DAILY

Akhirnya aku punya Ayah

Hai, hari ini berbeda dengan hari kemarin. Yeah, setiap hari memang berbeda. Namun kali ini adalah waktu yang tepat aku untuk menuliskannya. Tentang ‘ayah’.

Kemarin adalah hari bahagia ibuku, setelah lebih dari dua puluh tahun hidup sendiri akhirnya ibu mau menikah. Dan akupun ikut senang. Sebenarnya sudah sejak lama aku merindukan sosok ayah. Bapakku sendiri masih hidup, bapak lebih memilih menelantarkanku dan ibuku serta lepas tangan sejak aku berusia 3 tahunan. Jadi aku memang benar-benar tidak dekat dengan sosok bapak. Sempat aku ceritakan dan cleansing di sini.

Saat aku sekolah, seringkali diolok-olok oleh temanku sebab hanya aku yang tidak mempunyai bapak. Lebih tepatnya aku diasuh oleh (almarhum) kakekku dan nenek (yang kupanggil emak). Jadi, aku sangat dekat dengan emak dibandingkan dengan ibuku sendiri.

Dulu ingin rasanya aku seperti keluarga yang lain, lengkap, ada bapak ada ibu dan ingin punya adik juga. Namun semua itu tidak terwujud, aku tetap sendirian *tunggal dan bapakku seolah menghilang ditelan bumi. Setiap kali orang bertanya, secara otomatis aku marah dan sangat sedih. Benar-benar tidak ada bekas kasih sayang sedikitpun yang ada didalam memoriku hingga ada suatu masa aku menjadi membenci laki-laki.

black-father-and-daughter-having-fun-clipart-6

 

Harapan satu-satunya saat itu adalah pikiranku, aku berpikir hanya dengan menjadi orang yang unggul maka aku tidak akan diolok-olok lagi. Maka sejak SD aku bersemangat sekolah dan mengukir prestasi. Walaupun setiap pengambilan rapor, aku selalu sedih karena disana tidak ada perwakilan dari bapak maupun ibuku.

Ibuku pergi bekerja dari pabrik ke pabrik, menjadi TKW, berjualan hingga menjadi pemulung. Sedangkan diriku sejak kecil ikut emak angon (menggembala) kambing dan membereskan rumah orang (bukan KonMari ya hehehe). Bahkan aku juga menambah pekerjaan sambilanku saat SMP-SMA adalah menjadi tukang pekerja PR- dimana jika ada siswa yang beda sekolah ataupun beda jurusan yang kesulitan mengerjakan PR maka aku memberikan jasa dengan tarif tertentu. wkwkwkwk

Ketika SMA, aku nekat ingin menemui bapakku di Pasuruan. Endingnya ternyata aku memang benar-benar dibuang dan tidak dianggap oleh dia. Okelah, fine. Tak masalah toh sejak kecil aku juga tidak perna meminta atau mendapatkan nafkah dari bapak. Jiwa kemandirianku semakin membara hingga akhirnya aku berani kuliah (belum ada bidik misi waktu itu) dengan beasiswa dari beastudi etos di kampus ternama (ITS).

Namun mataku selalu berkaca-kaca setiap kali melihat nama bapak di setiap ijazah sekolahku. Impianku ingin menghadirkan kedua orangtua lengkap saat aku wisuda, namun sia-sia. Sebab bapak sudah bersumpah membuangku dan tidak menganggap aku lagi, dan ibuku saat itu juga belum menikah lagi. Jadi saat wisuda yang hadir adalah emak dan ibuk.

Setelah aku lulus, yudisium dan menikah, aku punya bapak juga akhirnya..bapak dari suami. Bapak mertua yang luas wawasannya dan sangat mendukung pendidikan anak-anaknya. Padahal anak bapak sangat banyak, suamiku punya tujuh kakak dan tujuh adik. sangat luar biasa keluarganya. Bahkan bapak mendukungku agar kami berdua bisa lanjut ke master degree.

Tepat tanggal 14 Maret 2018, ibuku menikah. Aku tidak bisa hadir namun aku hanya membantu doa dan finansial seperti biasa. Rasanya agak kikuk diriku, sudah lama banget dan bahkan aku tidak ingat sama sekali bagaimana punya orangtua laki-laki sendiri. Perasaan itu mungkin berbeda jika setelah ibu bercerai langsung menikah, nah ini jauh lebih dari dua puluh tahun usiaku.

Siang tadi ibuku nelfon, katanya ‘ayah’ ingin menyapaku.

Deg! kagok rasanya, hahahaha. entah ada perasaan gimanaaa gitu ya.. begini ya rasanya punya ‘ayah’?

Ibuku mengganti nama bapak dengan ayah (baru) agar aku tidak mengingat segala kejahatan bapakku sendiri yang mau membunuhku, yang menelantarkanku dll. Hehehehe, aku sih udah cleansing udah beres insyaaAllah kuanggap semua adalah ujian dari Allah agar aku kuat.

Ayah?

Ayah baruku ini adalah adik dari ayahnya teman sekolahku (aku lupa nama aslinya, tapi panggilannya si sipit-laki-laki). InsyaaAllah orang yang taat dan baik. Ibuku sudah puluhan kali menolak lamaran orang, tahun lalu katanya sempat menerima orang tetapi ibu nggak sreg dan batal.

Kalau menurutku ini adalah rezeki kami. Dan aku jadi bersemangat untuk sekolah lagi, mewujudkan harapan masa laluku dimana aku ingin yang hadir wisudaku adalah kedua orangtua yang lengkap *ibu dan ayah

Bismillah..alhamdulillah..

Mungkin bagi semua orang yang tidak pernah merasakan hal sepertiku dibilang agak aneh ya, kenapa juga deg degan dan salting sama ayah baru?

Sama seperti saat aku tanyakan ke suamiku, “gimana rasanya punya bapak dan ibu lengkap?”, “gimana rasanya punya adik dan saudara yang banyak?”

Jawabannya yaa biasa aja.

Namun bagiku, itu sangat istimewa ūüôā

Oke nik, akhirnya… NikNik punya ayah… Alhamdulillaaah

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *