IBU PROFESIONAL KELAS PRA BUNSAY

#NHW3 PRA BUNSAY – SELESAIKAN MASA LALU

Setelah membaca materi hari ini, dalam hatiku berkata “Wah! ini kan masa laluku duluu, huhuhu.” Pernah saya tulis disini, sini, sini, sini, sini AHAHAHAHA kok banyak sih? iya, ngga semua, hanya itu sebagian aja saya share. Sisa-sisa peninggalan ‘kenangan usaha berdamai dengan masa lalu’. Selebihnya ada di tempat lain 🙂

Yap! setiap kali saya menuliskan hal yang berkaitan dengan masa lalu seperti ada kesiur angin yang membawakan berita lama. Memanggil-manggil kembali memori yang sudah terasa netralnya. Tidak mudah berdamai dengan masa lalu, diri ini setidaknya butuh waktu sebelas tahunan untuk mampu berdiri tegak tanpa ada rasa yang nyeri didalam hati (dari SMP hingga lulus kuliah dan menikah). *cleansing innerchild.

Apa pasal? pasalnya berat di kala itu, namun saya cukup mencoba menguatkan dan sok kuat. Endingnya membuat kacau dunia perakademikan -suer! jika tidak segera ditangani kala itu bisa jadi problem kehidupan dan tidak akan pernah ada ‘Khoirun Nikmah’ yang saat ini. So, I have to say thanks and being grateful thats what makes me joyful.

Alhamdulillah segala karat masa lalu sudah ternetralisir sempurna, baik melalui guru, psikolog dan terapis selama sebelas tahun (2006-2018) lamanya. Menjelang lulus SMP (2006) saya seringkali ‘menetralisir’ memori pahit dibantu oleh beberapa guru, kemudian lanjut SMA dan kuliah (dengan psikolog) untuk mengatasi problem ‘tidak suka lelaki’, ‘benci ortu’ dan juga ‘tidak percaya diri’. Hingga terakhir setelah menikah juga mendamaikan sisa-sisa problem penghambat produktivitas.

Ada banyak memori pahit di masa kecil, mulai dari paling mengerikan hingga yang menusuk jiwa (Lha kok gitu sih Nik? emang nggak ada manis-manisnya apa? BIG NO, I can’t remember thats. Apa manisnya masa kecil saya? there’s no memory there I saw). Jika seorang anak kecil diabaikan oleh orangtua mungkin sebab mereka sibuk, masih wajarlah ya. Ortu sibuk juga bekerja demi anaknya kan? Namun jika kita benar-benar ingin ‘dibunuh’ dan ‘dibuang’, dibiarkan tak jelas setiap hari? siapa yang sanggup melupakan peristiwa itu? tentu tak ada, bahkan mungkin yang menyaksikan atau mendengarkannya juga bakal geram. Ya! itulah yang saya alami, hingga kini saya juga masih ingat namun gambarannya sudah berubah, hehe. Di mata saya potret suram masa silam saat ini nampak lucu dan menggelikan, jika lagu pada tayangan memorinya diputar bukan lagu sedih lagi melainkan lagu Warkop DKI kali ya, wkwkwkwk (jika disambungkan dengan teori VAKOG & TFAN pada materi semua kisah yang pahit itu seperti layar tancap tapi edisi konyol dengan dubber yang berbeda :p).

Kembali kepada NHW, saya langsung lompat ke nomor 3 ya >> lakukan dan tuliskan jembatan Mizan.

Sebelum membaca materi, saya kepikiran penerbit buku nih hehehe. Jadi inget deadline yang belum terselesaikan.

*Please, focusss Niikk -_- terdistraksi mode on

Jadi, apa yang selanjutnya saya lakukan setelah membuat lifeline mapping, analisa VAKOG dan TFAN?

*saya sudah coba-coba membuat di excel lagi dan jadi senyum-senyum sendiri hihi

Sesuai petunjuk, maka saya mengambil kejadian yang paling negatif untuk dijadikan ‘bahan’ pada jembatan mizan saya -seperti ini :

Lalu, apa Visi Ter-Baik saya di masa depan? (Pertanyaan nomor 4)

saya pribadi sudah menuliskannya pada profil blog ini di about me, yaitu : My dream is only one: to be a beneficial human being who give the best I can for others and the environment.

(Sekaligus menjawab pertanyaan nomor 5 : ingin menjadi pribadi seperti apa?)

Saya ingin menjadi diri saya sendiri, seutuhnya, tidak ikut-ikutan oranglain, sebab saya unik dan saya spesial 🙂

Saya adalah pribadi pembelajar, tidak pantang menyerah dan mampu memberikan manfaat seoptimal mungkin yang saya mampu. Sesuai dengan visi terbaik saya diatas, yaitu saya ingin menjadi manusia yang bermanfaat yang memberikan yang terbaik yang saya bisa untuk oranglain dan sekitar.

Demikian NHW 3 kelas Pra-BunSay, sebab kesempatan hidup hanya sekali dan kelak diminta pertanggungjawabannya maka dengan ini saya pertanggungjawabkan hidup saya hanya kepada Allah SWT yang setiap hari, setiap detik sangat baik kepada saya. TanpaNya maka Nikmah tak akan sekuat dan sekokoh ini :’) Terimakasih ya Allah 🙂

Bogor, 18 Maret 2019

10.55 PM

Salam,

Tersenyumlah, semua itu ada hikmahnya 🙂

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *