IBU PROFESIONAL

Menguatkan Peran Keluarga dalam Merawat Peradaban

Kemarin, saya diundang sebagai peserta Change Maker Family pada acara Milad IP Bogor yang ke-4. Pada Milad itu berlangsung juga acara wisuda kelas Bunda Sayang dan Matrikulasi, namun disini saya bukan sebagai wisudawan hiks hiks. Tapi tak apa.. karena saya menjadi peserta mengikuti seminarrr. Tentu seperti pada tahun sebelumnya, juga pasti mengundang seorang pakar yang membahas sebuah tema yang diangkat pada acara tersebut.

Kali ini temanya cukup berat dan besar, yaitu seperti pada judul post blog ini ‘Menguatkan Peran Keluarga dalam Merawat Peradaban.’

Pembicaranya adalah Prof. Dr. Ir. Euis Sunarti, M.Si yang sudah belasan tahun menggeluti bidang itu, mengajar juga pada jurusan ilmu keluarga IPB. Saya sangat tertarik, kebetulan saya mendapat kursi pada bagian paling depan sehingga lebih fokus untuk mnyimak pemaparan beliau. Saya juga mendapatkan modul yang sangat lengkap didalam tas goodie bag, walaupun demikian saya tetap mencatat apa-apa yang beliau sampaikan.

Diawali dengan pertanyaan yang Prof. Euis lemparkan pada kami, “Apa sih makna Profesional?”. kami menjawab dengan beberapa kata seperti dedikasi, ahli, ada indikator, terukur dan sinonim kata yang sama dengan itu. Lalu apa kesimpulan Prof. Euis?

Beliau mengatakan bahwa profesional adalah bertanggung jawab terhadap komitmen yang diambil. Sehingga ketika kita sudah mengambil amanah menjadi seorang ibu, maka itulah yang akan kita pertanggung jawabkan.

Kemudian kami membahas judul seminar. Ternyata kalimat merawat itu tidak cukup, karena jika merawat artinya memang sudah bagus, tinggal mempertahankan saja. Namun yang tepat sebenarnya adalah berjuang, yak ! berjuang menandakan masih banyak yang belum sesuai dengan peradaban yang diharapkan. saat ini begitu banyak ideologi yang negatif yang sudah merusak tatanan norma, nilai dan adab kita. Maka ini yang perlu kita perjuangkan.

Berbicara tentang peradaban, Prof Euis membedah satu per satu mulai dari kata adab, beradab dan peradaban.

Adab merupakan kehalusan dan kebaikan, budi pekerti dan kesopanan.

Beradab artinya mempunyai adab, mempunyai budi bahasa yang baik dan berlaku sopan.

Peradaban artinya kemajuan lahir batin (kecerdasan, kebudayaan).

Setiap bangsa memiliki peradaban yang berbeda, semua bergantung dari tingkat literasi atau bahasanya dan juga kebudayaannya.

Indonesia sendiri bagaimana?

kita sudah mengenal adab pada tata kelas teori, namun belum sampai menjadi pola pikir. Sebagaimana anak-anak yang secara fisiknya sudah baligh namun tidak seimbang pada akil (pola pikirnya) yang belum matang. Hal ini disebabkan ‘masa tunggu’ yang cukup lama dari fase baligh secara fisik kepada kematangan.

Apa tanda paling mudah untuk mengukur pola pikirnya matang? yakni mampu menilai, memilih mana yang baik dan mana yang buruk.

Pencegahan paling dini ada pada tingkat keluarga. Dari dalam rumah kita mampu menjaga anak-anak kita, namun jika sudah keluar bagaimana? itulah kenapa kita tidak bisa cuek gitu saja terhadap lingkungan, karena mau tidak mau lingkungan sekitar mampu memberikan dampak terhadap nilai-nilai anak kita. Tidak selamanya juga kita mampu ‘memenjarakan’ anak didalam rumah. Itulah kenapa seharusnya sistem itu kita buat bersama, mulai dari mana?

Mulai dari yang kecil.

Banyak faktor yang berperan, namun yang paling mendalam adalah internal kita. Internalisasi nilai-nilai. apakah hanya kita sampaikan secara lisan ataukah sudah kita praktikkan bersama sehingga menjadi aksi yang nyata.

Caranya bagaimana? yakni menanamkan adab sejak dini dan nilai-nilai agama pada keluarga kita.

Semua itu bergantung dari masa kecil seseorang, sebab memori itu akan melekat pada diri anak.

Pola terbaik dan efektivitas hanya bisa diukur oleh setiap keluarga, tidak ada rumus baku atau bagaimana cara yang tepat. Namun ada panduan khusus yang memang terbukti berperan, namun seberapa dosisnya hanya kita sendiri yang mampu meracik. Apakah itu?

Pertama kelekatan. Ini bergantung kepada seberapa banyak jam yang anak habiskan dengan siapa maka itulah yang akan melekat padanya. Jadi, kualitas itu bergantung pada kuantitas. Tidak ada istilah jam sedikit menghasilkan kualitas yang bagus, justru anak-anak sangat membutuhkan jam ‘bicara’ orangtuanya.

Kedua, pengasuhan. Ini tidak sama setiap orang, seni mengasuh ini memiliki indikator khsusus. Apakah sering, kurang ataukah pas. Sudah itu saja. Jika terlalu sering memberikan nilai juga tidak efektif, kurangpun tidak berhasil, maka porsinya harus pas. Pas itu yang bagaimana? hanya kita sendiri yang tahu. Kuncinya hingga nilai itu ajeg, konsisten dan 100% mampu menjadi ruh atau nilai yang anak-anak kita munculkan.

Tips yang lain adalah buatlah desain pengasuhan, sebab dengan mendesainnya maka akan jauh lebih terarah dan terkontrol indikatornya.

Adapun dalam praktiknya, perlu kita hindari pity atau mengasihani. Jangan juga menakut-nakuti. serta libatkan anak supaya mereka merasa dianggap penting didalam keluarga. Khsusus balita atau anak-anak, jangan pernah menunda atau mengabaikan. Sebab mereka akan merekamnya dengan baik.

Selebihnya detail di modul, jika mau membaca Prof Euis juga menerbitkan beberapa buku yang berjudul ‘Mengasuh dengan hati’, ‘Menggali Kekuatan Cerita’ dan juga buku ‘Ajarkan Anak Keterampilan Hidup sejak Dini’.

Oke, cukup hanya itu yang bisa saya sharekan. See you on next post 🙂

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *