DAILY

Bangun Pagi, Bikin Diriku Happy

Hal kecil dan sederhana yang membuatku gembira setiap hari adalah bangun pagi. Seperti saat ini, aku hanya punya waktu untuk diriku sendiri dan menulis jurnal atau apapun tugas kepenulisan lainnya. Selain itu, udara pagi juga nyaman untuk aku hirup dalam-dalam. Di pagi hari pula, aku bisa bebas bergerak melakukan apapun yang aku suka. Tidak ada distraksi dan keriuhan anak-anak dan suami.

Pagi hari menjadi kunci mengawali hari. Sebagai Muslimah, aku meyakini bahwa keberkahan ada di waktu ini. Sebagaimana yang Rasulullah ucapkan, beliau berdoa agar Allah memberikan berkah pada umat manusia di waktu pagi. Jadi, kunci bangun pagi ini tidak sekadar menambah rasa bahagia di hati. Melainkan juga memiliki nilai spiritualitas yang tinggi.

Dengan bangun pagi, aku bisa mengerjakan salat tahajud. Kemudian lanjut salat subuh, hingga mentari muncul dilanjut dengan duha. Rangkaian Gerakan ritmis dari salat itu pula, mampu merelaksasi tulang, sendi, otot serta jiwaku untuk bersiap menghadapi pekerjaan seharian ini.

Sebagai seorang ibu rumah tangga, bangun pagi juga membantu lebih well-organized, well-prepared, menyiapkan segala hal keperluan harian dengan baik. Bisa dibayangkan, jika di pagi hari tidak ada persiapan apa-apa, betapa seluruh anggota keluarga tak bisa bekerja optimal jadinya.

Dari bangun pagi ini juga, seorang ibu sepertiku bisa meluangkan waktu untuk kepentingan pribadi terlebih dahulu. Inilah kunci bahagiaku, ‘me time’ di awal waktu. Sebab Ketika diriku bahagia, happy, katakanlah dengan menyeduh secangkir cokelat hangat sambil journaling pagi-pagi, maka tubuh dan kepalaku merasa lebih positif. Dan efeknya, seluruh anggota keluarga akan terimbas pula energi baiknya.

Membangun rutinitas dari pagi hari mampu menyenangkan hati bagi memulai segala sesuatu yang dianggap berat, maka eat the frog, istilah untuk mengerjakan tugas berat di awal, sangat cocok aku lakukan di waktu ini. Misalnya membangun habit.

Ketika aku ingin memulai sebuah kebiasaan baru, biasanya aku memulainya di waktu yang hening ini. Misalnya, Ketika aku ingin membaca sebuah buku yang ‘agak serius’, ‘membaca cepat tanpa gangguan’ dengan tenang. Maka, aku meluangkan waktu untuk memprioritaskan buku bacaan yang ingin aku tuntaskan itu, ya setelah bangun tidur.

Sebenarnya kebiasaan bacaku bisa aku lakukan kapan pun dan dimana pun. Akan tetapi sejak dikaruniai anak kedua, saat ini sedang berada di ‘musim’ merawat newborn, maka mau tak mau aku perlu mengatur waktu untuk lebih rigid dan efisien. Itulah kenapa ketika aku berhasil bangun pagi, rasa bahagia, gembira, senang, otomatis muncul menemaniku dalam beraktivitas setiap hari.

Tinggalkan Balasan