2. BUNDA CEKATAN INSTITUT IBU PROFESIONAL

Aliran Rasa – Tahap Ulat-Ulat Bunda Cekatan Batch 2

Aha! Ternyata saya memang beneran mono-tasking, termasuk dalam hal proses belajar suatu hal, sebab tidak bisa dobel-dobel fokus atau lintas genre, jika genre sebelumnya belum mafhum, akan sulit untuk naik atau lompat ke genre lain. Maksudnya, ‘genre’ ini bukan jenis bacaan buku, melainkan fokus belajar cara belajar di tahap ini.

Untuk perjalanan ulat-ulat, saya rekam di sini.

Kalau diurutkan prosesnya :

  1. Start melangkah pekan 1- ‘Ini Makananku’.
  2. Masuk ke dalam gua belantara (podcast).
  3. Pertemuan Keluarga.
  4. Lanjut ‘makan makanan besar’ di kebun apel (Belajar dari Vidio).
  5. Camping Ground di hutan pinus (peer group).
  6. Potluck di Camping Ground.
  7. Refleksi di Danau Cermin (Refleksi).
  8. Buddy System.

Mengapa gamifikasi di tahap Ulat-Ulat dibuat seperti ini?

Pertanyaan yang cukup ‘membuat berpikir’ ini sepanjang perjalanan dan tentu ada alasannya saya kira, ada tujuannya. Proses dari pekan pertama ke delapan, sambung menyambung menjadi satu. Kalau belajar teori belajar bagaimana cara belajar (learning how to learn) ada proses belajar yang disebut dengan learn, unlearn dan relearn. Mungkin bisa ke sana arahnya.

Menurut Alvin Toffler, “The illiterate of the 21st century will not be those who cannot read and write, but those who cannot learn, unlearn, and relearn.” atau, “Orang-orang yang gagap literasi di abad ke-21 bukan mereka yang gak bisa baca tulis, tetapi yang enggak punya kemampuan untuk learn, unlearn, dan relearn.”

Di abad penuh informasi, derasnya pengetahuan bak air bah ini, apa yang kita “baca dan tulis” udah enggak begitu berpengaruh. Karena mempunyai pengetahuan tidak berarti mengerti akan suatu hal (punya pengetahuan ≠ mengerti suatu hal).

Learn

Disini ya kita belajar aja, cuma belajar, biasa aja. Tahap di kelas, awal-mula kita disuruh belajar, cukup kita aja yang paham, oke, selesai. Caranya bebas, sesuai kemampuan. Intinya, pokoknya belajar, enggak perlu neko-neko.

Unlearn

Ini cukup unik nih, belajar melupakan apa yang sudah dipelajari. Namun sekaligus perlu belajar hal yang baru juga. Ibarat kata, sebenarnya udah pernah tahu tentang topik A, tapi disuruh belajar ngulang, jadi seolah mulai dari nol lagi. Unlearn ini penting karena ketika kita mengulangi hal yang sama, kita menganggap itu sebuah rutinitas yang sudah tahu jawabannya. Pikiran kita jadi menolak ide baru. Padahal, di masa depan, teori dan ilmu itu dinamis. Bisa berubah kapan aja. Kalau kita terpaku sama rutinitas dan gak mau berubah, mempelajari hal baru jadi persoalan yang susah.

Tahapan ini saya dapatkan saat memasuki pekan ketiga sampai pekan ke-enam. Dimana saya harus mengosongkan isi kepala, mencoba belajar dari teman seangkatan yang ada di perjalanan. Mencoba untuk mengulangi beberapa hal, membaca beberapa hal yang sebenarnya sudah saya ketahui, namun mencoba membuatnya seolah merupakan hal baru, bukan rutinitas belaka.

Relearn

Di tahap ini, mulai refleksi, yaitu pekan ke-7, saya bergumam, “Bisa jadi saya salah”Barangkali di luar sana ada cara baru, atau pola pikir baru, atau orang-orang baru, atau metode baru yang selama ini tidak saya ketahui. Di sini saya mulai unboxing segala ilmu yang saya dapat, baik dari camilan, hadiah maupun bekal utama. Saya mengelompokkannya, mempelajarinya kembali.

Dari refleksi ini, saya mencoba keluar dari zona nyaman. Dengan :

  1. Terbuka dengan kemungkinan baru, mulai untuk memetakan jalan yang enggak biasa. Memberanikan diri untuk menerima beberapa opsi dari sekian opsi yang selama ini saya lakukan. Misalnya saya belajar dari membaca buku, namun kini mulai mau belajar dari film, drama series, hal atau kemungkinan menjadi hal yang menurut saya baru.
  2. Mencoba hal-hal yang nggak biasa, Dalam hal ini, saya mulai berani mencoba untuk tidak ketergantungan dengan penerbit mayor, mulai belajar mandiri, beberapa naskah buku rencana saya terbitkan mandiri (self publish).
  3. Berani ambil risiko, termasuk dalam beberapa hal keputusan yang cukup menantang. Saya mulai berani untuk tampil di depan umum secara live. Hahahaha biasanya jago kandang, alias lebih suka chat. Kini saya mulai berani menampakkan wajah dan suara.
  4. Mempertanyakan apapun. Termasuk ketika saya ingin memulai sesuatu, saya tanyakan ulang, untuk apa? kenapa? bagaimana? dst.

Kesimpulan

Tentu ini kesimpulan pribadi saja, dari pembahasan di atas. Saya merenungi, bahwa 8 pekan di tahap ulat-ulat meliputi :

  • Learn : pekan 1-2.
  • Unlearn : pekan 3-6
  • Relearn : pekan 7-8.

Dan semua itu, cukup membuat saya terhenyak, karena saya mulai ‘berani’ keluar dari sarang belenggu diri. Jika awalnya saya mengira kalau saya cukup belajar menulis dan membuat report, kini, saya mulai berani tampil live, bersuara di podcast bahkan mencoba-coba untuk mengambil keputusan risiko ‘mencetak buku mandiri’, tidak bergantung pada penerbit mayor/besar, dimana ketiga hal itu selama ini saya hindari.

Tinggalkan Balasan