ALIRAN RASA IIP IBU PROFESIONAL KELAS BUNSAY LEVEL 7

Aliran Rasa Game Level 7 #Semua Anak adalah Bintang

Introduction

Mengawali semester baru (setelah tuntas level 6) dengan melanjutkan tantangan di game level 7 ini, tentu bukan hal yang sulit lagi. Bagi saya, menulis tantangan ini sudah semacam rutinitas, yang apabila enggak dikerjakan, enggak enak. Sayangnya, dalam sekali waktu, saya juga jenuh luar biasa, bosan dan merasa tantangan kali ini hambar. Mungkin efek dari saya yang berharap ada jeda libur dulu, atau ada sesuatu yang baru di grup, tapi flat aja.

Membangkitkan sinar bintang yang gemilang dari dada seorang anak, tentu hal yang cukup mudah yang bisa diketahui bersama. Sebab sudah menjadi fitrahnya anak di usia balita, mereka mampu menunjukkan indikatornya- bahwa mereka sifatnya seperti bintang : antusias, punya rasa ingin tahu yang tinggi, mudah gembira, mudah bersinar serta meredup (kadang bosan, meninggalkan aktifitasnya begitu saja) namun seringkali menunjukkan keceriaan -se enggak mood apapun perasaannya di depan ortunya.

Menurut saya, tantangan kali ini justru poinnya ada di diri saya sendiri dan pasangan, mampukah saya hiring jiwa untuk memberikan energi kepada bintang kecil ini secara mulus dan konsisten?

Ternyata enggak selalu, ada setidaknya dua hari dari 17 hari yang jiwa saya kurang mendukung tema ini.

Padahal penting sekali konsisten untuk menjadi teladan dalam hal apapun bagi anak. Ini ada video yang cukup menjelaskan mengapa sikap orangtua terhadap anak memiliki efek yang long term terhadap gaya atau ekspresi cinta kita kepafa anak.

Saya sendiri merasakan betul family war dan ketidakharmonisan di depan mata, tidak ada kehangatan, dingin, beku dan straight sehingga membawa sikap panjang pada diri saya, tidak ada basa-basi dala kehidupan. ini cukup kaku, cukup menyakitkan. Maka perlu rewiring sehingga saya mampu mengubah hiring negatif ke positif.

Alhamdulillah walaupun cuma 2hari mood negatif itu datang, dalam tantangan ini masih bisa dikontrol. Memang inilah gunanya latihan, agar bisa melihat sisi lubang kurangnya diri.

Poin yang saya buat untuk Indikator Tema

Dalam tantangan ini, sedari awal, saya memang konsisten membuat laporannya dalam bentuk tabel (sudah terbiasa dari game level 1) pada lembar kerja excel. Tujuannya untuk memantau keberhasilan diri menuntaskan tema. Saya isi setiap hari, agar mudah saya simpulkan sendiri.

Antara lain saya tulis sebagai berikut (umi, panggilan sayang anak kepada saya) :

  1. Umi meluangkan waktu membersamai anak.
  2. Umi tidak mengeluarkan energi negatif di depan anak.
  3. Umi tidak ngomel, umi sabar.
  4. Anak mampu mengungkapkan perasaannya.
  5. Binar mata anak memancarkan antusiasme dan keceriaan.
  6. Abi mendukung kegiatan anak dan membantunya.
  7. Anak bebas eksplorasi sesuai apa yang diinginkan.

Dari indikator itu, yang paling berperan sebenarnya adalah poin pertama hingga ketiga, faktor internal diri saya. Bisa dipastikan jika seorang ibu kemrungsung (dalam bahasa kekiniannya : memancarkan energi negatif) maka anaklah yang paling merasakan dampak. Itulah kenapa penting seorang ibu menenangkan jiwa serta membahagiakan hati di pagi hari agar mampu memancarkan cinta pada sekitarnya.

Untuk mengatasi hal itu, saya lakukan olahraga (konon, jika peredaran darah enggak normal, jiwa mudah meledak-ledak), sarapan wajib pagi sebelum beraktifitas (minimal mengganja perut dulu) dan mandi.

Penting seorang ibu enggak mengerjakan banyak hal dalam satu kali waktu (karena multitasking is myth, alias mitos, enggak ilmiah, sejatinya otak kita hanya melakukan switching, jika dilakukan terus, mampu menurunkan daya ingat, kecerdasan dst. So, stop multitasking. Saya pribadi sejak dulu kurang bisa multitasking, saya cenderung monotasking, sekalinya multi, saya overwhelm dan enggak selesai semua).

Dampak dari seorang ibu yang terlalu banyak pekerjaan, emosi yang menumpuk enggak dikeluarkan adalah gagal memahami realita dan gelap mata. Seperti cerita dari seorang kawan (katanya lihat di TV), ada berita yang hadir beberapa waktu lalu, cerita yang mudah viral, cerita yang mengiris hati -seorang ibu membunuh bayinya dengan menggunakan mesin cuci- Naudzubillahimindzali- kebanyakan menyalahkan ibu tersebut, bisa jadi memang salah, namun apakah mereka enggak mengkroscek lingkungan di sekitar ibu tersebut?.

Sungguh, menjadi seorang ibu yang ‘waras’ dan ‘positif’ adalah kebutuhan primer di masa sekarang. Maka, please, stop bullying -mungkin enggak terasa mengucapkan namun bisa menusuk hati seorang wanita- serta please teruslah belajar, karena jika kita berhenti belajar, di saat itulah bahaya mengantam. Bukan menakuti, namun demikian adanya. Menjadi seorang ibu justru dituntut untuk terus belajar melebihi dari rutinitasnya.

Saya sendiri enggak memiliki televisi di rumah, bukan karena rumah masih ngontrak, namun merupakan prinsip (dan kesepakatan) sejak awal menikah (mau tinggal dimanapun), kami hindari benda itu. Benda kotak berwarna hitam (atau benda tipis- karena layar tv sepertinya sudah berbentuk datar) yang isinya hampir selalu enggak bisa difilter. Cukup membahayakan bagi kami jika hal itu terdengar atau didengar anak. Biasanya paling mudah mempengaruhi alam bawah sadar, ya berita-berita kriminal itu.

Bukan pragmatis, melainkan menjadi upaya kami bersama, bagaimana menciptakan suasana rumah yang harmonis jika gadget masih sering menyita diri, apalagi jika hadir televisi. Bahkan gadget pun kini amat sangat saya batasi, untuk diri sendiri. Lebih baik bermain or baca buku dengan anak atau ngeblog (untuk menyalurkan energi harian yang tersisa) agar jiwa tetap sehat dan prima.

Bukan anti Televisi, melainkan -faktanya- sejak dahulu (zaman saya dan suami kecil-dewasa-menikah) di keluarga kami enggak ada satupun anggota kami yang menyediakannya. Dulu, karena saya enggak punya listrik dan memang miskin sih jadi enggak kuat membelinya. Namun hal itu ada hikmahnya. Alhamdulillah, bintang di dada kami bisa bersinar dan kini menjadi ikhtiar yang kami terapkan kepada ananda di rumah.

Penutup

Makna bintang juga sangat dalam, terutama dari ALqur’an. Didalam surat almulk, Allah Ta’ala berfirman,

الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَوَاتٍ طِبَاقًا مَا تَرَى فِي خَلْقِ الرَّحْمَنِ مِنْ تَفَاوُتٍ فَارْجِعِ الْبَصَرَ هَلْ تَرَى مِنْ فُطُورٍ (3) ثُمَّ ارْجِعِ الْبَصَرَ كَرَّتَيْنِ يَنْقَلِبْ إِلَيْكَ الْبَصَرُ خَاسِئًا وَهُوَ حَسِيرٌ (4) وَلَقَدْ زَيَّنَّا السَّمَاءَ الدُّنْيَا بِمَصَابِيحَ وَجَعَلْنَاهَا رُجُومًا لِلشَّيَاطِينِ وَأَعْتَدْنَا لَهُمْ عَذَابَ السَّعِيرِ (5)

“Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis, kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Rabb Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang?”

Kemudian pandanglah sekali lagi niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu cacat dan penglihatanmu itu pun dalam keadaan payah. Sesungguhnya Kami telah menghiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang dan Kami jadikan bintang-bintang itu alat-alat pelempar setan, dan Kami sediakan bagi mereka siksa neraka yang menyala-nyala.”

– (QS. Al Mulk: 3-5)

Menciptakan bintang yang bersinar didalam dada anak manusia, penting diawali dari mengasah kepekaan hati, jiwa dan logika. Hal itu bisa dijawab oleh tantangan membaca dan rutinitas positif. Itulah kenapa, kehadiran buku di rumah lebih kami optimalkan dan utamakan.

Semoga, bintang kecilku sehat jiwa dan raganya, dan menjadi sosok manusia yang setiap langkahnya Allah ridho padanya. Semoga Allah menjaga anak-anak kami dan seluruh keluarga kami. Serta menjadi senjata pelempar setan di kemudian hari. Amiin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *