DAILY

Memantik Rasa

Beberapa hari ini mulai terdengar dan terasa intuisi yang hilang (sengaja diabaikan) yaitu memenuhi sebuah janji pada diri sendiri dan (beberapa) orang. Mereka menantikan sebuah rasa yang telah tertimbun oleh setumpuk pekerjaan nan tiada henti. Fiuh.

aku menghela nafas berulang, sepucuk documents yang sangat lapuk kugenggam. Semoga, masih bisa.

Logika pun mulai berkata, “janganlah mengikuti rasa, ikuti saja apa kata pemikiran logismu”

Heran. Selalu seperti ini.

Logika dan rasa ini selalu ‘berantem’ di waktu yang kurang tepat.

Akhirnya kutinggalkan ‘mereka berdua’ dan kuminta petunjuk pada Sang Maha Pencipta. Sekiranya langkah apa yang harus kutempuh selanjutnya.

Ini hanyalah goresan pena, sebanyak apapun akan berdebu jika tidak ada guna dan manfaatnya.

Kurengungi lagi intuisi itu.

Intuisi tidak datang seketika dan tiba tiba. ia perlu dilatih dan menemukan diri kita. salah satu caranya dengan deep mind, yoga atau meditasi. 

oh, ini toh hasilnya. pikirku.

Kini aku terpekur seorang diri. Mencoba mengalihkan pada sesuatu yang lain.

Kukumpulkan buku buku yang telah ‘otomatis’ sudah kuabaikan, kemudian mencerna sedikir dan akhirnya kuputuskan mereka supaya ‘pensiun’ saja.

Malam ini dengan berbagai opsi pikiran yang berkelebat, mulai terurai benang merahnya. Bahwa intuisiku bisa jadi benar.

Masih kuterima rasa syukur ini. Bisnis buku dan tools edukasi anak lancar, juga kondisi kehidupa nyata lancar plus passion di komunitas telah tertuang serta menemukan orang orang yang ‘tepat’.

aku tidak sendiri.

Terimakasih

~sambil menunggu kabar gembira yang lain.

Bogor, 22 Februari 2018

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *