ALIRAN RASA IIP IBU PROFESIONAL KELAS MATRIKULASI

Aliran Rasa MIIPB5

Tidak terasa kelas matrikulasi sudah usai pada pekan lalu. Waktu terasa berjalan sangat cepat. Dari bulan Januari -yang sebelumnya- saya telah mengikuti kelas pra-matrikulasi. Kemudian mencoba test drive sebelum masuk materi matrikulasi dan Alhamdulillah lulus Matrikulasi.

Karena wisuda masih lama maka wajar saya berfikir, sebulan ini ngapain ya jika tidak ada NHW? biasanya saya paling suka dengan NHW yang diberikan, seperti ada tantangan khusus agar konsiten dalam berproses. Hehehe. Alhamdulillah ternyata ada kegiatan menulis juga jadi nggak nganggur pada akhirnya, ada challange tulisan dan program student exchange. Asiiik. saya pun langsung mengikutinya. Ya beginilah orang berkarakter striving, maklumin aja dengan gairah hidupnya. On Fire !!

Tadi pagi saya telah menyelesaikan e-flyer profil, be do have, social venture dan narasi untuk program classmeeting student exchange. Plong rasanya setelah membuat itu semua. Kemudian saya serahkan ke Bu Fasil, eh ndilalah malah dijadikan contoh di grup MCSE wkwkwk.. Semoga membawa inspirasi untuk banyak orang.

Setelah seharian bergelut dengan aktifitas di luar rumah, pulang maghrib bersama anak.. Malam ini saya mencoba menuliskan kembali segala rasa yang ada selama kelas Matrikulasi Batch 5 berjalan.

Lha tadi itu apa? wkwkwk itu diatas belum memulai tulisan inti, itu masih intronya. *)tepok jidat.

 

Saya boleh dikatakan telat dalam hal mendaftar IIP ini, sehingga pada akhirnya saya berada pada batch 5. Kenapa dikatakan telat? yaaa, idealnya saat awal menikah atau sebelum menikah bisa ikut kelas IIP. Supaya ilmunya bisa dijalankan dengan maksimal.

Saya menikah pada bulan Agustus 2014 saat itu benar-benar sangat awam dalam menjalani kehidupan rumah tangga. Ya iyaaalah kan masih baru, wkwkwk. Bukan itu, no. Bayangan saya saat masih single kehidupan rumah tangga itu seperti pada novel Diorama Sepasang Al-Bana sungguh menakjubkan, cara mengatasi konflik pun sangat elegan. Maka sebaiknya menjadi pasangan suami istri ini bisa melihat sosok Ryan dan Rani. Lha malah bahas novel -_-

Kenapa telat ikut IIP? yaa sebenarnya emang anomali sih. Di saat hampir sebagian besar teman saya sudah mendaftar di batch sebelumnya. Mereka berbondong bondong daftar malah saya diam aja waktu itu. Alasan utamanya adalah saya gak terlalu suka ikut-ikutan. saya sadar setiap apa yang saya kerjakan akan memberikan konsekuensi logis. Jadi daripada saya ikut tetapi nggak fokus lebih baik saya tidak ikut sekalian. Selain hal itu, tahun tahun sebelumnya saya memang masih fokus pada cleansing innerchild, berusaha bangkit dari belenggunya. Ketika semua urusan innerchild sudah selesai, saya merasa lebih ringan, dan akhirnya saya bisa siap memasuki kelas IIP batch 5 ini. Walaupun agak drama di awal,

Di kelas ini saya menawarkan diri menjadi ketua kelas dan alhamdulillah sudah selesai masa tugasnya. Kerjaan ketua kelas menurutku agak ringan daripada koordinator mingguan yang membuat resume. Eh tapi nggak sepele juga, tatkala ada yang gak bisa ngeresume akhirnya juga kudu turun tangan. Kadang juga menggantikan jam fasil ketika fasil memiliki udzur atau berhalangan. Menjadi ketua kelas memang harus sigap dan tanggap. Dasar pemikiran saya mengambil peran itu adalah pada kekutan diri yang suka berbagi semangat pada oranglain.

Mengenai NHW, selama pengerjaan NHW belum ada kendala yang terlalu berat. Sebab saya memng doyan nulis, menikmati setiap materi, proses dan juga tugas yang diberikan. Selain itu juga saya memang suka menulis. Dengan demikian post blog saya jadi rutin terisi, tidak pernah kosong lagi -minimal setiap hari rabu pada saat pengerjaan NHW. Hehehe.. 😀 saya juga berusaha mengerjakan NHW paling awal dan tepat waktu. Karena jadwal harian dan list to do agak padat. Sehingga apabila semakin saya tunda akan terasa semakin berat. Lagipula ide tulisan muncul pada saat itu juga setelah membaca NHW, jika tidak segera ditulis akan cepat menguap, lenyap.

Semoga kelak saya mampu menjadi sosok ibu yang profesional, mengikuti setiap prosesnya sehingga tidak lagi meninggalkan kewajiban utama sebagai ibu namun tetap mampu berkontribusi aktif di masyarakat.

Tak luput saya sampaikan ‘Arigatou, Thank you’ kepada suami saya, Aang Hudaya yang telah merekomendasikan istrinya ini untuk mengikuti kelas IIP Walaupun perjalanan masih panjang, kami berusaha untuk bergerak lebih cepat.

Sesuai arahan aliran rasa ini, saya akan menuliskan sedikit peran “change maker family” disini.

Usaha kami di rumah untuk menuju hal tersebut adalah dengan berusaha lebih banyak, belajar lebih cepat, banyak bekerja dan banyak berbagi. Dimulai dari diri sendiri, terutama keluarga inti dari menjadi pejuang literasi (tidak menyediakan TV di rumah, lebih banyak waktu untuk membaca), serta turut aktif di masyarakat (paud, rumah Quran, DKM masjid, bidang fasor dll) untuk melakukan gerakan kebaikan.

Sedangkan fokus perubahan untuk masyarakat luas yang kami bentuk dengan membuat wadah komunitas konmari Indonesia. Kami berharap tagline “menata diri, menata negeri” KonMari Indonesia akan membahana ke seluruh pelosok negeri ini. Sedikit demi sedikit, orang mulai bebenah rumah. Sebenarnya berbenah hanyalah sarana, tujuannya lebih dari itu.

Semangat selalu.

Kini saya menjadi lebih menyadari bahwa menjadi seorang ibu adalah hal yang istimewa. Ada sosok anak yang selalu memandang diri ini dengan istimewa dan sangat membutuhkan diri ini. *) jadi melow

Jadi tidak sabar mengikuti kelas selanjutnya, kelas yang saya butuhkan untuk buah hati ini : Bunda Sayang.

Khoirun Nikmah @Bogor, 28 Maret 2018 : 10 PM.

1 thought on “Aliran Rasa MIIPB5”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *