DAILY EDUKASI

Bahasa, Pikiran dan Peradaban

Utang konten ini sudah dua bulan lebih, hihi. Ini konten ketiga atau penutup dari konten sebelumnya, part 1 dan part 2.

Di part ketiga ini saya merangkum pembahasan dari Prof. Yasraf Amir Piliang dengan judul presentasi beliau, ‘Bahasa, Pikiran dan Peradaban’.

Karena bidang spesialis beliau adalah semiotika, maka pembahasan pun terfokus di dunia semiotika.

Semiotika adalah tanda (sign) yang berkaitan dengan bahasa dan makna.

Semiotika atau ilmu ketandaan adalah studi tentang makna keputusan. Ini termasuk studi tentang tanda-tanda dan proses tanda, indikasi, penunjukan, kemiripan, analogi, metafora, simbolisme, makna, dan komunikasi.

-definisi

Secara umum, semiotika hanya dibagi menjadi dua yaitu :

  1. ada penanda
  2. dan ada yang ditandakan

Semiotika dari sisi ilmu linguistik cakupannya luas. Linguistik itu sendiri adalah bagian dari semiologi, yakni semiologi yang lebih luas.

Contohnya Nabi Adam, diajarkan linguistik untuk menamakan benda-benda yang dilihat dan juga memaknai sesuati.

Dalam kasus Anjay (yang ramai diperbincangkan saat itu- bulan September), maksud dari anjay belum tentu benda-benda atau anjing.

Sebuah tanda boleh polisemik

Maknanya banyak, tergantung pada apa yang ada didalam otak orang yang bersangkutan. Dalam triadic structure, bahasa berhadapan dengan 3 layer :

  1. Dunia kenyataan (belum jadi tanda), contoh batu, belum dijelaskan, sifatnya kosong ’empty’.
  2. Dunia tanda (sudah di dunia bahasa). Ia sudha berperan sebagai bahasa, menjelaskan kenyataan atau mempresentasikan realitas. Contoh : batu di sungai.
  3. Dunia budaya (berbentuk kode-kode bahasa). Contoh dalam bahasa politisasi, ‘Apel’. Makna apel yang disebut oleh KPK bukanlah apel yang sesungguhnya, ia terdapat dari rekaman para koruptor, maksudnya bisa Apel US (dollar Amerika) atau Apel Malang (rupiah). Hal ini digunakan oleh para politisi dalam ‘membuat kode-kode’ tindak korupsi.

Prof. Yasraf juga menyotori terkait perkembangan bahasa dan peradaban di masa ini terkait dengan semiologi yang semakin dipelintir. Beliau memberikan contoh :

“Peradaban yang mendorong kepada manipulasi tanda atau retorika negatif. Padahal penting untuk set of belief dalam berbangsa saat ini karena zamannya serba bolak-balik. Misalnya menuduh orang radikal – padahal sesama radikal juga, harus pahami makna radikal itu mengakar, kuat. Dan contoh binary position dengan melemparkan kata ‘saya pancasilais’ dan orang lain tidak. Tentu ini akan menghadirkan peradaban palsu yakni bangsa yang sarat dengan arbiter atau jebakan-jebakan manipulasi atau penipuan pikiran.”

Dyadic VS Triadic Model

Dalam semiotika terdapat pembaharuan model struktur bahasa semiologinya sebab perkembangan bahasa. Berikut perbedaan antara dyadic dan triadic.

Proses dyadic model terlihat lebih sederhana dan memiliki keterbatasan hanya ada pada 2 faktor (ini model lama : penanda dan yang ditandakan) saja. Sedangkan triadic, merupakan penemuan baru dimana segalanya terlihat lebih kompleks dan panjang. Karena merekam tidak hanya dari teks, melainkan dari gambar, suara, pikiran, bahasa, gerak tubuh atau postur ritmis dll. Itulah kenapa ketika model ini diterapkan, akan semakin banyak orang yang melakukan penipuan tertangkap.

Pijakannya ada 2 yaitu noses (pikiran) dan noema (apa yang dipikirkan). Dua hal ini tentu berkaitan dengan apa yang terjadi di otak.

Bahkan sampai menelisik jauh peluang yang belum ada (probability) dan hasrat/keinginan (desire).

Hingga pada akhirnya tercetuslah lintas-semiotik.

Lintas Semiotik

Maksud dari lintas bahasa dalam semiotika adalah mencakup segala hal, tidak hanya bahasa yang sederhana melainkan melibatkan :

  1. linguistik (bahasa)
  2. body language (somatic)
  3. conscious
  4. unconscious

Penjelasan ada di slide ini :

Trans bahasa dalam mengartikan 1 kata meliputi banyak bidang dan ilmu psikologi yang cukup dalam. Ini kasus dalam “Supaya orang Minang Lebih Pancasilais” yang ada di dalam kasus part sebelumnya (split of the tongue) yang dilontarkan oleh Puan Maharani.

Dan dalam hal trans semiotika, tidak hanya mencakup psikologis namun juga budaya, biologis, sosial, moral dan politis. Intinya banyak cabang yang saling terkait.

Gimana? Cukup puyeng? Ahahaha, saya pun takjub dengan kerumitan semiotika. Itulah kenapa ahli di bidang ini sungguh sedikit sekali.

Bagi pembaca yang ingin mendapat materi beliau, bisa unduh di sini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *