IBU PROFESIONAL KELAS PRA-MATRIKULASI

#PRAMATRIKULASI – Membuktikan Cinta (part 1)

“Karena anak begitu berharga, maka tumbuh kembangnya harus dijaga dan dibina…” (Mendidik Anak dengan Cinta, Irawati Istadi)

Semalam bada isya’, mencoba cek grup Matrikulasi IIP Bogor. Biasanya saya membacanya rapel karena memang tidak setiap saat memegang gawai. Alih-alih memantau aktifitas sosial dunia maya, agenda di dunia nyata terkadang juga membuat badan lelah. Hal pertama adalah selain sebagai guru paud, founder komunitas konmari (ini bersama tim kerjanya jadi lebih ringan), berbisnis online -membina reseller (walau jarang online juga tapi orderan tetep ngalir alhamdulillah), tanpa ART, mengawasi anak sendiri juga. Walaupun sudah bekerjasama dengan suami setiap hari, seperti menyapu, mencuci bahkan kadang memasakpun suami yang menghandle. Banyak agenda yang harus saya selesaikan, bukan berarti berdiam diri didalam rumah tidak mempunyai aktifitas apapun justru banyak banget hehehe. ketika pikiran mulai lelah dikejar target (terbiasa menuliskan target) maka akan membutuhkan waktu lebih lama untuk memulihkan diri kembali. Maka, wajib menjaga pola hidup diri sendiri secara tuntas dan sehat agar energinya mampu disalurkan dengan positif.

Setiap apa yang kita pilih, kita putuskan pasti menjadi konsekuensi logis yang tidak mau tidak untuk kita kerjakan. Aktifitas fisik seperti olahraga rutin misal dilakukan, sepele tapi itulah keputusan diri untuk membuat harga investasi sehat lebih baik sebagai modal utama kehidupan. Namun ada juga aktifitas pikiran yang jauh lebih memakan nutrisi, energi, ide, daya juga perlu diperhatikan. Harus  seimbang. Pun saat membersamai anak. Bisa dirasakan mood seorang ibu itu bisa ditransfer ke anak, maka menjaga mood (pikiran) tetap sehat dan positif ini harga mutlak dalam keseharian.

Saya sempat maju-mundur saat mengelola bisnis bersama tim, saya sampaikan bahwa tidak setiap saat saya memegang gawai. Ada sesuatu beban jika saya memegang amanah ini, namun saya ingat ada banyak orang yang menaruh harapan itu maka bismillah saya fokus membina reseller, tidak jadi mundur. Saat berdoapun saya meminta agar lebih dikuatkan pundak untuk beberapa amanah, bukan dikurangi amanahnya. Walaupun respons tidak akan secepat olshoper lain, konsumen loyal tetap menghubungi. Reseller juga mafhum kenapa kadang grupnya sepi. Mereka memaklumi, alhamdulillah.

Ini semua dilakukan sebagai bukti keseriusan diri untuk bertekad menjadi ibu terbaik bagi putra saya, amanah ter-BESAR, Muhammad Syahid Al-Fatih yang kini berusia 2 tahun 4 bulan. Bayi laki-laki yang memiliki rambut halus ini sedang aktif belajar dan eksplorasi apapun. Kesehariannya selalu mewarnai suasana hati dan dinding (suka corat-coret tembok 😀 ), dari rasa ingin tahunya yang tinggi, kekonyolannya, kelucuan hingga sikap romantisme yang mengharu biru. Misal saat saya tidur, tetiba dipijitin, dicium, padahal ini anak masih 2 tahun.

Setiap ada kejadian saya berusaha mencari titik poin tujuan Allah memberikan ini maksudnya bagaimana. Saya coba teliti sambil bergerak. Misal kegiatan kemarin, Rabu. Pagi hari hingga siang saya sedang menyiapkan rapor, memasukkan karya anak-anak selama satu semester kedalam map plastik. Syahid selalu mengawasi dan membantu, saya jelaskan sejak awal bahwa yang berserakan di lantai ini berkas dan hasil karya ‘teman-teman’ bukan miliknya, khusus punya Syahid juga ada di map tapi tidak boleh diambil karena semua dibagikan besok kamis (hari ini). Mafhum. kulihat Syahid asik bermain plastisin. Sampai siang map-map itu tetap ada pada tempatnya. Wah saya senang sekali, sampai pagi ini siap membagi rapor pun tetap utuh 25 map.

Namun ada 1 kejadian yang ‘unik’ kemarin siang. Seperti biasa Syahid membantu mencuci piring, dia nyalakan kran air dan bermainlah sepuasnya. Saya agak berhitung tarif listrik (tidak ada tandon, sehingga pompa listrik nyala setiap harus mengalirkan air) maka di menit ke 30 saya matikan listriknya. Menangislah Syahid, marah luar biasa (saya sadar sejak pagi ini anak dicuekin karena rapor, siang dibiarkan main air tetiba dimatikan airnya), maka pilihan terbaik saya nyalakan air lagi dan diapun senang. kembali bermain. dan saya kembali melakukan aktifitas lain.

Saat saya kembali ke dapur (Syahid bermain di kran tempat cucian) saya terperanjat, pasalnya sayur yang ada di meja dapur yang mau saya masak sore hari ternyata dicuci dan dimasukkan ke bak penampungan air. Belum lagi ada gula setoples yang ditumpahkan full menjadi adonan (ini kayaknya sering melihat umi abinya membuat pancake -_- ) maka saya coba cari clue maksud semua ini.

U : Syahiid, kenapa gula di toples ditumpahkan. Niih habis kan gulanya. Kok bisa ambil gula di meja?

S : ituuu..(nunjuk kursi tinggi)

Oh.. ternyata memang pinter bangetttt -__- saya baru sadar, memang itulah kursi plastik yang selalu menjadi alternatifnya jika mau melihat dan mengambil sesuatu. Setiap mencuci pakaian, Syahid selalu ada di samping abinya. Karena abinya tinggi, dia cari cara supaya bisa melihat isi mesin cuci dengan menggunakan kursi. Berdiri tepat di samping abinya. Pun saat masak, saat mencuci piring dll.

Memang sengaja dilibatkan sebab kalo gak begitu, Syahid bisa marah. Mungkin kalo anak oranglain pagi bangun tidur duduk anteng diam di depan TV, namun karena di rumah kami tidak ada TV maka mau tidak mau dia mencari sesuatu. Biasanya syahid memang suka baca buku (ini nih kadang yang dinyinyirin orang- beli buku harga jutaan untuk anak- mending buat jalan kemana gitu atau beli emas -_-” ya sih aset puluhan juta bisa beli sawah malah kalo di desa saya wkwkwk) sering melihat umi abi baca buku bareng, kalau syahid beres baca (dibolak-balik doang atau pakai pulpen baca), langsung ke dapur ‘membantu’ umi dan abi.

Nah endingnya apa kemarin siang? >>> BONGKAR KOMPOR DAN DAPUR. hahahhaa

Ya, efek gula ditumpahkan diatas kompor maka semut hitam berduyun-duyun banyaak sekali. Dan saya baru sadar juga ternyata sudah sebulan lebih tidak membongkar kompor. Di keluarga kami tidak ada yang perlu dikhawatirkan terkait barang dapur (notabene anak tidak boleh mendekat) justru sejak Syahid bisa jalan, bermain di dapur sambil memebritahukan ke dia apa yang boleh dan tidak dilakukan disini. Ini penting agar anak tidak perlu takut pada sesuatu yang tidak seharusnya ditakuti. Bukan karena background uminya sarjana teknik, bukaan ! (seperti sering orang bilang, “iya kan Syahid gak takut kabel, ngerti elektronik karena ibunya orang teknik -_- ) justru karena masih kecil, hal-hal basic model begini (ilmiah, sains, percobaan) selama tidak membahayakan, Why not?

Beres melepas selang, bersihkan selang, tatakan kompor bahkan kompornya juga dicuci, lap meja dan bersih kembali. Kami berdua senang. Bahkan Syahid senang sekali ‘seolah-olah’ dia yang bisa membuat uminya membongkark ompor 😀 padahal mah jadi asisten ajaa..

Beres kompor dicuci, ditiriskan (emangnya sayur ! hahaha) eh dijemur maka Syahid mandi, ganti baju, makan siang dan berangkat ikut umi untuk aktifitas liqo’ sampai rumah bada maghrib.

Itu keseharian hari Rabu, 13 Desember 2017 ditulis untuk memenuhi tugas kelas Matrikulasi IIP Bogor.

#Day1
#ODOPPreMatrik
#MulaiMenulis
#IIPBogor

Saat belajar berjalan setahun lalu

1 thought on “#PRAMATRIKULASI – Membuktikan Cinta (part 1)”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *