IBU PROFESIONAL KELAS PRA-MATRIKULASI

#PRAMATRIKULASI – Membuktikan Cinta (part 2)

“Anak tidak bisa merasakan dan menikmati cinta dan kasih sayang orangtua, jika tidak dibuktikan. Bagaimana membuktikannya?”

Jika kemarin saya menulis acak tentang membuktikan cinta maka hari ini saya mencoba sedikit serius menuliskannya. Dengan judul yang sama dan cerita yang sedikit berbeda.

Sambil sedikit mengulas kegiatan kemarin pagi Syahid ikut ke PAUD tanpa mandi pagi. What? karena dia marah jika bangun tidur langsung mandi (bangun kesiangan). saya sendiri memaklumi hal itu sebab airnya dingin seperti es (saya sendiri kedinginan saat masuk kamar mandi, hehehe), ada opsi lain menggunakan air hangat namun waktu menunjukkan pukul 8.30 , artinya saya harus segera berangkat ke PAUD.

Maka dengan modal cuci muka saja, Syahid mau menggunakan seragam sekolahnya. PAUD ini mirip daycare bahkan anak usia satu tahunpun ikut sekolah (dengan materi dan capaian yang berbeda dari kelas B). Dengan sedikit terburu saya berangkat, membawa map banyak bersama Syahid.

Syahid anak baik, itu yang selalu saya gumamkan dan yakinkan setiap kali memulai aktifitas dengannya. Sampai depan PAUD syahid mogok, gakmau masuk. Akhirnya saya berikan opsi mau makan kue didalam atau di luar, saya tegaskan bahwa umi mau membagikan rapor, Syahid anak baik yang suka bantu umi. Akhirnya dia mau masuk dan duduk.

Sebenarnya Syahid bukanlah tipe anak yang bisa duduk diam, Syahid anak yang aktif kinestetiknya kuat. Namun ada kalanya dia mau mendengarkan dan duduk ketika sudah mendapatkan objek yang menarik. Syahid anak yang suka berhati-hati terhadap lingkungannya tapi dia tidak penakut. berbeda dengan anak yan gsangat mudah bergaul hingga relatif sulit dikendalikan (beberapa murid ada yang tipe seperti ini) atau tipe yang sangat lembek hingga tidak berani jika tidak berdekatan dengan ortunya, pemalu dan penakut. Syahid berada di posisi pertengahan, hanya perlu sedikit waktu untuk mendorong dia mau menghadapi aktifitas di luar.

Setelah membagikan raport, menjelang dzuhur sudah kembali ke rumah. Syahid minta bermain air, saya setuju karena dengan bermain air = syahid mandi. 😀

Setelah puas main air, Syahid minta mandi dan masuk ke kamar. Ganti baju dan meminta tidur, cape. saya paksa makan siang dulu, Syahid malah marah-marah sambil memejamkan matanya menguap meminta naik ke ranjang. Ngantuk berat. Yasudah, saya menyerah.

Berusaha untuk tidak memarahi anak memang sulit luar biasa, apalagi emosi muncul ketika hati lelah, fisik lelah, ada sesuatu yang belum diselesaikan (makan siang misalnya), dll.

Usia 10 bulan
Syahid ketika belum berjalan, setahun lalu

Dulu saya sering marah ketika mata ini melihat sesuatu yang ‘berantakan’. Sejujurnya saya (dan suami) sangat tidak menyukai kondisi berantakan. Dengan secepat kilat selalu merapikan yang ada, bahkan jika ada barang yang sedikit miring dan dari segi esetetika kurang menyenangkan maka segera diperbaiki atau buang. Buang ini buang itu sudah seperti kegiatan otomatis bersama suami.

Namun ketika sudah mempunyai anak, kami sadar bahwa percuma marah, percuma melarang karena itu sudah naluri anak untuk eksplorasi ruangan. Namun kami sudah menemukan cara efektif cara beberes masa lalu dan beberes masa kini hingga kami bertekad menebarkannya dengan membuat Komunitas Konmari Indonesia

Beberes didalam keluarga -yang bertipe visual ini- sudah kami lakukan dan ajarkan sejak Syahid merangkak dan belajar berdiri. Hasilnya menakjubkan bahwa ternyata anak ini sangat cerdas. Syahid tidak hanya bisa membuat berantakan tapi dalam satu kondisi juga dia mampu merapikan. Ini yang luput kami apresiasi. Meniru yang cerdas, juga dalam hal membaca buku dan sebagainya. ternyata hal itu mampu dia serap dengan baik ketika kondisi lembut, positif, menyenangkan.

Mengapa harus lembut?

Rasulullah sudah memberikan contoh. Kami bertekad mempelajarinya dengan berbagai ikhtiar. Mulai dari ikut kajian parenting, beli buku, baca ensiklopedi Rasulullah khusus membina keluarga harmoni, ikut kelas online, offline, cleansing innerchild bahkan saat ini saya mulai berani ikut kelas IIP (institut ibu profesional) yang sejak dulu telah jauh diikuti teman-teman saya. Tak mengapa terlambat daripada tidak sama sekali. hal ini kami lakukan sebagai ortu sebab memang tidak ada kelas khusus mendidik anak, mengelola rumah tangga ketika masih kuliah. Apalagi background saya teknik, plus keluarga broken home sejak kecil hehehehe. Walaupun diimbangi oleh suami yang berkeluarga besar, keluarga harmonis namun itu tidak mampu saya serap karena background masa lalu sendiri.

Berbuat lembut pada anak sama sekali bukan berarti menuruti semua permintaan anak. Terkadang kami juga mencoba menerapkan negoisasi dengan sikecil ketika mulai marah atau tantrum. Mencegah lebih baik daripada mengobati. Bersikap lembut bukan lembek. Membiarkan saja berarti tidak peduli, namun terlalu menekan juga tidak akan diterima (kalopun menerima maka ia merasa terpaksa).

Sejak berusaha cleansing tentang innerchild maka segala sesuatu yang saya anggap sulit selama ini ternyata bisa saya kerjakan. Contoh sederhana ketika dulu Syahid marah, seringkali saya ikuti kemarahan dia dengan marah juga. Namun dampaknya ternyata luar biasa, dia mengikuti sikap saya bagaimana ketika marah. menyesal rasanya akhirnya saya reprogram lagi sikap-sikap negatif yang dicontoh Syahid. Ternyata bisa. Syahid jadi lebih baik dan lebih kooperatif. Inilah hasil dari bersikap lembut. bertutur kata tegas namun tetap mengikuti cara Rasulullah bersikap. MasyaaAllah memang suri teladan kita hingga akhir hayat dan akhir zaman tetaplah Rasulullah dan keluarganya.

Rasulullah SAW berkata, “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. Kemudian kedua orangtuanyalah yang akan menjadikan anak itu menjadi Yahudi, Nasrani, atau Majusi sebagaimana binatang ternak yang melahirkan binatang ternak dengan sempurna. Apakah kalian melihat cacat padanya?” (H.R Bukhori dan Muslim)

Saya sempat bertanya pada beberapa kelas online maupun offline yang saya ikuti serta membandingkan dengan buku yang menjadi referensi parenting di rumah. Menahan emosi, bisakah?

Jawabannya ternyata variatif, mulai dari pakar neurologi, psikologi hingga praktisi parenting. semua hal itu saya pelajari dan mencoba membuat kongruen-kongruen dari penjelasannya.

Jawabannya tidak bisa, jika :

  1. innerchild belum beres proses cleansingnya
  2. orang tersebut tidak mau berubah
  3. orangtua yang sombong
  4. orangtua yang gak mau belajar
  5. orangtua yang ada di zona nyaman (sudah menganggap itu hal yang wajar, warisan, kedudukan tinggi top and down ke anak)

Dan kabar baiknya ternyata bisa ditahan dengan syarat kebalikan dari pernyataan diatas dan juga kita analisis apa saja penyebab seorang ibu berlaku kasar dan emosional. Tidak bisa sepihak menyalahkan satu sisi.

Inilah penyebab ibu bersikap kasar dan emosional :

  1. kelelahan mengerjakan pekerjaan domestik rumah tangga (biasanya terjadi jika anak banyak, tanpa ART dan suami cuek. ini pemicu utama).
  2. perasaan bosan didalam rumah, tidak memiliki kegiatan dan tidak tau untuk apa hidup ini.
  3. kurang dihargai suami dan lingkungan serta jenuh pada rutinitas yang ada.
  4. pola asuh dari orangtua (warisan innerchild)
  5. mempunyai konflik dengan pasangan yang tidak dikomunikasikan sehingga anak menjadi pelampiasan.

maka didalam islam jelas sekali bagaimana menghadapi sifat marah ini. Tidak hanya marah kepada anak yang notabene masih lemah, masih kecil dan belum berdaya. Namun juga ketika menghadapi amarah kepada orang sesamanya.

Semoga kita tidak terjebak oleh amarah lagi sehingga menghambat penyampaian nilai baik maupun mengungkapkan rasa cinta dan sayang ke anak.

Bogor, 15 Desember 2017

Khoirun Nikmah

#Day2
#ODOPPreMatrik
#MulaiMenulis
#IIPBogor

1 thought on “#PRAMATRIKULASI – Membuktikan Cinta (part 2)”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *