EDUKASI

Materi Inner Child

Hari ini jadwal saya mengisi materi pengembangan wawasan di Rktim yang saya bina. Kali ini member RKtim by Nikmah mulai saya rapikan kembali dengan transformasi di grup baru. Materi hari ini adalah reminder visi dan misi RKtim dan juga materi inti yang berkaitan dengan inner child.

Materi inner child ini saya ambil dari RKtim pusat yaitu dari one day one sharing Ambu Dzakira (Teh Dina). Hatur nuhun sharingnya ya teh 🙂

Saya mulai dengan mengingatkan kembali visi dan misi RKtim yaitu Kuat Keluarga, Kuat Finansial.

Kuat Keluarga >>> ini pondasi utama, bahwa semua itu dimulai dari rumah. dari keluarga. Jadi..jika keluarga yg kita bangun d rumah kuat, kompak, maka sebesar apapun ujiannya pasti kita hadapi dan mampu menaikkan kelas kita. Terutama dalam hal pola pikir.

Kuat finansial >>> pun demikian, karen kita bukan kerja sosial di rktim maka kita usahakan hak hak insentif kita dengan berjualan. tentunya dengan adab berjualan (yuk belajar bareng, praktik bareng).

Adapun motto rktim “berkah, berlimpah” artinya kita kejar berkahnya maka insyaaAllah kelimpahan akan kita dapatkan dalam bentuk apapun itu.

Oia, kenapa saya tulis di blog? karena tadi siang banyak yang hanya read tapi ngga muncul di grup hehehe, daripada tenggelam di chat lebih baik saya dokumentasikan disini 🙂


INNER CHILD

Sejujurnya, Innerchild itu gak negatif melulu🤗 ada jug positifnya💜

Gimana klo anak selama kecil, apalagi golden age nya memiliki memori yg Indah?? Apakah itu Inner Child??

Ibu Elly mengawali dialog dengan para peserta (Sumber: djaharoh.wordpress.com) dengan menanyakan adakah dari para peserta yang hadir yang pernah mengikuti sekolah menjadi orang tua sebelum menikah atau memiliki anak.

Dan semua serempak menjawab tidak. Bu Elly pun kemudian berkisah bahwa beliau pun demikian.

Sekalipun beliau sudah tertarik dengan ilmu psikologi sejak kelas 4 SD dengan menentukan targetnya untuk mengambil jurusan Psikologi saat kuliah dan sering bertanya pada kakak sepupunya mengenai hal-hal yang berkaitan dengan psikologi serta membaca-baca buku-buku Psikologi sejak usia remaja bahkan lulus dari Fakultas Psikologi UI, tetap “nyungsep” saat menjadi orang tua.

“Saya merasa tidak sendiri saat itu. Dan saya merasa bahwa memang menjadi orang tua adalah saat di mana kita tidak boleh berhenti belajar bahkan harus makin banyak belajar. Maka, benar adanya jika berbagai macam kekeliruan yang kita buat dalam masa pengasuhan anak muncul karena ketidaksiapan kita sebagai orang tua. Ketidaksiapan menjadi orang tua ini disebabkan karena kita tidak menguasai 2 hal ini >> Tahap perkembangan anak dan Cara otak bekerja.” kata beliau

Ketidaksiapan ini akhirnya berpengaruh pada kepribadian dan masa depan anak. Ketidaksiapan menjadi orang tua mengakibatkan pola pengasuhan orang tua yang tidak punya prinsip (tidak ada visi misi keluarga) mendasar sehingga pola pengasuhan yang dianut adalah pola pengasuhan spontan dan hanya mengikuti pola asuh yang orang lain terapkan atau sedang tren.

Komunikasi dalam pengasuhan anak ini penting sekali dibahas karena cara kita berkomunikasi baik dengan anak maupun dengan partner kita mengasuh anak (suami) merupakan kunci dalam menyampaikan pesan pada anak agar dapat menjadi nilai yang menjadi karakter anak di kemudian hari.

Bu Elly meminta para peserta yang hadir untuk refleksi dan mengembara ke masa lalu bagaimana kami, para peserta biasa berkomunikasi pada anak-anak kami. Beliau mencontohkan dengan sangat apik sehingga kami pun langsung merasakan bahwa “Yah, itu yang sering saya lakukan dan katakana pada anak-anak saya”.

Dan ternyata semua orang tua mengakui bahwa apa yang mereka bicarakan dan sampaikan pada anak dengan gaya yang dipraktekkan oleh Bu Elly merupakan hal tidak disengaja tapi menjadi hal yang otomatis dilakukan saat menghadapi anak (autopilot).

Hal ini bisa jadi karena kita mencontoh dari sekitar kita dan sudah melekat pada diri kita. Dan menurut pemaparan Bu Elly, akibat dari bicara yang tidak sengaja ini cukup signifikan sebagaimana berikut :

  1. Melemahkan konsep diri
  2. Membuat anak diam, melawan, menentang, tidak peduli, sulit diajak bekerjasama
  3. Menjatuhkan harga dan kepercayaan diri anak
  4. Kemampuan berfikir menjadi rendah
  5. Tidak terbiasa memilih dan mengambil keputusan bagi diri sendiri
  6. Selalu timbul rasa iri

Dari contoh yang beliau paraktekkan, ada beberapa poin kekeliruan yang sering dilakukan dalam berkomunikasi, di antaranya :

  1. Bicara tergesa-gesa
  2. Tidak kenal diri sendiri
  3. Lupa bahwa setiap individu itu unik
  4. Perbedaan “Needs & Wants !” atau “Kebutuhan & Kemauan” antar orang tua dan anak yang menimbulkan kesalahpahaman karena banyak hal yang tidak sempat & terabaikan
  5. Tidak membaca bahasa tubuh
  6. Tidak mendengar perasaan
  7. Kurang mendengar aktif
  8. Menggunakan “12 Gaya Populer”
  9. Selalu menyampaikan “Pesan Kamu”
  10. Tidak memisahkan masalah siapa
  11. Bicara dengan prinsip ekonomi

Bu Elly memberikan langkah-langkah yang dapat kita lakukan diantaranya adalah :

  1. Turunkan frekuensi
  2. Baca bahasa tubuh
  3. Dengarkan perasaan
  4. Mendengar aktif
  5. Hindari “12 gaya popular”
  6. Jangan bicara tergesa-gesa : gaya “siapa kamu”
  7. Belajar untuk kenali diri & kenali lawan bicara kita (anak, suami, dsb)
  8. Ingat : setiap individi unik
  9. Pahami bahwa kebutuhan dan kemauan itu berbeda
  10. Tentukan masalah siapa : Anak perlu proses BMM (Berfikir-Memilih-Mengambil keputusan) agar menjadi pribadi mandiri dan bertanggungjawab. Saat itu memang masalah anak, biarkan anak berfikir,memilih dan mengambil keputusan karena saat itu kita tengah memberikan kesempatan padanya untuk belajar mandiri dan bertanggungjawab.

Ada tips agar anak mandiri dalam hal pemilihan menu dan menyiapkan makanan dari Bu Elly yaitu dengan memberikan kesempatan bagi masing-masing anak memilih menu yang disukainya untuk dijadikan menu makan di waktu tertentu selama 1 minggu.

Misalnya Bu Elly memiliki 3 anak, maka dalam 1 minggu si sulung berhak memilih menu sarapan untuk 1 minggu, si tengah menu makan siang, dan si bungsu menu makan malam. Setelah mereka menentukan menu, Bu Elly meminta mereka melihat stok makanan di kulkas dan di tempat penyimpanan makanan. Masing-masing anak bertugas menyusun kebutuhan belanja bahan makanan yang belum tersedia selama 1 minggu ke depan. Setelah menyusun daftar belanja, maka bertugas untuk berbelanja sesuai daftar yang telah mereka buat. Sehingga dalam 1 minggu sudah tidak ada lagi kebingungan memasak apa karena semuanya sudah siap.

Selain itu Ibu Elly juga memberi tips clothing anak-anak agar mereka belajar BMM yaitu dengan:

  1. Memisahkan dan mengklasifikasikan baju berdasarkan jenisnya misalnya atasan dengan atasan, bawahan dengan bawahan, vest dengan vest, dst bukan sudah dipasang-pasangkan atasan dan bawahannya
  2. Memberikan kepercayaan anak saat memilih pakaian yang akan dipakainya;
  3. Biarkan anak melakukan pemilihan dan mix and match sendiri pilihannya;
  4. Jikalau pun pilihan anak tidak nyambung dan terlihat aneh, maka sebagai orang tua tidak perlu protes dan biarkan anak yang menyadari sendiri serta belajar memperbaiki pilihannya.

Komunikasi

Kesalahan komunikasi terjadi karena kita terbiasa dengan lingkungan yang prinsip bicaranya menganut prinsip ekonomi antara lain : Efektif Efisien (bicara singkat langsung to the point dan tidak menyentuh sisi emosional) dan Produktif (akan mendapat apa, menghasilkan apa sehingga manusia dinilai berdasarkan materi dan tidak memperhatikan sisi emosi, sosial, dan spiritualnya).

Kesalahan komunikasi juga terjadi karena adanya inner child negatif pada orang tua yang disebabkan oleh trauma masa lalu yang tidak disadarinya sehingga melekat dan akhirnya melahirkan metode parenting yang sama dengan yang pernah dialaminya pada masa lalu yang belum tuntas dan termaafkan.

Inner Child adalah adanya sisi anak-anak yang ada pada sikap orang dewasa yang akan otomatis keluar menjadi kebiasaan. Inner child ada yang positif ada pula yang negatif.

Contoh inner child positif adalah saat kita bisa bermain dengan anak-anak kita bisa mengikuti ritme mereka dan ikut ceria karena kita memposisikan diri sebagai anak kecil yang dahulu punya masa lalu yang positif sehingga bisa menyalurkan keceriaan pada anak-anak.

Namun, ada kalanya yang muncul dan dominan adalah inner child negatif misalnya saat kecil kita terbiasa dimarahi jika berbuat kesalahan dan itu yang menempel di otak kita karena selama bertahun-tahun membekas sebagai trauma dan belum tuntas terselesaikan. Maka yang akan muncul adalah kita akan memarahi anak-anak kita jika melakukan kesalahan seperti yang pernah kita lakukan.

Inner child negatif ini akan mengakibatan anak merasa kurang percaya diri. Maka cara terbaik sebelum anak kita juga terbelenggu dengan inner child negatif warisan kita adalah dengan cara melepaskan inner child negatif kita sebagai orang tua terlebih dahulu.

Tips yang diberikan oleh Ibu Elly adalah dengan memutus mata rantai inner child tersebut. Satu-satunya jalan adalah dengan memaafkan masa lalu kita dengan siapapun itu yang menurut kita memberikan impact pada inner child negatif kita baik itu orang tua kita, saudara kandung kita, suami kita, mertua kita, dsb.

Saran Ibu Elly proses memaafkan dan meminta ampunkan tersebut sebaiknya dilakukan saat kondisi kita berada dalam fase beta. Fase ini biasanya saat kita sedang khusyu’ beribadah seperti saat sholat tahajjud. Dalam dzikir dan doa kita kita upayakan untuk melepaskan segala beban dan trauma masa lalu serta memaafkan dan berdamai dengan diri sendiri dan masa lalu.

Dalam menyeleksi jodoh baik anak maupun orang tua perlu menyeleksi calonnya dengan melihat sisi inner child nya. Jika sudah oke maka dapat dilakukan proses khitbah dan selanjutnya baru ta’aruf (yang waktunya harus dibatasi maksimal 3 bulan).

Ibu Elly juga menyebutkan adanya delusi besar yang sesuai dengan teori Patrick Carnes, Ph. D, 2001. Delusi besar ini adalah kondisi di mana keluarga merasa kondisi keluarganya baik-baik saja padahal kondisi sebenarnya sudah tidak lagi harmonis dan hanya saat ada orang lain tampak harmonis karena masalah komunikasi. Hal ini disebabkan antara lain karena faktor :

  1. Self Image : Anak merasa tidak diinginkan atau diabaikan oleh orang tuanya
  2. Relasi anak & orang tua dan anggota keluarga tidak hangat
  3. Needs : Kesepian dan merasa tidak terlindungi serta tidak ada temat bergantung atau berkeluh kesah. Orang tua juga perlu membedakan pengasuhan anak laki-laki dan perempuan yang berbda karena kebutuhan dan kemauannya pun berbeda.

Kondisi delusi inilah yang menyebabkan banyaknya anak-anak muda yang kecanduan seks.

Para generasi muda menjadi generasi yang B-L-A-S-T (sesuai dengan teori Mark Kaselmen). BLAST merupakan singkatan dari Boring-Lonely-Angry/Afraid-Stress-Tired yang akhirnya mengakibatkan beberapa penyimpangan seperti : pornografi, seks suka sama suka, pacaran, LGBT, Masturbasi, oral seks, merokok, miras, dan narkoba.

Agar anak-anak merasa dihargai, maka tugas kita sebagai orang tua adalah menangkap basah mereka saat sedang berbuat baik dan langsung berikan pujian dan apresiasi.

Di sesi Tanya jawab semua penanya mempertanyakan hal yang hampir sama mengenai kegalauan sebagai ibu yang bekerja. Bu Elly menjawab dengan tegas agar para ibu tersebut dapat lebih mendahulukan anak-anak mereka daripada pekerjaannya.

Ibu Elly meminta para orang tua untuk lebih menebalkan imannya tentang konsep rizki. Bahwa yang memberikan rizki adalah Allah bukan bos kita. Yakinlah bahwa Allah akaan memberikan rizki pada kita dari jalan yang tidak akan pernah kita sangka-sangka.

Ibu Elly menambahkan cerita beliau yang menyesali saat mengasuh 2 anak pertamanya sambil disambi bekerja yang akhirnya beliau tidak dapat memberikan ASI karena kelelahan bekerja maka diberikan obat yang dapat menyetop ASInya. Sehingga pada saat anak ketiga, beliau tidak lagi mengambil job dan fulltime bersama aanak-anaknya dan akhirnya Allah memberikan ganti rizki melalui suami beliau.

Kesimpulan yang dapat saya ambil dari materi komunikasi pengasuhan ini adalah perlu adanya kedekatan atau bonding terlebih dahulu antara suami dengan istri, ayah dengan anaknya, dan ibu dengan anaknya sehingga pesan yang ingin disampaikan pun akan sampai di hati anak-anak kita. Dan untuk para oran tua agar dapat memaafkan masa lalunya sehingga dapat menyampaikan komunikasi yang positif dalam pengasuhan.

===

Kita tak bisa memilih kita berasal dari orangtua yg seperti apa, Namun kita bisa memilih jadi orangtua yang seperti apa🤗 Sepakaat??🙋‍♀

Kira2 kenapa Innerchild bisa berpengaruh ke Rktim?.😁

Iyess.. Innerchild berpengaruh ke RESPON kita

Apalagi, lekat sekali didunia sosial apalagi interaksi kita.. dengan bagaimana kita merespons. Sama-sama ini diingatkan tuk ngasi respon terbaik diri😁 Saat ada complainan, curhat konsumen, konsumen yg ngambek, anak yg sdg tahap2nya tantrum d rumah. Kalo ndak kita atasi.. Bubaaar Rumah kita😆 Petjaaaahh sudah karena ada piring terbang.

Kira2 kalo kita sebagai Orangtua masih menyimpan emosi kecil yg terbawa sampai dewasa, baik atau tidak??🤗
>> The answer is: tergantuuuuung🤗 Emosi kecil yg dibawa banyak negatif atau positif🤗

Kalo banyak positif yaa Baguuuus💞 tersalur lewat cinta dan kasih sayang pada anak dan keluarga.

Masalahnya, kalo yg terbawa sampai dewasa yg negatif??😟😳

Ini yg perlu di realese alias kita coba bereskan🤗

Setiap orang BERHAK punya masa lalu yg kelam/tidak baik, KEWAJIBANNYA memperbaiki💜✊

Apa bisa?? pastiii bisa dong 🤗

Semangaaaatttt🔥

Ngerasa tak Bun?? Kalo kita lagi marah2 ke anak, sebenarnya kita mengulang pola yg sama saat kita dimarahi orangtua kita saat kecil dlu??
🤗
Emosi dan logika Bak seperti Jungkat-jungkit..

Emosi Naik, Logika kita turun..

Emosi Turun, Logika kita naik.. sikond ini yg kita harapkan saat kita sdg tidak waras
🤗

Ketika pola tingkah anak buat kita bertanduk.. apakah senantiasa hal ini yg kita ulang??

kita Ngomong baik2—Marah baik2—Pukul/Cubit Anak— Astagfirullah menyesal

berulang-ulang seperti itu, menyelesaikan masalahnya??

Hanya melampiaskan kekesalan, iyaa, anak memiliki memori itu iya, tersimpan, membekas, citra dirinya down iya??

Ternyata emosi itu prinsipnya jungkat jungkit.

Emosi naik, logikanya turun.
Emosi turun, logikanya naik.

Akhirnya, kalo sdh anak bertingkah yg sdh buat keluar tanduk emak cepet tarik nafas, sambil coba atur diri, dan berusaha disposisi. Lihat diri dari perspektif luar..

Naaah… yang kaya begini, kadang sulit dilakuin kalau tingkat kewarasan berkurang Bener gak Bun??😅

Kira2 boleh nggak kita marah ke diri?? Ke oranglain?? Ke anak??

Dapet pesan dari Gurunda Abah Ihsan,

Boleh Marah:

1. Asal tidak menyakiti diri sendiri
2. Asal tidak menyakiti oranglain
3. Merusak barang

Gimana caranya agar inner child tak menguasai diri? >>  Kata Abah Ihsan.. Latihan😁😂

Komunikasi efektif.. breaffing

.dengan banyak latihan.. lama kelamaan Kita bisa ciptakan REM diri kita

Allah ciptakan emosi beragam🤗 Ada marah, sedih, kecewa, bahagia.. itu punya peran semuanya🤗 Boleh kita marah asal, tak melukai diri sendiri, melukai orang lain, dan tidak merusak barang.

Boleh kita kecewa, batasi waktunya mau sampai kapan kecewanya.. setelah itu, move on move up lagiii

Sudah hatam puluhan buku parenting, menghadiri belasan parenting session. Tapi masih mudah “meledak” menyakiti fisik dan psikis anak. Bisa jadi ada rantai masa lalu yg belum ikhlas kita terima. Masa kecil yg mungkin dingin, kelam, dan brutal. Masa kecil yg meledak seketika saat anak kita menguji kesabaran kita. Dan tidak ada sebaik2nya penawar selain Allah.

Berdamailah dengan masa lalu, ikhlaslah … Ditanganmu mata rantai kekerasan/pengabaian ini bisa terputus

Anak kita tdk pernah bertanggung jawab pada masa lalu kita, kita yg bertanggung jawab pada masa depannya.. Bismillah

Tidak ada kata terlambat untuk belajar ikhlas dan belajar bersabar dengan sebenar2nya sabar.

-Ummu Balqis-
@babyhijaber


MAAFKAN SOSOK KECIL DALAM TUBUH YANG BESAR ITU😭
.

Ada rasa dalam diri yang tak sanggup ku tahan tuk melukainya
Ada sikap kasar yang seolah refleks dan tak sengaja ku perbuat padanya
Ada ekspresi dari wajah yang kutampakkan padanya
Ada teriakan yang keluar saat ku dapati iya mulai tak bisa ku kontrol
.

Ada sosok kecil dalam tubuh yang besar yang belum sanggup menerima
Ada sosok kecil dalam tubuh yang besar belum ikhlas tuk bersyukur
Ada sosok kecil dalam tubuh yang besar belum bisa memaafkan

 

===

Cara paling Ampuh yaa release.. cleansing diri sadari Allah kasi itu ke kita ada maksud dan hikmah🤗

Yakin kok mmg ini ndak mudah, berat banget, tapi mungkin kan kita lakukannya
Bismillahirrahmanirrahim
Coba writing teraphi >>> Kalo lagi kesel, marah, kecewa, bahagia nulis nulis di diary/ buku khusus. Ntar kalo kita pas lagi sadar dan waras baca buku itu lagi. Senyum2 sendiri.. ternyata saya pernah galau😁

Allah ciptakan Masalah sepaket dg Kemudahannya

Yakin!!!

Biar Jualannya Joooosss.. Emosi Innerchild2 yg negatif kita minimalisir

Biar bisa nikmatin kehidupan😇💜

Semangatt yaa bersama RKtim 🙂

1 thought on “Materi Inner Child”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *