2.09 BUNSAY LEVEL 9

Aliran Rasa Game 9 #Mengasah Kreatifitas Anak

Alhamdulillah game level 9 bertema ‘Mengasah Kreatifitas Anak’ sudah selesai, namun nilai/poin mengasah kreatifitas ini akan tetap terus berjalan karena hal ini senantiasa alamiah melekat pada diri anak.

Pada post blog kali ini, saatnya saya menumpahkan perasaan, uneg-uneg dan cerita dibalik tantangan game ini.

LINK Worksheet disini.

Dari 17 hari tersebut, saya membuat list yang saya susun untuk dijadikan indikator tantangan -ceklis berpikir kreatif anak.

Di hari pertama tantangan, sebenarnya sudah saya jelaskan asal muasal list tersebut, yang 3 poin utama saya dapatkan dari Adam Grant (Profesor dari Universitas Wharton School of Pennsylvania). Poin selanjutnya saya ambil dari beberapa referensi dan termasuk dari Pandu 45.

Karena ini menunya harus mengalirkan rasa seluruh perjalanan tantangan, kalau begitu ceritanya saya mulai dari poin indikator aja.

Values over rules

Nilai (Values) ada pada posisi diatas aturan. Ini berlaku ketika mengerjakan sesuatu hal yang berkaitan dengan aturan namun menabrak nilai. Hal ini perlu dibalik, semua hal harus dimulai dari nilai/valuenya barulah kemudian bicara aturan.

Misalnya saat merakit mainan, biasanya Syahid saya minta cek petunjuk pembuatannya, namun pada praktiknya dia otodidak mencoba sendiri tanpa melihat aturan urutan pemasangannya. Hasilnya pun kadang jauh lebih unik dibandingkan petunjuk awal. Dalam hal ini poin utamanya ada pada nilai, bukan estetika semata.

Character over behavior

Karakter diatas perangai/tabiat. Ini paling penting, jangan sampai karena membiarkannya berkreasi, menjadi kehilangan nilai karakter baiknya. Atau jika seorang muslim, jangan sampai kehilangan ruh islamnya.

Didalam rumah biasanya karakter kerapian yang memang diutamakan saat Syahid melakukan kreatifitas. Seusai berkreasi, secara otomatis dan perlu pengulangan, dia rapikan dan kembalikan ke tempat semula. Karakter utama dalam pengulangan kerapian ini lebih kepada bentuk rasa tanggung jawab diri pribadinya terhadap apa yang sudah dikerjakan.

Lessons from books

Poin ini tidak pernah terlewat dari segala jenis tantangan karena memang menjadi sumber utama di rumah. Buku-buku membuat Syahid melihat banyak hal kreasi, pelajaran dan nilai. Karena tanpa TV, maka buku menjadi kawan setiap hari. Dari beberapa studi yang saya baca, menumbuhkan kreatifitas anak yang paling berdampak melalui buku. Dengan belajar dari berbagai jenis buku, cabang neurons otak akan mengikatnya dan membuatnya semakin kaya wawasan.

Berani mengemukakan pendapat

Salah satu hal yang menjadi kegembiraan tersendiri ketika anak mengemukakan kalimat panjangnya setiap melakukan sesuatu. Kadang jika saya flashback, mengingat Syahid dulu jika bicara terbata-bata dan sulit diterjemahkan, kini bisa runut, tumbuh rasa haru tersendiri.

Salah satu ciri anak kreatif yang pernah saya baca dalam sebuah buku, adalah berani mengemukakan pendapat. Jika melihat usia kini, Syahid 4 tahun dia bukan hanya pandai berpendapat bahkan mulai berani mematahkan pendapat saya. Ada beda pendapat dan cara menurut sudut pandangnya, ini yang membuat diri saya terharu sekaligus perlu banyak nyetok sabar berkarung-karung, hehehe.

Terbuka dengan Pengalaman Baru

Beberapa aktifitas yang tidak familier memang perlu dikenalkan. Dulu, Syahid kurang menyukai yang kotor-kotor, setiap lembek atau ada yang lengket dikit menempel di tangannya, dia bergidik dan tidak mau menyentuhnya. Kini, pengalaman itu sudah tersubstitusi dengan pengalaman baru yang membuatnya gembira, membat kue. Bahkan jika boleh diceklis, hampir setiap hari Syahid selalu menyelipkan agenda memasak di meja belajarnya. Eksekusinya sesuka-suka dan sebebasnya aja.

Berminat untuk meneliti dan mengamati

Untuk hal ini, Syahid banget rasanya, hampir-hampir ada sesuatu yang dia penasaran selalu dia tanyakan. Sepekan lalu contohnya, ketika laron berdatangan, dia kejar hingga seluruh sayapnya rontok dan dia berkesimpulan laron itu keluar untuk merontokkan sayapnya dan kembali ke tanah. Esoknya pun dia ulangi lagi dan lagi.

Semalam, percobaan lilin dan membakar ranting juga dia lakukan setelah melihat tetangga membakar pohon bambu. Rasa ingin meneliti dan mengamati ini menjadi modal kreatifnya.

Pantang Menyerah, Aktif dan Bergairah

Karena basicnya dia anak kinestetik, tentu powernya jauh melebihi daya kekuatan saya. Itulah kenapa ketika saya sudah lelah dan izin rehat, Syahid tetap on fire dengan aktifitasnya sendiri. Kemungkinan untuk menyeimbanginya ketika emosi saja, perlu belajar dan terus dilatih coping skiilsnya.

Membuat Karya Sendiri

Jika ditanya mana hasil kreasinya? tentu bentuknya berupa karya. Dan karya Syahid tidak jauh-jauh dari olahan bahan alam, memasak adonan, membuat kreasi lego dan aktifitas sederhana lainnya (thinking new things).

Inisiatif

Perbedaan yang mendasar dari game sebelumnya ada pada sisi inisiatif, di game ini saya jarang sekali memberikan penawaran kegiatan. Lebih banyak dari sisi anak sendiri yang menentukan. Bersyukur Syahid jadi semakin dinamis dan tidak menggantungkan aktifitasnya pada sekitar atau lingkungan bermain. Inisiatif ini merupakan modal yang kuat dan utama yang patut saya syukuri. Terimakasih ya Nak.

Banyak hal yang bisa saya ambil pelajaran dari game ini :

  1. Terkadang peninggalan judgement daya kreatif pengasuhan masa lalu mempengaruhi rasa penilaian kita terhadap kreatifitas yang dibawa oleh anak. Oleh sebab itu perlu menghilangkan segala bentuk bayang-bayang nilai diri kita saat berhadapan dengan hasil kreasi anak. Karena di depan kita merupakan anak yang otaknya masih terus bersambungan. Ini sulit, berat dan bahkan hanya bisa dilakukan jika dalam kondisi sadar utuh dan waras, wkwkwkwk. So, mamak-mamak perlu menjaga kewarasan dan bahagia setiap hari.
  2. Seorang individu anak tentu berbeda dengan diri kita, anak adalah pribadi dan manusia yang unik yang tidak bisa disamakan dengan apapun dan siapapun. Jadi, stop membanding-bandingkan karya anak dengan anak lain/saudaranya.
  3. Kreatifitas selalu butuh pembuktian melalui pikiran, ia akan terus diasah dan dipelajari dari pengalaman, buahnya menghasilkan ide dan gagasan selanjutnya. Dari sana anak akan terus bertanya bagaimana caranya dan bagaimana, sehingga ia akan menemukan ‘racikan’ dan cara yang pas dan khas sesuai dengan olahan pribadinya. Semoga, kelak di masa mendatang, ia tidak sekadar menemukan ide baru atau hal yang baru namun juga mampu memecahkan masalah dan menemukan peluang sesuai dengan karakter, nilai dan pondasi dasar dirinya (spiritual- islam ada pada akidah, menghasilkan karya yang tidak bertentangan dengan agama).

Demikian aliran rasa game 9, insyaaAllah jumpa lagi di game selanjutnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *