EDUKASI

Tentang Pejuang Literasi

Sejak kecil saya tidak memiliki TV di rumah, pun hingga menikah dan berjodoh dengan sosok laki laki yang juga tidak menyukai TV. Jadilah kami pasangan yang nggak punya TV πŸ˜‚

Sempat saya tergiur pengen TV buat nyetel DVD, endingnya beli komputer. Tapi ternyata anak saya lebih menyukainya padahal niat awalnya komputer dibeli untuk bekerja didalam rumah. Akhirnya pekan kemarin saya jual itu komputer dan tadaaa~ anak saya jadi balik ke kondisi awal : bermain bersama buku bukunya lagi.

Melek literasi dan menjadi pejuang gemar baca buku ini seolah melawan arus di era digital yang serba instan dan cepat. Informasi berseliweran bak air hujan yang tumpah meruah tak terbendung bahkan menjadi air bah yang siap menerkam siapapun yang tidak menyadari efeknya.

Membaca buku memang menjadi sesuatu yang langka, semua orang serba beralih ke gadget. Bahkan nonton streaming pun beralih ke genggaman tangan.

Saya sendiri juga mulai membaca buku dengan lithium di gadget, ebook. Terutama ebook yang belum tercetak kedalam penerbit Indonesia (buku asli terbitan luar negeri). Sah sah saja selama itu pengetahuan, saya sendiri mulai menabung untuk membeli e-reader (antra kobo atau kindle).

Hal yang perlu kami turunkan ke anak adalah ruh membaca ini. Membaca buku terutama  sebab tidak ada alat atau metode apapun yang paling handal dalam penyerapan ilmu selain dari kegiatan membaca.

Agak miris jika kondisi negeri ini sudah dijajah oleh gadget. Gadget bukan dijadikan sebagai sarana yang positif, justru digunakan kepada hal-hal yang tidak seharusnya.

Udah okeh itu ada versi lengkap dari Tempo.

Lalu bagaimanakaj menumbuhkan minat baca ini?

Yang jelas nggak bisa simmm salabimm avra kadavra yak. ngga instan. bahkan prosesnya sangat panjang.

Beruntunglah jika kalian hidup di tahun 90an dimana TV saat itu masih menjadi barang mewah. Saya sendiri nggak punya TV, tapi punya radio. Kebiasaan sehari-hari saya menggembala kambing bersama nenek. Waktu itu belum ada gadget, mungkin jika jaman now bisa aja selfi ama si kambing kambing yak wkwkwkk. 

Masalah datang saat saya menggembala kambing itu, semilir angin membuat ngantuk padahal mata nggak boleh meleng sedikitpun. Kenapa? sebab kalau ngga, maka itu kambing bakal makan padi di sawah orang (kena marah orang).

Maka solusinya waktu itu adalaah saya sering membawa buku paket PPKN dan bahasa indonesia untuk dibaca. Khatam baca buku itu maka saya memilih pinjam buku secara kontinu ke perpustakaan. Tak heran petugas perpustakaan sering ngomel sebab saya paling sering meminta kartu peminjaman buku perpustakaan baru sebelum masa berlaku habis – di saat semua teman saya masih utuh bersihπŸ˜…

Kebiasaan itu menimbulkan rasa suka dan nyaman dengan membaca. Kadangkala ada masanya saya bete dengan buku yang kurang menarik dan isinya monoton, tapi kegiata membaca ini pada akhirnya menjadi habit.

Pun dengan suami, pada masa mudanya juga berjuang. Pernah menjual buku-buku dan koran juga.

Terkadang kita tidak akan pernah memahami sesuatu dengan komprehensif tanpa membaca sumber ilmu : buku.

Bahkan kami memiliki cita cita berkuliah dengan biaya sendiri juga berawal dari kegiatan membaca ini.

Nah tantangan di era 2000an ini sangat berat. Pasalnya para bayi yang lahir di jaman ini sudah tau berbagai model gadget. Ruh membaca buku seakan lenyap dengan sendirinya.

Namun kami tidak mau berdiam diri begitu saja. Salah satu usaha mungkin dengan tidak adanya TV tapi apakah itu menjamin?

Tidak.

Anak butuh keteladanan. Maka mau tidak mau kami harus lebih rajin lagi dan tekun membaca. memikiki target baca dll.

Kegiatan juga demikian, setiap keluar kota atau pergi jalan jalan suami selalu mengarah ke toko buku. Ini salah satu buku buku keren yang sangat perlu kita baca πŸ˜†πŸ˜πŸ€—

Yuk menjadi pejuang literasi. Itulah kenapa saya juga tergabung di rktim dalam berbisnis tools edukasi anak. Karena membaca itu bukan bakat, ia adalah habit yang perlu dipupuk sejak dini 

1 thought on “Tentang Pejuang Literasi”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *