

Jalan kita masih panjang, minna-san. Berbenah dengan menggunakan metode Konari hanyalah langkah awal kita di kelas intensive #menatadiri #menatanegeri ini. Semoga minna san kelak menjadi pionir dari konmari indonesia di masa depan.

Salam, spark joy.

Khoirun Nikmah.

1 thought on “KonMari Effect”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *