2. MENATA DIRI (GEMARI MADYA) EDUKASI GEMAR RAPI

Belajar Menata Waktu Bersama Ummu Balqis [Gemar Rapi X Bengkel Diri]

Malam ini saya belajar, menata waktu, yang semakin menguatkan diri untuk berjuang agar tiada waktu yang tersia-siakan. Alhamdulillah, wasilah belajarnya berasal dari Gemar Rapi yang atas izin Allah malam ini mengundang Ummu Balqis yang biasa kita lebih kenal sebagai pendiri Bengkel Diri. Dalam sesi tatap muka melalui zoom meeting, tidak ada rekaman, maka fokus menyimak beliau adalah sebuah adab sehingga penyerapan terhadap ilmu pun lebih optimal. Jujur saja, seringkali saat mengikuti zoom kebanyakan merasa ‘santai’ dan ‘menyepelekan’ disebabkan ada rekaman. Saya pribadi setiap berniat mengikuti zoom, selalu menyediakan buku catatan walaupun hasilnya akan direkam dan materi diberikan di akhir. Itulah sebabnya saya selalu selektif dan mencocokkan dengan agenda setiap akan mengikuti zoom meeting, apakah perlu dan tidak. Dan khusus sesi ini, saya full membersamai.

Ummu Balqis saat ini berusia 40 Tahun, masyaaAllah, walaupun demikian beliau sungguh terlihat awet muda. Saya kagum pada beliau, begitu fresh, energik dan juga renyah saat berbicara. Setiap beliau menyampaikan diiringi dengan senyum sumringahnya itu, membuat saya jadi terbawa senyumnya, masyaaAllah.

Beliau alumni FMIPA IPB dan melanjutkan studi kembali saat memiliki anak di Lassale Collage International. Betapa pembelajarnya Ummu ini, sosok yang visioner, setiap ujian dan padatnya waktu justru menempa beliau itulah yang menjadikannya sosok seperti saat ini, menginspirasi. Beliau merupakan Founder Sekolah Online Bengkel Diri (Islamic Self Improvement Online School), juga memiliki usaha di bidang pendidikan seperti CCO smart eduplace (Education center for foreigner in Jakarta), dan kegiatan sosial edukasi CEO LRUB (learning Room Ummu Balqis, ruang belajar pemberdayaan wanita). Selain itu, beliau juga seorang penulis, writer of parenting, marriage and kids books. Dan yang mengagumkan adalah karena beliau seorang ibu rumah tangga sekaligus Entrepreuneur. Selama ini Ummu juga sering memberikan edukasi Islamic parenting dan juga seorang marriage influencer. Beliau juga menjadi Pengampu Kajian Perkantoran. MasyaaAllah Ummu…

Baiklah, jadi apa yang saya pelajari malam hari ini?

Jadi, materi yang diberikan Ummu malam ini adalah….

Super Produktif Muslimah

Wah, judulnya luar biasa ya. Sebagai muslimah yang produktif itu gimana? Dan apa makna produktif itu sendiri?

Menurut Ummu, tidak ada orang yang ingin sukses yang lalai menata waktu. Waktu setiap manusia diberikan porsi yang sama namun apa yang membedakan satu orang dengan yang lainnya sebab isi yang dikerjakan. Semua orang, terutama seorang muslim, perlu menata waktu. Apa yang ditata itu? Yakni waktu yang dikasih oleh Allah sehingga bisa kita manfaatkan menjadi produktif.

Menata waktu bergantung dari faktor basic seseorang terhadap persepsinya mengelola waktu. Seseorang terkadang tahu bahwa menata waktu itu penting tapi jika salah tujuan, salah menentukan prioritas maka tak akan sampai pada hasil yang disusun.

Dari Ibnu Al-Jauziyah, waktu adalah harta yang paling mulia. Oleh karena itu, sudah seharusnya waktu dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya untuk melakukan hal-hal yang berguna supaya seseorang bisa produktif.

Dalam KBBI V, makna produktif adalah :

 1 bersifat atau mampu menghasilkan (dalam jumlah besar): perkebunan itu sangat –; 2 mendatangkan (memberi hasil, manfaat, dan sebagainya); menguntungkan: tabungan masyarakat dapat dipinjamkan kembali untuk keperluan –; 3 Ling mampu menghasilkan terus dan dipakai secara teratur untuk membentuk unsur-unsur baru: prefiks meng- merupakan prefiks yang –

KBBI V

Dari definisi di atas, selalu menampilkan kata ‘hasil’. Sehingga biasanya priduktifitas itu acapkali dikaitkan dengan hasil.

Ummu Balqis menyampaikan bahwa dalam islam, alasan seseorang produktif akan senantiasa menjadi bahan bakar dari dalam sebab perubahan dan segala hal yang berkaitan dengan diri, selalu hadir dan akan permanen jika dipompa dari dalam diri sendiri. Bagaimana mengaitkan detik demi detik, kita bisa pertanggungjawabkan pada Robb kita sehingga semakin mendekatkan diri pada ridho Allah, itulah bahan bekar yang abadi.

Artinya seorang muslim harus mempunyai tujuan besar, walau dari rumah. Misalnya menjadi seorang istri, sosok yang memiliki tujuan besar menjadi pendamping yang mendukung kebaikan suami, menjadi sosok ibu, sosok yang memiliki tujuan besar mendampingi calon pemimpin hebat di masa depan (dengan merawat anak sebaik-baiknya). Sehingga ketika kita berjumpa dengan Robb kita, tuntas amanah dunia dan akhirat, kita lega tiada tara. Dalam hal ini, kita menjadi sosok yang amanah, sehingga tidak boleh gagal dalam urusan dunia, tidak boleh ‘tidak amanah’.

Produktif VS Sibuk

Nah, pada pembahasan produktif vs sibuk ini mulai terasa banget. Saya pribadi merasa bahwa selama ini cukup sibuk, kurang produktif. Astaghfirullah. Terkadang terbawa kata-kata orang, “Mbak Nik, sibuk apa?”. Sehingga setiap orang bertanya demikian, saya jawab, “Saya sibuk blablabla…”

Padahal, sibuk itu sendiri maknanya jauh dari produktif. Dan itulah kenapa saya ingin memperbaikinya. Walau ada sisi produktifnya, sedikit, saya menyadari -perlu mengapresiasi diri juga- selama ini. Namun jika dikalkulasi, masih banyak porsi ‘sibuknya’ dibandingkan ‘produktfinya’, artinya bukan berarti saya tidak ada produktifitas sama sekali, tapi perlu meningkatkannya lagi.

Sibuk memiliki ciri-ciri :

  • sekadar menyelesaikan tugas.
  • semua dikerjakan tanpa pilah.
  • yang penting aksi tanpa fikir.
  • dikerjakan sepanjang waktu

Dari ciri di atas, kebanyakan sibuknya saya adalah dikerjakan sepanjang waktu. Sehingga saya merasa energi terkuras gak karuan.

Sementara produktif memiliki ciri-ciri :

  • Fokus pada TUJUAN BESAR hidup.
  • Memiliki prioritas yang baik.
  • Berfikir sebelum bertindak.
  • Hidup berimbang.

Dari ciri produktif, hampir semua saya latih saat ini, walau belum sempurna namun masih banyak PR di poin terakhir, hidup berimbang. Jujur saja, saya masih betah berlama-lama di depan gadget (entah laptop, ponsel, entah berpindah dari ponsel ke laptop) sampai-sampai saya sadar, pinggang saya sakit.

Produktif Dalam Islam

Dalam islam, produktif berarti gerakan badan atau gerakan hati dengan keseluruhannya atau sebagian saja disertai dengan kesengajaan. Artinya produktif dalam islam memiliki 2 konsep :

  1. Diawali dengan niat benar.
  2. Memiliki konsep dan tujuan yang jelas.

Sehingga bisa dimulai dari diri sendiri dengan melihat tujuan hidup kita untuk apa. Dan dalam islam, tujuan kita jelas ada pada Q.S Adz-Zariyat : 56.

Sampai pada level kita mampu meninggalkan hal-hal tak berguna menuju hal-hal yang berguna saja. Tujuan hidup kita sebagai manusia juga perlu dipikirkan, namun jangan sampai tujuan parsial kita menyelisihi tujuan utama (ibadah).

Tools Menata Waktu

Untuk menata waktu, bebas saja, menurut Ummu, sesuaikan dengan apa yang populer atau terbiasa kita lakukan. Boleh menggunakan jurnal, aplikasi, reminder, gadget calendar dst. Namun kita perlu membuat juga life mapping agar tujuan hidup kita terarah. Caranya dengan menuliskan apa yang hendak kita capai dalam kurun 5 tahun, 10 tahun, 15 tahu, 20 tahun ke depan dst.

Dengan memiliki pola pikir yang visioner (melihat jauh ke depan) ia akan mempengaruhi cara kita menata waktu. Artinya jika ada target 1 tahun maka setiap harinya akan ia gunakan untuk mencicil setiap pencapaiannya. Sehingga dalam hal ini, produktif artinya menghargai waktu.

Time is Money? Benarkah?

Ternyata tidak juga. Ummu mengatakan bahwa tidak semua waktu bisa diuangkan dan tidak semua waktu bisa dinilai dengan uang. Misalnya dengan orang yang sudah kaya raya, sudah mapan fiansial atau tidak lagi memandang hidup dari sisi uang. Sehingga time is money ini tidak works untuk membangkitkan semangat semua orang. Dan tidak semua hal produktif itu menghasilkan uang.

Hal produktif yang tidak menghasilkan uang, misalnya merawat anak. Kita tidak mendpaatkan uang dari sana, namun ada valu atau nilai yang ktia dapat darinya. Dalam jangka panjang utamanya. Pun dengan melayani suami, tidak ada uang yang didapat namun di sisi Allah itu nilainya besar luar biasa.

Maka, konsep waktu dalam islam, kita perlu menukil istilah dari Imam Asy-Syafi’ie dan Imam Al-Ghazali terhadap konsep waktu.

Konsep Waktu dalam Islam

Menurut imam Asy-Syafi’ie. “Waktu ibarat pedang, jika engkau tidak menebasnya maka ialah yang menebasmu. Dan jiwamu jika tidak kau sibukkan di dalam kebenaran maka ia akan menyibukkanmu dalam kebatilan.”

Sebagai seorang muslim kita perlu menelisik dan meyakini bahwa jika waktu kita tidak kita gunakan pada kebaikan, maka otomatis akan habis untuk kemaksiatan (jauh dari rahmat Allah, misalnya melakukan hal yang tidak diridho, bukan berarti maksiat adalah berzina dsb) dan otomatis terjerumus pada hal kesia-siaan. Sehingga ada 3 hal yang menjadi konsekuensi setiap detik waktu kita, dari uraian di atas yaitu waktu akan berlabuh pada hal-hal :

  1. Kebaikan.
  2. Keburukan (maksiat dst)
  3. Kesia-siaan (tiada berguna)

Tinggal kita pilih mau yang mana?

Dan menurut Imam Al-Ghazali, “Waktu adalah kehidupan”. Hal ini menunjukkan bahwa jika kita tidak mengatur waktu, akan mati (jiwa kita) dan jika kita mampu mengatur waktu dengan baik maka kita sejatinya ‘hidup’. Contoh mager. Jika kita mager, bak zombie yang tak menentu dan tiada tujuan, sejatinya kita telah ‘mati’.

Allah Bersumpah atas Nama Waktu

Dalam berbagai ayat dalam Alqur’an, Allah bersumpah atas nama waktu. Misalnya dalam Q.S Al-Lail (1-2), Q.S Al-Fajr, Q.S Adh-Dhuha, Q.S Al-Ashr :1. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya atau urgen nilai sebuah waktu, sampai-sampai Allah bersumpah atasnya.

Dari ayat di atas, kita diarahkan utnuk menggali lagi, hidup ini :

  1. untuk apa (tujuannya).
  2. mau kemana arahnya.
  3. dan harus ngapain aja?

Tiga Prinsip Mengatur Waktu

Yaitu :

  1. Melakukan hal-hal yang bermanfaat dan Allah ridho terhadapnya.
  2. Catat, prioritas dan action. Jangan menunda. Di dunia ini tak ada orang yang sukses cuma rebahan dan nonton selonjoran di rumah atau sofa seharian. Jika seseorang mengkondisikan dirinya untuk tumbuh maka ia akan melakukan hal-hal yang membuatnya bertumbuh. Misalnya melakukan evaluasi setiap pekan. Dan borok dari mengatur waktu adalah menunda-nunda. Maka jangan sampai melakukan hal ini jika tidak mau ditumpuk.
  3. Jadikan lifestyle. Sejatinya kita seorang muslim, maka setiap orang melihat kita adalah cerminan seorang islam. Misalnya tepat waktu. Jadikan ini lifestyle sehingga orang islam adalah orang yang tepat waktu.

Manajemen Prioritas

Sepertinya sudah lumrah ya, empat kuadran prioritas yang biasa digunakan : penting-mendesak, penting-tidak mendesak, tidak penting-mendesak dan tidak penting-tidak mendesak. Dalam kuadran ini kita harus mampu menguraikan dan memilah mana yang seharusnya didahulukan.

Pendelegasian dan Personal Touch

Dalam hal yang tidak bisa kita lakukan, lakukan pendelegasian. Namun jangan sampai kehilangan personal touchnya. Maka dalam hal pendelegasian pun kita perlu arahkan. Ummu menyampaikan bahwa beliau di rumah menggunakan jasa asisten rumah tangga namun tidak mendelegasikan terhadap hal personal agar rumah tidak kehilangan esensinya. Yaitu memasak makanan untuk keluarga dan juga menempatkan kembali pakaian yang sudah disetrika. Semua itu Ummu lakukan sendiri sehingga anak-anak akan selalu mencari Ummu setiap membutuhkan sesuatu.

Power Nap dan Me Time

Istirahat cukup dan tidak menzolimi tubuh adalah bagian dari diri kita merawat diri. Dalam islam diekanl dengan qailullah atau tidur siang sejenak yang merupakan sunnah Rasulullah.

Pun dengan me time, kita perlu meluangkan waktu untuk melakukan self comfortable baik dari diri sendiri maupun melakukannya bersama keluarga.

Untuk tanya-jawabnya, saya tuliskan pada post blog berikutnya ya. Semoga bermanfaat nantinya bisa dibaca ketika futur. Terima kasih.

Tinggalkan Balasan