2. MENATA DIRI (GEMARI MADYA) GEMAR RAPI

Bagaimana Cara Menata Waktu

Post blog kali ini merupakan lanjutan dari postingan kemarin tentang materi menata waktu bersama Ummu Balqis. Bagi yang belum membaca, bisa klik di sini. Selanjutnya, hanya berupa tanya jawab dialog yang berisi tentang pertanyaan ‘bagaimana cara menata waktu’ versi diskusi.

Berikut ini rangkumannya. Apakah siap membacanya?

Pertanyaan 1

  1. Bagaimana cara menentukan hal yang lebih prioritas pada saat bersamaan? Seperti Rapat Sekolah & Rapat organisasi.
  2. Apakah produktif harus menghasilkan sesuatu?
  3. Tips Management waktu untuk anak seperti apa?

Ummu Menjawab :
1. Sebenarnya jika kita sadari bahwa menentukan prioritas bergantung dari kelihaian kita dalam memilah. Pilih yang lebih urgen dan membutuhkan kehadiran kita. Misalnya ada ibu mertua datang, sementara setrikaan masih menumpuk. Keduanya penting. Dalam hal ini pilih yang paling membutuhkan kita. Yaitu menemani ibu mertua, sebab bagian dari memuliakan tamu dan adab kita sebagai anak. Untuk sterikaan bisa kita telepon laundry, meminta jasa setrika, urusan pun selesai. Dan kedatangan beliau juga tidak setiap hari. Kecuali jika sudah terbiasa, misalnya hidup berdekatan, sambil kita sambi nyetrika pun tak apa-apa.
2. Tentu dalam hal ini produktif tidak harus atau selalu menghasilkan sesuatu yang berupa benda/materi. Sebab produktif tidak bisa dipandang hanya dari sisi hasil atau rupiah. Misalnya kita mendidik anak, tidak mendapat uang namun didalamnya ada value atau nilai yang bisa kita dapatkan. Menjadi seorang istri juga demikian. Sehingga produktifitas dalam islam adalah jika setiap detik demi detiknya mampu kita pertanggungjawabkan kepada Allah.
3. Untuk anak-anak pembahasannya agak panjang namun saya akan memberikan gambaran. Anak balita atau di bawah itu, misalnya 3-4 tahun belum mengenal konsep waktu, apa itu cepat, apa itu lambat dan runutan kegiatan sehari-hari. Bagi anak usia 4 tahun, menggunakan sepatu 15 menit itu sudah sesuai dengan kemampuannya. Kita sebagai orangtua perlu melatihnya tentu dengan cara yang bisa anak pahami. Misalnya dengan mengenalkan matahari, bulan, bintang dan bumi. Kemudian kita buat gambar dan tempel ke jam dinding. Jika anak terbiasa memasang sepatu 15 menit, misalnya menunjukkan menit dari matahari ke bintang (membentuk 90 derajat) bisa kita ubah dan tantang jika itu bisa lebih cepat, misalnya 10 menit (dari matahari ke bulan). Maka dengan demikian anak akan memahami satuan waktu bahwa 15 menit lebih lama dari 10 menit. Kemudian kita apresiasi.
Pun untuk mengenal runtutan kegiatan. Bisa kita arahkan setiap hari, misalnya setelah bangun tidur, mandi, sarapan dan seterusnya. Seandainya anak susah mandi, bisa kita beri waktu misalnya dari jarum jam panjang dua belas ke angka dua (10 menit), setelah itu kita ajak anak merapikan dan mandi. Jika anak sudah agak besar, biarkan mereka make decision, mengatur waktunya sendiri. Kita berikan anak keleluasaan untuk mengisi jadwal, kita sebagai ortu, mengingatkan. Intinya personal touchnya sudah kita dapatkan. Dan paling penting dari itu semua adalah keteladanan. Sebab jika sebagai ortu kita belum mampu memberi teladan, katakanlah kita masih suka menunda waktu, mager, maka anak akan menirunya. Jadi, tetap pada akhirnya, kuncinya ada pada keteladanan.

Pertanyaan 2

Bagaimana jika kita merasa percuma dan akhirnya malas sebab terbiasa rajin namun faktanya management waktu untuk pekerjaan seringkali diberikan schedule yang mendadak? karena atasan sering memberikan pekerjaan yang mendadak.

Ummu menjawab :
Spirit untuk kita bisa istiqomah adalah rasa malu jika kita melakukan hal yang sia-sia. Pastikan memiliki back-up plan walaupun kita sendiri yang terbiasa on-time. Jika rekan kita telat maka jangan kecewa, kita bisa melakukan hal lain yang bisa diisi di waktu menunggu itu. Sehingga masa tunggu tak lagi membosankan dan diliputi keluh kesah. Masa tunggu itu menjadi menunggu yang produktif, misalnya saya membuat materi di sela-sela waktu itu.
Kuncinya, kerjakan yang next, agar tidak sia-sia. Pekerjaan yang akan datang kita tarik ke masa kini. Dan jika terkait dengan kebijakan, karena Ummu merasakan hal itu juga, ini berkaitan tentang leadership atasan kita, bagaimana cara mensinergikan semua agar tidak tumpang tindih. Tentu jika dalam lembaga hal ini tanggung jawab dari kepala biro dan manager. Sampaikan kepada atasan atau pada saat rapat dengan cara yang baik bahwa hal tersebut (memberikan pekerjaan yang mendadak) adalah hal yang membuat kinerja tidak produktif. Syukur-syukur jika suatu saat nanti kita berada di posisi tersebut, kita bisa mengubahnya dan memberikan idealisme di sana. Jangan sampai ketularan (jadi masa bodo) sebab kita mempresentasikan agama kita.

Pertanyaan 3

Tips /Kiat agar mudah mebiasakan melakukan hal penting-mendesak?

Ummu menjawab :
Jika sama-sama penting dan mendesak, perhatikan deadlinenya. Kerjakan dari deadline yang terdekat. Namun jika deadlinenya sama, pilih salah satu, atau komunikasikan misalnya minta ditangguhkan. Jika tidak bisa dilobi untuk dimundurkan deadlinenya, jangan terima, kembalikan dananya jika memang sudah dibayar. Jika itu adalah pekerjaan di rumah, kerjakan semampunya. Lanjutkan esok harinya. Sebab tubuh kita punya hak.
Selalu ingat alasan kuat mengapa kita mau menerima hal itu, ingat STRONG WHY nya. Syaratnya adalah :
1. kenapa kita harus melakukan hal tersebut.
2. pastikan kita bahagia atau HAPPY saat melakukannya. Sebab jika kita bahagia maka seluruh potensi diri kita akan keluar memancar.

Pertanyaan 4

Dapatkah kita melakukan pekerjaan lain diluar aktifitas kantor di sela-sela jam kerja, Ketika semua pekerjaan kantor telah selesai?

Ummu menjawab :
Cek kembali akadnya, apakah bekerja dengan dihitung per jam atau per project. Jika memang bekerja dalam akadnya dihitung per jam, sebaiknya jangan, hindari wilayah abu-abu. Jika memang terpaksa dilakukan, izin dulu pada atasan atau lembaga. Takutnya ada harta yang tidak bersih dan gharrar yang kita peroleh dari sana.
Jikapun melakukan pekerjaan per project, usahakan tepat waktu dan memang selesai. Sebab jika tidak, maka kita telah zalim. Jika tidak selesai, kembalikan atau minta ditangguhkan, selama bukan disengaja, dalam kondisi darurat misalnya anak sakit. Jika tidak sanggup, kembalikan uangnya. InsyaaAllah akan diganti rezeki yang lebih berkah dari Allah.

Pertanyaan 5

Bagaimana me time dalam pandangan Islam?
Bagaimana kiat-kiat untuk memantaskan diri? Adakah amalan tertentu untuk mencapai level ini semua?

Ummu menjawab :
Tentu boleh dalam islam untuk ‘me time’. Hal ini dicontohkan oleh Ummul Mukminin Aisyah ra. beliau berlomba lari dengan Rasulullah, dalam hal ini me time bunda Aisyah adalah berolahraga. Me time adalah aktifitas di luar rutinitas setiap hari kita. Ibunda Aisyah juga pernah meminta Rasulullah untuk mengantar beliau menonton orang-orang yang berlatih pedang. Artinya me time dalam hal ini tidak sampai melanggar syariat islam, yakni ditemani oleh mahram, tidak berjalan sendirian.
Ummu pribadi me time dengan memanfaatkan momen, bersepeda. Sebab suami Ummu seorang cyclist maka bersepeda sekaligus mengambil waktu untuk bersama. Ummu juga me time saat memasak, karena Ummu suka memasak maka aktifitas tersebut menjadi bagian dari me time setiap hari.
Ummu juga berkebun, beternak ikan bareng suami. Membaca buku dan tadabbur ‘alam juga bagian dari me time. Silahkan pilih mana yang paling disukai dan nyaman.

Memantaskan diri dari awal bersama pasangan. Suami Ummu selalu berpesan bahwa jangan melakukan sesuatu hanya untuk menukar dengan imbalan dunia misalnya bersedekah untuk memperlancar rezeki. Jangan dihitung-hitung saat bersedekah, setelah sedekah, lupakan. Pun dengan yang lain, berbuat hanya karena mencari ridho Allah.
Selain itu, perlu juga menyiapkan pembawaan diri. Misalnya Ummu ingin berada pada posisi CEO, maka Ummu akan bertanya, apakah sudah pantas? Memiliki banyak karyawan, apakah sudah mampu bersikap adil? Sudah disiplin? Tegas? Tepat waktu? Dan seandainya diberikan amanah berupa harta apakah harta tersebut menjadikan Ummu sombong? Naudzubillahimindzalik. Ummu hanya berdoa pada Allah dan meminta semoga Ummu diberi harta yang bermanfaat, tidak menjadikan Ummu sombong dan harta serta amanah itu mampu bermanfaat untuk umat.

Pertanyaan 6

Bagaimana cara kita mengembalikan semangat menata waktu yang sebelumnya rajin malah sekarang menjadi malas (mager) karena seusai ditimpa sakit?

Ummu menjawab :

Jika kondisinya sedang futur (mager, malas gerak) itu harus muhasabah dan mukhalafah. Hidup ini kan hanya sebentar, kelak ada hari akhir yang seluruh detik kita pertanggungjawabkan. Mukhalafah artinya kita harus menolak kuat-kuat, rasa magernya dilawan karena itu adalah bagian dari jerat-jerat syetan.
Futur juga mengidentifikasikan bahwa pertanda hati kita sedang sakit dan salah satu cirinya adalah condong kepada maksiat. Dalam hal ini maksiat bukanlah melakukan dosa besar ya, berleha-leha atau mager juga merupakan bagian dari maksiat. Maka saat kita diuji demikian, istighfar. Jika merasa tidak kuat, kembalika nsemua kepada Allah karena sesungguhnya Allah Maha Baik.

Pertanyaan 7

Bagaimana cara menyeimbangkan waktu anta pekerjaan dan Keluarga? Mengingat WFH membuat jam kerja semakin panjang sehingga sangat menyita waktu.

Ummu menjawab :
Jika kondisi saat ini WFH, kita lihat akadnya, sebab working flexible hours ini cukup menjebak. Maka pelru kita framing lagi apakah kita bekerja berdasar jam atau project. Jika memang jam kantor, maka respons yang kita berikan adalah pada jam-jam kantor. Biasanya karena kita terbiasa merespons 24 jam, maka di benak orang, itulah yang akan diberikan pada kita, sehingga tidak mengenal waktu.

Tetap adakan waktu bebas gadget untuk quality time bersama keluarga. Ingat bahwa kita harus memiliki niat untuk life balance. Luangkan waktu untuk anak-anak, misalnya 2 jam dalam sehari, terutama para ayah. Tujuannya untuk membangun bonding dan menanamkan value. Misalnya dari bada maghrib hingga jam 20 malam. Dan jangan lupa untuk pasangan, luangkan setiap hari misalnya setengah jam sebelum tidur, agar komunikasi tetap terjalin nyaman.

–selesai–

Tinggalkan Balasan