MINIMALIST

Minimalis (part 1- Simple Living)

HEI!

Setelah mencoba beberapa kali metode, melakukan 5R selama kurang lebih 6 tahun. Kemudian KonMari 2 tahunan, kini saya sedang menjalani hidup yang minimalis. Jika orang pada umumnya bergerak dari maksimalis menuju minimalis, saya pribadi bergerak minimalis-maksimalis dan kemudian balik minimalis lagi. Bedanya, kali ini menggunakan ilmu. Kalo dulu yaa karena kondisi.

Yak! KONDISI.

Sejak saya masih balita, kondisi barang di rumah memang sedikit alias gak punya apa-apa. Kemudian beranjak SD, SMP, SMA hingga kuliahpun memiliki barang pribadi juga bisa dihitung jari. Sejak dulu bukan tipe orang yang mempunyai konsumsi yang tinggi. Namun keseringannya salah beli, salah prediksi dan akhirnya beli-jual, beli lagi terus jual. Udah kayak dropshipper gitu, bedanya saya pribadi lebih suka beli barang second daripada beli baru. Alasannya nanti saya kemukakan pada part selanjutnya ya 😀

Memahami simple living ini sudah saya tulis di buku pertama saya (KonMari Mengubah HIdupku) tahun lalu. Sejatinya hidup ini memang sesederhana apa yang kita pikirkan, kemudian menjadi ruwet tatkala kita tidak mampu mengatur dan manatanya dengan baik.

Nah, setiap orang punya titik balik masing-masing kenapa bertindak untuk mengubah sesuatu menjadi sesuatu yang lain. Bagi saya pribadi, mengubah gaya hidup memang tidak serta merta karena trending topik di lini dunia maya. Melainkan konkret apa yang saya rasakan dan saya harapkan.

KonMari menjadi titik awal saya untuk ‘menekuni’ dunia ‘berbenah’ yang dulu sempat saya tinggalkan (detailnya ada di buku KonMari Mengubah Hidupku).

Pada part pertama ini saya mau merangkum alasan dan manfaat kenapa saya berproses kembali ke minimalism. Minimalis yang saya lakukan bersumber dari beberapa referensi yang saya baca, saya pilih mana-mana yang cocok dengan saya dan mana-mana yang tidak perlu saya ambil.

Pertama, alasan terkuat adalah saya kelelahan apabila terus menerus menata barang. Ini mungkin yang belum banyak diketahui bahwa saya di rumah suka mengatur posisi barang berubah berdasar mood! ini sungguh melelahkan fergussooo 😀
Benar memang, apa yang nampak pada barang itulah mencerminkan diri kita, pikiran kita. Tatkala saya sedang rapi berarti pikiran saya tertata apik dan rapi namun ketika kondisi rumah awut-awutan berantakan pertanda saya sedang stress dan tidak peduli. Daripada gelombang kelelahan itu terus berlanjut maka saya mulai mengurangi barang saya yang (sebenernya) sudah sedikit untuk saya pilih lagi mana yang memang digunakan betul dan mana yang harus dipensiunkan secepatnya agar tidak menambah ‘beban’. Orang terheran-heran, barang di rumah saya juga sudah sedikit kenapa selalu mengeluarkan barang lagi (untuk dibagikan)? ya saya juga heran, wkwkwk. mungkin karena seringkali lalai merawat maka daripada disimpan dan tidak digunakan yasudah didiscard aja. Progress saat ini ada pada kategori buku. Kalo dapur alhamdulilah sudah pas, kemarin sempat mengganti 2 tabung gas kecil menjadi 1 tabung gas premium ukuran sedang. Efisiensi.

Kategori pakaian, sudah beres. sejak dulu pakaian saya hanya berkisar pada jumlah 30-25an potong, kemarin kemarin sudah saya kurangi lagi, kini tinggal 20an. Saya merasa pada saat mau mengenakan pakaian itu, kadang perlu berfikir dulu mana yang sudah tidak layak dan mana yang sudah seharusnya didonasikan. Tidak perlu menunggu pakaian rusak, justru pada saat pakaian kondisi masih prima namun saya jarang menyentuhnya maka itu adalah radar terbaik untuk memberikannya pada yang membutuhkan. Jikapun ada pakaian baru, biasanya ada yang harus dikeluarkan ‘pamitan dari laci’.

Untuk sepatu dan sandal saya, sejak dulu hanya ada 5-4 pasang. Tidak pernah lebih dari itu. Namun setelah saya gunakan ternyata yang beneran saya pakai hanya ada 3 pasang. Artinya 2 pasang lainnya adalah hak oranglain.

Kemudian dari beberapa tindakan itu saya mulai memikirkan manfaatnya, dan manfaat yang saya rasakan ini sudah tertuang dengan lengkap pada buku Less is More karya Joshua Becker. Apa saja manfaatnya?

More time and Energy

Saya lebih saving badan saya karena tidak harus secapek pada saat barang saya yang ‘spark joy’ total ada di depan mata. Waktu yang saya keluarkan untuk berbenah juga menjadi lebih berkurang sehingga mampu saya gunakan untuk hal-hal lain seperti menulis pada blog ini.

More money

Ssssstttt…ini sudah bukan rahasia lagi ya, alhamdulillah saya jarang defisit keuangan sejak mengerem segala keinginan. Bahkan saya butuh waktu 3-4tahun untuk membeli sesuatu sebab ingin tersebut. Katakanlah pada tahun 2015 lalu saya ingin banget punya kasur springbed. Selama itu saya tidur di kasur busa dan lumayan dingin menempel di lantai. Keinginan itu terwujud pada tahun 2018 sebab saya sudah memikirkan matang apa yang saya beli. Membeli springbed second untuk saya dan springbed baru untuk anak. Itupun memilih yang fungsional. Saya membeli springbed berbonus meja dan rak buku (namun rak buku saya donasikan ke tetangga), membeli springbed anak yang ukuran single dengan kasur sorong dibawahnya (hemat tempat).

Membahas tabungan, dana darurat dan segala investasi juga mulai berjalan seiring minimalis ini diterapkan. Benefitnya, saya tidak defisit neraca keuangan. Karena semua tercatat rapi pada mutasi dan rekap bulanan (ini akan saya tulis pada menu finance).

More generosity

Ini bukan sekedar careless, bukan sekedar membantu oranglain melainkan juga menumbuhkannya. Lebih peka terhadap orang setelah tertunai kebutuhan sendiri. Nah, konsep generosity ini memberikan efek baik pada saya pribadi yang dulu over protecting terhadap apa yang saya miliki, kini saya dengan senang hati membagikannya. Entah itu barang, ilmu pengetahuan, pengalaman maupun hal yang mampu saya bagikan pada orang yang membutuhkan. Prinsipnya, ketika kita memberikan sesuatu yang kita miliki kepada orang lain, berarti kita sedang menanam benih. Dan layaknya benih yang ditanam akan menghasilkan buah. Semakin banyak kita menanam benih maka akan semakin banyak pula kita menghasilkan buah. Konsep generosity mengajarkan bahwa semakin banyak kita memberi maka akan semakin banyak kita menerima. Entah dalam bentuk apapun.

Higher-quality belongings

Ini saya terapkan pada barang-barang di rumah, gak apa-apalah gak punya produk A selama dalam pencarian yang terpenting tidak salah membeli lagi. Seringkali saya menahan diri apabila ada barang yang saya incar berhasil ditemukan pada sebuah etalase toko ataupun toko online. Saya masih ingat ketika belanja di sebuah toko untuk membeli sebuah gamis. Saya keliling setiap sudutnya namun tidak berhasil menemukan yang pas. Kembali ke rumah tanpa membawa (tidak jadi membeli) sepotong gamispun. Namun ketika ada gamis yang bagus kualitasnya, saya tahu itu harga cukup (tidak murahan, tidak juga over price) sayapun membelinya. Kebiasaan itu tertanam secara tidak sadar, jika dahulu (jaman susah di masa kecil) karena tidak punya uang namun kini lebih berhati-hati walaupun uang selalu mencukupi.

Ada pepatah dari sebuah filosofi luar, “owning more stuff is not better, owning better stuff is better“.

A better example for our kids

Yak! ini adalah sebuah sekolah termanjur, ter-baik, pertama untuk anak saya : rumah. Hanya di rumah dan melihat ortunya si balita saya mampu meniru apapun yang kami lakukan. Maka ini adalah bagian dari sebuah pelajaran pentin bahwa membeli sesuatu membutuhkan proses, tidak selalu harus ada dan menjadi berbeda itu tak masalah. Misal, tatkaa semua temannya memiliki Televisi. Di rumah kami sengaja tidak menyediakan TV. Ketika mau jajan pun ia harus cek apakah uangnya sudah cukup (ada jatah khusus, mau nabung atau jajan). Bukan karena ‘kejam’ dalam konotasi negatif, melainkan ini adalah bentuk ‘ketegaan’ disiplin dalam sebuah keluarga yang kelak akan membawa anak-anak lebih ‘kuat’ dalam berpijak. Seberat apapun tantangannya, dia tidak lemah sebab masalah ‘uang’. Prinsip ini mengingatkan saya bahwa kami selaku orang yang sudah melalui masa kecil harus belajar ekstra untuk mengubah habit, mengubah sikap. Kami tidak ingin anak-anak kelelahan mengejar semua ‘nilai penting’ kehidupan ini ke depan. Apa itu? habit positif.

Less work for someone else

Ini mengingatkan pada sebuah tayangan masa lampau betapa lelahnya sebuah keluarga untuk berbenah barang peninggalan sanak keluarganya yang meninggal. Bagi sebagian besar orang mungkin berfikir membeli barang sesuai ambisinya mampu ia turunkan ke anak-cucunya. Namun perlu kita ketahui bahwa tidak semua barang itu mampu membuat anak bahagia, justru sebaliknya. Kebanyakan anak akan frustasi, bingung dan entah mau berbuat apa terhadap barang peninggalan orang yang sudah meninggal. Oleh karena itu, minimalis ini menjadi jawaban penting agar orang yang dicintai pun kelak hanya perlu sedikit berbenah sebab barang kita memang sedikit.

Less comparison

Hidup di jaman serba canggih, membuat jarak perbandingan semakin lekat. Dulu, apabila kita berkunjung ke seseorang kita akan baru tahu apa yang mereka miliki setelah kita berbicara, bercengkerama dan melihat secara fisik. Namun zaman ini, hidup berbeda benua pun kita dengan sangat mudah membuat perbandingan. Betul?

Jangankan berbeda benua, di media sosial pun selalu ada yang membandingkan diri bukan?

Dengan minimalis, aktifitas ‘membanding-bandingkan’ apa yang dimiliki itu akan pudar dengan sendirinya. Kenapa? karena kita sudah puas terhadap apa yang sudah ada walaupun hanya dalam jumlah sedikit.

More Contentment (happiness with one’s situation in life)

Kalo dibahasaindonesiakan maksudnya kita lebih mudah menikmati kebahagiaan yang hakiki walaupun tidak dengan memiliki barang tersebut. Kadangkala saya berfikir, apakah benar dengan memiliki barang A maka saya bahagia? kemudian saya coba beli, ternyata biasa aja. Atau saya mencoba, apakah saya mampu tidak membeli barang B padahal saya sangat menginginkannya?. Ternyata saya mampu menahannya dan setelah saya tanya kepada salah seorang teman yang sudah membeli barang B, dia kecewa. Dalam hal ini maka saya bersyukur belum membelinya dan saya pun mampu menciptakan kebahagiaan sendiri tanpa perlu oranglain tahu. Kebahagiaan itu dari sesuatu yang sederhana.

More freedom

Ini yang saya cari! saya ingin bebas dari segala bentuk clutter, baik barang maupun pikiran. Maka PR utama dan pertama adalah meminimalkan yang nampak dulu (barang-barang) sehingga setelah bebas dari fisik yang overwhelm, pikiranpun akan membebaskan dirinya untuk lebih nyaman.

Sebagaimana ketika saya bekerja, bukan karena sebab finansial namun juga saya mempertimbangkan kebebasan diri. Jika pekerjaan itu membuat saya tertekan maka akan saya tinggalkan, sebab kenapa? kebebasan pikiran jauh lebih utama karena ikigai saya, karena saya percaya when I don’t work for money, I work for freedom. Dan nilainya akan jauh berlipat dibandingkan bekerja sebab oranglain.

Less stress

Stres disebabkan oleh banyak hal. Namun, pada umumnya seorang ibu rumah tangga adalah kelelahan mengurus rumah, anak dan pikirannya. Oleh sebab itu, dengan memilliki barang sedikit ini sangat membantu saya untuk mengurangi stress. Sehingga walaupun masih ada stres, namun tidak sebanyak pada saat sibuk dengan barang-barang 🙂

Less distraction

Aaaaaah! ini saya banget, sangat mudah terdistraksi. Awalnya saya kira ini ‘wajar’ karena memang fokus seorang wanita mampu kemana-mana. Namun ternyata ini ngga benar! karena pekerjaan saya menjadi terbengkalai, sering molor dari deadline dll. Dengan memiliki sedikit barang, kini tinggal belajar mengatur digital clutter aja. Misalnya media sosial, atur lagi waktu onlinenya. Alhamdulillah distraksi itu mulai berkurang. Hepi dong yaa 😀

Okeh itu dulu sharing part 1 ini. Jika ada pertanyaan bisa lampirkan di kolom komentar yaa. InsyaaAllah saya jawab semampu saya. Kita jumpa lagi di part selanjutnya 🙂 daaah~

 

Salam, #minimalisnik

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *