EDUKASI IBU PROFESIONAL

Seminar Fitrah Based Education

Pada hari Sabtu tanggal 28 April 2018 lalu saya hadir di acara yang seru dan penuh ilmu. Sekaligus datang dalam rangka wisuda matrikulasi batch 5, yay! lulus!

Berangkat pagi bersama suami dan anak naik mobil online, perjalanan sekitar 1jam sebab berhenti-berhenti. Di SPBU dan juga Alfamart. Sampai di lokasi (gedung Inovasi LIPI Cibinong) saya ngga langsung naik, ngobrol dulu sama teman dari kelas lain. Kemudian naik sekitar jam 8 siap untuk mengikuti agenda seminar, namun suami ngga ikut seminar jadi bermain sama anak di luar – sebab anak kami ngga bisa duduk diam didalam ruangan. Maka hanya saya saja yang masuk mengikuti seminar penuh dari jam 9 pagi hingga jam 2 siang. Tapi beruntung, didalam ruangan langsung ada teman sekelas (duduk jejer mba Wulan dan Ulul -miip klas 2).

Acara dibuka dengan ‘ice breaking’ game mencatat nama dan tanggal lahir peserta, saya dapat 10 orang dan ternyata dapat doorprize brupa bangnana chip (nyummyy~ asiik) kemudian dilanjutkan sambutan oleh ketua IP Bogor, Mba Finny.

Sebelum proses wisuda Ust. Harry menyampaikan sepatah dua kata. Beliau mengatakan lebih enak menyebutkan kata ‘ibu sejati’ untuk kami. Kenapa? sebab tugas atau peranan ayah/ ibu sejati adalah mengantarkan generasi sesuai dengan peran dan maksud sejati hidupnya (meaning of life).

Dan acara yang ditunggu sebagian besar peserta adalah prosesi wisuda~ yayy!! *)backsound lagu graduation 😀

Dimulai dari klas bunda sayang dan dilanjutkan oleh klas matrikulasi (kelas 1,2 dan 3). Disini saya deg-degan memberikan testimoni proses selama belajar matrikulasi. Walaupun mendadak, efek semalaman ngga prepare, paginya dilanda perut mules juga (berhenti=berhenti di jalan -_-) maka dua menit pun agak zonk! wkwkwk. Tapi intinua dapetlah hehehe. Intinya saya seneng bisa naik kelas, tar lanjut di bunsay amiin.

IMG-20180428-WA0067

Wisuda beres, poto-poto maka acara inti pun berlangsung, cukup seru. Dimoderatori oleh Mba Athy, Ust. Harry memaparkan dari fakta jaman now. Apakah ituu? yap, tentang perceraian!!

Saya sendiri ngga heran oleh fakta itu, sebab ayah ibu saya pun bercerai saat usia saya dua tahun, sik bayik, HEhehe. Pun saudara, teman dan beberapa kenalan yang saya kagumi juga endingnya banyak yang bercerai. Ngga kenal sholeh or sholeha, perceraian itu momok banget kok. Saya mengenal salah satu penulis terkenal- anaknya bunda Pipit Senja- yang menikah muda, semester awal di UI sudah punya 3 anak ternyata tahun lalu bercerai. Ngga tau apa penyebab intinya semua kalangan bisa melakukannya.

Menurut Ust. Harry terdapat 2 poin penting penyebab perceraian, yaitu tidak adanya misi dalam berumah tangga dan tidak ada proses pendidikan didalamnya.

Misi itu penting sebab ia ajeg dan mengantarkan seseorang pada nilai kehidupan. Ngga akan mati jika visi gagal, sebab masih banyak jalan. Dan proses pendidikan (saya dan suami menyebutnya ‘pembinaan’ klo didalam rumah :D) sangat menentukan peran dan aktifitas setiap anggota keluarga. Ust. Harry mengatakan, “memang agak miss, setiap orangtua mengharapkan anaknya baik dan sholeh setelah keluar dari gerbang sekolah, sedangkan sekolahan mengharapkan anak-anak siap menerima ilmu (adabnya, akhlaknya udah okeh dari rumah) setiap masuk kedalam pintu gerbang sekolah. Ngga match!”

Apabila peradaban barat mengatakan anak harus mandiri (termasuk biaya sekolah mencari sendiri) pada usia 12 tahun (jews) sebab tuntunan nilai kehidupan mereka. Islam pun memiliki rambu-rambu dalam masa akil baligh yakni usia 15 tahun. Jadi, setelah anak berusia 15 tahun, segala harta yang kita berikan padanya jatuhnya adalah sedekah untuk anak. Bukan sebuah kewajiban lagi.

Berbicara tentang fitrah (sesuai judul diatas) oleh Ust Harry dijelaskan maknanya, ada yang mengatakan fitrah itu netral, ada juga fitrah negatif dan ada juga yang berpendapat penuh kebaikan (positif). Akhirnya beliau mengambil kesimpulan dari sebagian besar pendapat ulama bahwa fitrah itu baik (positif). Apabila kita fokus padanya maka ibarat kita fokus pada sebuah cahaya, semakin lama ia akan semakin bersinar menerangi semesta. Masalahnya justru selama ini kita lebih fokus pada kegelapan.

Ada sebuah fakta mencengangkan dari Lulusan terbaik harvard university. Kita tahu bahwa alumni harvard sangatlah cerdas, orang terpilih. Diambillah 19 lulusan terbaik Harvard, dipantau selama kurang lebih 15 tahun. HAsilnya? 50% dari mereka mengalami kebangkrutan, 50% nya lagi terbagi menjadi 2 : yaitu dipenjara sebab melakukan manipulasi angka/data, sisanya bunuh diri. Naudzubillahimindzalik.

Artinya apa? cerdas secara intelektual saja tidak cukup. Ada 2 poin penting lainnya yakni fitrah dan adab. dua hal tersebut hanya didapatkan di rumah, di keluarga.

Fitrah sendiri artinya suci. Apabila ia diasah akan mengahasilkan sosok anak yang inspiratif, penuh antusias. Contoh, anak yang suka membaca, cinta membaca akan terus membaca buku hingga akhir hayatnya. Berbeda anak yang (dipaksa) bisa membaca, setelah ia bisa membaca sudah ia akan berhenti disana.

Pun sebaliknya, fitrah juga bisa padam cahayanya. Ia menghasilkan sosok anak robotik, mechanism. Contoh, anak yang dipaksa masuk pesantren. Tidak menerima dengan sepenuh jiwa, ia akan merasa bebas dan senang pada saat ‘libur telah tiba’ serta meninggalkan kebiasaan yang secara mekanik ia lakukan setiap hari di pesantren. Muncullah kalimat “aku kan sudah sholat tahajud di pesantren, liburlah kalo udah di rumah..” dst.

Pun demikian terkait usia aqil baligh, Ust. Harry mengatakan bahwa terjadi turbulensi (perputaran/kebingungan) anak antara usia 10 hingga 25 tahun. Pada saat itu perkembangan biologis anak mengalami kemajuan pesat, sedangkan psikologisnya tidak. Jadi ada fase menunggu disana. Belum lagi godaan yang luar biasa dari berbagai sisi (mulai dari film, gaya hidup, lingkungan pertemanan, game hingga narkotika) yang sulit anak-anak hindari.

Padahal, di zaman dahulu terdapat beberapa tokoh pemuda yang justru cemerlang di masanya. Katakanlah sosok pemuda Al-khawarizmi (algoritma) , Imam Syafi’ie (pedagogi kritis), Imam Ghazali (pendidikan), Muhammad Al-Fatih (penakluk konstantin), Hasan Al-Banna (Tarbiyah) dll. Tokoh pemuda Indonesia juga demikian banyak, dari HOS Cokroaminoto, Muhammad Natsir, Ki Hajar Dewantara dan tokoh sumpah pemuda. Artinya mereka melewati fase pendidikan fitrahnya dengan baik.

Apabila kita mau belajar dari shirah Rasulullah Muhammad SAW dan para sahabat, rata-rata beliau-beliau sudah mencapai tahap mukallaf antara usia 12-17 tahun. Mandiri, matang dan sudah siap membangun peradaban (menikah). Contoh terbaik adalah Rasulullah, dimana beliau belajar berdagang pada usia 12 tahun, kemudian menginjak 17 tahun sudah menjadi business owner, menikahi Khadijah dengan mahar luar biasa (senilai 50 milyar rupiah). MasyaAllah..

“Tiada yang kebetulan di Muka Bumi…” kata Ust. Harry

Terdapat pesan khusus mengapa ALlah menciptakan manusia di muka bumi. Bahkan alasan khusus kenapa kita dilahirkan di abad ke 19, 20 dst. Intinya adalah supaya kita senantiasa beribada padaNya dan menjadi khalifah di muka bumi. Misi atau tugas manusia disini tidak lain adalah memberi manfaat dan rahmat kepada oranglain dan lingkungan.

Ust. Harry menceritakan tentang fenomena zaman. Sebelum muka bumi dihuni oleh manusia, semua binatang dan tanaman tumbuh besar-besar. “pada akhirnya yang besar-besar itu dikecilkan, diturunkan hingga sesuai dengan kebutuhan manusia. Bahkan kadar oksigen, karbondioksida dan hidrogen diatur sedemikian rupa.” tambah Ust. Harry. MasyaaAllah…

Untuk membuat misi, kita perlu memahami diri kita, kelebihan, passion dll. Contoh Pak Rudy Habibie, sejak kecil menekuni otomotif, bidang kesukaannya pesawat terbang, konsisten hingga beliau mampu membuat pesawat terbang di usia mudanya. Saat beliau sudah berusia senja, justru semakin produktif. Tidak sendiri, namun semua itu beliau turunkan kepada generasi penerusnya (Ilham Akbar Habibie).

Fitrahnya manusia adalah menerima agama dengan baik (islam). Maka apabila seseorang kesulitan memahami agama islam, bisa dikatakan ada fitrah yang terganggu pada masa pembentukan (0-6 thun) nya. Maka pada usia 0-6 tahun kita fokus pada penguatan fitrah anak.

Fitrah ini akan mengantarkan setiap individu menemukan misi hidupnya, menjalankan perannya dengan baik dan memberikan manfaat pada kehidupan. Sayangnya masih banyak sistem pendidikan yang belum sesuai dengan fitrah based education ini, ini PR kita bersama.

Contoh menanggapi masalah kenakalan anak, labeling pada anak seringkali adalah ‘warisan’ sistem pengasuhan dari masa ke masa. Menurut Ust. Harry, “justru kenakalan pad aanak itu merupakan potensi yang belum nampak, maka perbanyaklah bersyukur. ganti kosakata negatif menjadi doa terbaik.”

Misalnya, saat anak suka berbicara maka anggaplah itu potensi ‘diplomat, pembawa acara terkenal’, atau anak suka bereksperimen (menumpahkan segala macam barang) sebut saja sebagai ‘scientist’ dll. Sebab kata-kata = doa, apalagi yang diucapkan oleh seorang ibu..

Ust. HArry memaparkan juga kandungan dari surat Al-Fatihah tentang makna ‘jalan’. Dalam menentukan misi juga demikian, tentukan jalannya dulu baru kemudian caranya. Untuk caranya pilih yang paling disukai, cepat dan efektif (yakni dilihat dari bakat). Untuk memudahkan menentukan jalan hidup kita, berikan pertanyaan “mengapa?” (Why). Semakin detail alasan kita, maka semakin kuat jalan yang kita tempuh, ngga akan mudah mati di tengah jalan.

Terakhir, Ust. Harry menutupnya dengan sebuah puisi

Jelaskan maknamu

Bukan keraskan suaramu

Karena deras hujan yang menumbuhkan

Bukan petir ataupun gemuruh.

Semoga bermanfaat

Detail FBE ada di buku beliau yang terbaru, Fitrah BAsed Education. *baru baca halaman pertama udah mewek wkkwk. semoga next time bisa kita bahas lagii

Salam.

Khoirun Nikmah

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *