EDUKASI

Belajar Merespons

Seorang penulis dan mythologist dari Amerika bernama Joseph Campbell mengatakan hal tentang hidup.

Kurang lebih artinya gini, “Sesungguhnya hidup tidak memiliki makna, kitalah yang membuat dan meniupkan makna itu pada hidup.”
.
Maksudnya gimana?
.
Jadi begini, melihat fenomena zaman ini yang luar biasa. Antara logika- akal, pikiran perasaan hingga sebagai orang beriman kita yakini bahwa semua yang ada di hadapan kita nggak terjadi begitu aja. Ada Allah yang Maha Kuasa yang sangat sayang pada kita sehingga peringatan itu bisa kita ambil hikmah (pelajaran) darinya.

Allah mengaruniakan pendengaran, penglihatan serta hati (akal pikiran dan perasaan) supaya manusia bersyukur.

Sambil terus berjalan dan mencerna beberapa buku yang sudah saya baca  rasanya memang begitu cepat waktu berlalu. Dan apa yang menjadikan diri kita seperti saat ini bukanlah sebab masa lalu atau kejadian beberapa detik lalu. Melainkan respon yang kita pilih.

Contoh. Setiap diri kita punya definisi kebahagiaan yang berbeda beda, keinginaan / harapan yang berbeda. Namun tidak semua diri kita mampu mendefinisikan dengam jelas ending apa yang diinginkan tersebut.

Terkadang tujuan awal kita lupakan hingga akhirnya terdistraksi dengan eksternal yang sejatinya sepele. Dan kitalah sendiri yang sebenarnya mampu mengubahnya. Dengan cara memilih apakah itu dijadikan label musibah (mindset sebagai korban) ataukah memilih sebagai hikmah (pelajaran) yang sangat berharga pada peristiwa yang hadir. Memang sulit, butuh latihan. Butuh mental kuat dan peta mental yang luas.Hal itu nggak simsalabim.. perlu latihan.

Pun seperti yang saya rasakan selama membangun bersama tim mengubah kki menjadi gemar rapi, ada yang julid, ada yang gak sepakat ada juga yang mengungkit ungkit masa lalu.. butuh kesabaran ekstra dan memandang posisi setiap orang. Memposisikan diri di pihak 1,2 dan 3. Nggak mudah tetapi justru menjdikan saya tetap mau berjalan hingga sekarang. Di saat ada segelintir orang memilih negatif way thinking-nya.

Sebabnya adalah.. (ini sharing pribadi aja yaa)

Banyak dari kita terpaku pada masalah sehingga lupa terhadap kelebihan diri (potensi diri).

Dan menggantungkan harapan pada oranglain = awal dari kekecewaan. Maka tujuan terbaik letakkan di awal yaitu untuk jangka panjang kehidupan (akhirat). Bukan untuk manusia. Dan semakin spesifik tujuan kita letakkan, semakin baik 🙂

Praktiknya gini. Ada seseorang yang begitu panik saat kehilangan kunci mobil. Namun segera reda dan lega ketika ia menemukan kunci cadangannya. Seolah kehilangan kunci mobil adalah perkara sepele yang mudah dilupakan. Namun masih menyimpan rasa sakit hati ke orang padahal orang -yg menurutnya menyakitinya- nggak merasa apa apa. Hehe. Pernah merasakn hal itu? atau justru lagi merasakan? hehee. Yuk baca lanjutannya..

Setiap orang emang punya kemampuan untuk lupa, namun saat peristiwa tertentu, misal dicaci teman padahal udah lama kejadiannya tetap aja ia ingat. Aneh gak? kenapa kemampuan lupanya tidak muncul pada peristiwa yang ia respon menyakitkan? hehe

A : saya

B : dia

A : bisa dong lupain doi yang nyakitin kamu seperti kejadian barusan.. kamu lupa naruh kunci mobil dimana? haha

B : wah beda dong, kalo kunci mobil kan nggak penting amat 😂

A : serius? nggak penting? kalo gitu kasihkan aja itu kunci ke tetangga. gimana, mau? haha

B : wooo ya nggak gitu juga.. kalo dicaci temen kan sakitnya disini (nunjuk dada) kalo kunci mobil lupa yaa tinggal ambil aja kunci cadangannya 😚

A : oh jadi kalo kunci mobilmu hilang, merasa aman aja ya kamu?

B : ya ngga juga sih, agak khawatir, nggak nyaman tapi bentar aja. Begitu ambil kunci cadangan, beres.

A : wah, keren dong kamu udah punya strategi mengubah rasa dari ngga nyaman ke rasa nyaman dengan cepat. Kesalnya cuma bentar, bahkan hilang setelah ambil kunci cadangan, bener nggak?

B : ya bener, hehe

A : yang ngambil kunci cadangan tuh yang nyuruh siapa? kendali siapa?

B : aku dong

A : jadi kamu gak khawatir lagi kan jadi lega sendiri

B : iya

A : leganya dimana?

B : disini (nunjuk dada)

A : Lega tuh muncul pas kapan?

B : yaa pas kunci cadangan di tangan, trus bisa tarik nafas, lega

A : Lega tuh kayak gimana sih?

B : ya kayak gini, mudah tarik napas, nyaman, ringan, rileks, free

A : Kalo dicaci teman?

B : waaah masih sakit sampe sekarang nih, disini sakitnya (nunjuk dada) *sedih

A : Hmm… sakit disitu biar hilang gimana?

B : yaaa dia kudu minta maaf ke aku

A : trus?

B : ya kalo minta maaf kumaafin, hehe. lega deh

A : kalo nggak? atau malah kamu yang kelewat baper, padahal maksudnya temenmu nggak ngehina. hehe. gimana dong

B : hmmm.. iya sih

A : dia minta maaf tuh dalam kendali kamu?

B : nggak sih, atau mungkin akunya aja yg baper hehe

A : apa yang terjadi jika dia minta maaf?

B : ya, kumaafin lah..lega

A : Lega kayak kamu pegang kunci cadangan ini?

B : iya

A : yo, silahkan rasakan kembali leganya seperti tadi

B : *narik napas hmmm

A : memaafkan orang (walaupun belum tentu orang itu yang salah padamu, bisa jadi responmu berlebihan aja) dan menjadi lega, ada dalam kendali siapa?

B : aku sendiri

A : Nah tuh udah pinter. Bisa kan

B : tapii aku pengen dia minta maaf

A : kalo dia nggak minta maaf?

B : yaaa aku akan tetep mengingat ingat kesalahannya

A : hasilnya apa buatmu?

B : ya sakit hati

A : yang merasa sakit hati siapa?

B : ya aku lah

A : yang tersiksa rasa sakit siapa?

B : aku

A : untungnya apa?

B : Nggak ada

A : Nah sekarang kamu tinggal pilih sendiri, dalam kendalimu untuk produksi rasa sakit atau mau pilih lega. Latihan buat selalu memiliki rasa lega.. lagii dan lagii 🙂

Begitulah kita belajar, untuk menjadi lebih baik.

Kalo saya pribadi lebih [Memilih Bahagia]
.
Daripada sibuk melihat oranglain, lebih baik fokus kepada pencapaian diri. Sambil terus membongkar mental block.

Kisahnya gini : ada seekor gajah yang sejak kecil dipelihara untuk sebuah sirkus. Ia dirantai baja yang sangat kuat oleh pelatihnya. Sekuat apapun si gajah kecil itu menarik kaki, rantai itu tetap menahannya kuat kuat, satu satunya yg membekas hanyalah rasa sakit. Hingga akhirnya gajah ini berhenti berusaha, ia takut pd rasa sakit itu. maka ia hanya berjalan jauh jika rantainya dilepas. Hal itu berlangsung bertahun tahun bahkan saat si gajah sudah dewasa, sang pawang hanya menggantinya dengan seikat rantai yang rapuh, si gajah tetap hanya berani melangkah di radius yang sama.
.
.
Gak bermaksud menyamakan gajah dg manusia, hanya menyamakan bahwa banyak fobia, trauma, ketakutan2 seseorang yg telah tertanam di bawah sadarnya ternyata membentuk pola yg sama menjerat seperti kisah gajah diatas.
.
padahal semua itu bisa diubah.
.
Bukan kejadian masa lalu yang menjadikan diri kita seperti saat ini, tetapi bagaimana kita merespon kejadian itu. Maka sambil terus belajar bareng, yuk tinggalkan respon lama dan miliki respons baru.
.
Dengan demikian, saat menemukan titik bahagia itu. Maka tanpa ada attachment dari pihak mnapun, atau benda apapun.. kita bisa memilih untuk bahagia. Bebas.
.
#celotehniknik #semangatbelajar #remindermyself #reminderblog #celotehniknik

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *