EDUKASI

Semua ada ‘porsinya’

Aku percaya bahwa ngga ada yg kebetulan di dunia ini, semua sudah diatur olehNya. Hanya kita perlu berusaha sedikit dan banyak bersyukur.

Dulu, aku suka kesel sama orang yang gak mau menghargai oranglain. Bahkan aku nggak suka sama orang yang semena-mena mengatakan ini itu tanpa tau seperti apa diriku. Tapi kini aku sadar, itu semua sia-sia.

Allah telah memberikan porsiNya. Bahkan waktu juga sama Dia ciptakan untuk manusia. Tinggal bagaimana manusia itu memanfaatkannya.

Tak perlu menjelaskan apapun tentang diri kita kepada orang yang membenci, karena semua pasti fokusnya kepada apa keburukan keburukan kita. Dan tak perlu juga menjelaskan kepada yang menyukai karena ia tak membutuhkan apapun penjelasan itu dari kita.

Semakin kesini aku memahami, bahwa manusia itu punya porsi fokus berbeda beda. Ada yang memaang sukaa banget pada keburukan orang, tertawa dan tergelak pada saat posisi kita sedang melakukan kesalahan. Dam bersedih pada saat kita melakukan perbaikan. Ada juga yang netral, ada juga yang support dan membangun karena menyadari manusia bukanlah malaikat yang harus positif selalu.

Allah sendiri sangat Maha Penyayang, Dia berikan karunia kepada siapa-siapa yang Dia Kehendaki bahkan jika misal kesalahan manusia itu sebanyak bumi dan langit, Allah Maha Pengampun lagi Maha Bijaksana.

Di usiaku yang kata orang masih muda (tapi menurutku sudah tua) ini, semakin ku gantungkan semua ini kepadaNya. yang kupercaya adalah, tak akan ada yang abadi di dunia ini selain CINTANYA. karena cinta Nya Maha Sempurna. Lantas kenapa masih mengharap cinta manusia?

Tak ada satu pandangan apapun kini diriku pada siapapun, semua kuanggap sama. Hanya frekuensi diri inilah yang bakal terasa mau dekat dengan siapa, itu intuisi.

Sejatinya, orang pasti mau bertumbuh dan mendewasakan diri. Jika kita menuntut oranglain bersikap dewasa, sejatinya kita juga harus demikian adanya. dewasa itu bukan sebanyak apa usia, melainkan seberapa banyak kebijaksanaan dan perubahan diri. Hanya diri kita sendiri yang mampu mengukur dan menerimanya dengan penuh kesadaran.

Banyak ku belajar dari putraku, dia begitu menyayangiku dan sangat menghargaiku. Baginya, walaupun aku gak seperti umi yang lain yg pandai masak (misal) tapi dia senantiasa menerimaku apa adanya. Pun dengan suami, yang tanpa menggurui dan tak ada raut dan kata negatif sepatah katapun selama ini.. selalu tau dan support bahwa istrinya sedang berjuang.

Intinya apa?

Keluarga adalah inti.

Namun keluarga bukan berarti orang di rumah. Semua orang yang memiliki jiwa membangun ke araj lebih baik, bagiku itulah keluarga.

Hanya saja, biasanya yang sudah berjumpa tatap muka itulah yang energinya melebihi ekspektasi. Kurasa begitu, karena tulisan terbaca bergantung dari persepsi dan tone masing masingnya.

Sejak dulu, tak ada teman yang kulekatkan dengan erat. Sebab pesan ibu adalah ‘tak ada teman sejati, karena matipun kita sendiri sendiri’.

Maka dari itu, sesuai dengan porsi dan karakter yang Allah beri.. aku memaklumi, setiap orang.. berbeda. Porsinya.. pun cobaannya, masa lalunya dan masa sekarang.

Selamat mencerna.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *