DAILY

QS. An Nuur (24 : 32)

QS. An Nuur (24) : 32
Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan mengkayakan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha Luas (pemberianNya) dan Maha Mengetahui.

 

bismillah…

semoga Allah senantiasa memberikan kita hidayah.

Menikah? siapa takut ! 😉

beberapa hari ini aku memikirkan topik terkait ayat tersebut.

sudah mampukah aku menikah?

jika kita berada pada pihak perempuan, pastinya ketika keinginan untuk menikah itu muncul ditambah dengan dukungan keluarga so tunggu apa lagi?

tapi ada beberapa curhatan teman yang dituntut keluarganya untuk bekerja dulu, minimal “nampak hasil jerih payah” mengenyam pendidikan di bangku perkuliahan. miris kan? ketika seseorang ingin menunaikan ibadah, justru dihalang-halangi lantaran tujuan duniawi.

hmmm

mungkin kalau boleh sedikit membantu beberapa teman yang mempunyai masalah dengan “negoisasi” dengan keluarganya bisa lah saya membuat dialog seperti ini. 🙂

ayah : putriku sudah hampir lulus (mungkin beberapa sudah lulus) dan hingga saat ini belum ada kepastian kerja.

anak : bekerja kan tidak harus di perusahaan yah.. betul kan bu?

ibu : ya, betul. tetapi setidaknya ketika kamu bekerja di perusahaan bisa membanggakan orangtuamu ini. apalagi dengan gaji besar. (<<<tipe ibu-ibu matre)

anak : hmmm..tapi kerja di kantor resikonya besar bu. ada beberapa teman yang harus melepas jilbab karena bosnya tidak menyukai wanita berjilbab.

ibu : ya carilah perusahaan yang tidak seperti itu nak..

anak : tapi bu, selain ‘kerasnya sikut menyikut’ antar karyawan, terkadang jika kita nampak cantik sedikit bisa diburu lelaki yang imannya lemah. maaf bu, ada kasus tindakan asusila di kantor. beberapa teman berkata seperti itu.

ayah : yang penting bukan kamu toh nduk..

anak : hmmm…yah, bu usia putrimu ini kan sudah dewasa. apakah ananda sudah diizinkan untuk menikah?

ayah : hah?! nikah, sama siapa?!

ibu : kalau orangnya mapan dan berpendidikan tinggi gak masalah nak..(<tipe ibu-ibu matre)

anak : hmmmm…apakah ayah dan ibu ingin putrimu ini masih mau menanggung dosa anakmu ini?

ayah dan ibu : maksudmu?!!

anak : 🙂 begini ayah, ibu.. ketika seorang anak masih dibawah asuhan ayah ibunya. maka dosa-dosanya masih menjadi tanggung jawab ayah dan ibu. tetapi ketika sudah menikah akan ditanggung suaminya. sehingga disinilah pentingnya dan betapa mulianya wanita yang berpredikat sholiha itu :). ayah.. ibu.. taukah ayah dan ibu.. ketika seorang anak ingin menikah, tetapi dihalangi karena aurusan duniawi.. sesungguhnya ayah dan ibu sama seperti menyuruh putrimu ini masuk ke neraka? bayangkan.. ayah dan ibu.. betapa banyaknya gadis yang tidak perawan sebelum menikah, akibat gejolak nafsu yang tidak dibingkai dengan cahaya iman dan islam.. tidak dibingkai dalam pernikahan.. bukankah itu suatu aib? apakah ayah dan ibu menginginkan anakmu seperti itu?

ayah dan ibu : (menghela nafas, diam)

anak : ayah.. ibu.. yakinlah.. ketika ananda berjodoh dnegan lelaki sholih.. ananda tidak akan meninggalkan kewajiban birul walidain pada ayah dan ibu, justru dengan ananda menikah, maka dua kekuatan besar (ananda dan suami) yang insyaAllah akan berjalan di atas syariat islam akan memuliakan ayah dan ibu.. 🙂

ibu : lantas, siapakah laki-laki yang siap menikahimu nak?

anak : laki-laki yang sudah ta’aruf dengan saya melalui murobi bu.. 🙂 semoga ayah dan ibu bisa menilainya dengan objektif sebelum ananda meng-iyakannya 🙂

ayah : yasudah, suruh kedua orangtua laki-laki itu kesini. ayah dan ibu insyaAllah mendukungmu nduk.

anak : 🙂

 

—-

cerita di atas hanyalah fiktif belaka.. tetapi semoga ada ibrah dibalik semua tulisan tersebut. 🙂

wahai saudariku..

memang, dilema hati kita tidak jauh berbeda. “dengan siapakah aku menikah?” pasti pertanyaan itu timbul tatkala kita duduk di semester akhir atau justru sebelum ijazah berada di tangan 🙂

dilema itu wajar, galau juga normal. namun, tatkala perasaan itu tidak diimbangi dengan ikhtiar (usaha), doa dan hati yang tawakkal yang tinggi pada Allah..maka keinginan untuk menikah hanya akan sekedar berupa “keinginan”.

kita boleh mengajukan diri (sebagaimana kisah ibunda siti khadtijah) pada laki-laki sholih. karena sesungguhnya, Allah melihat niat baik itu 🙂

nah.. sekarang apa yang harus kita lakukan?

just do it ! 😉

1. luruskan niat dan perbaiki diri

2. perbanyak ilmu (terutama ilmu agama)

3. ikhtiar (bisa melalui murobi)

4. komunikasi dengan orangtua

5. pasang kriteria 🙂

 

#semoga berhasil

 

^_^

 

*coretan di masa tunggu

16 April 2014

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *