DAILY

Berani Bermimpi

Seorang gadis kecil duduk terpekur ketakutan. Ia terpuruk di sudut gubuk mungil yang tak bercahaya. Di sekitar lubang dinding bambu tempat ia bersandar, tampak basah bekas sisa air hujan semalam. Ia menahan kelu. Di sekitar terasa gelap, ia hanya mampu menengadah. Satu-satunya cara menenangkan jiwa. Memperbanyak doa.

Gadis itu menyadari, impiannya bersekolah tinggi sungguh mustahil sekali. Jangankan untuk bersekolah, menuju bangku SMA yang diidamkannya saja, seketika pupus. Walau nilai ujian Nasional miliknya sempurna. Namun, biaya untuk masuk ke sekolah idaman, sungguh rumit adanya. Sekali lagi, sungguh susah.

“Buat makan sehari-hari aja sulit. Untuk ongkos, apalagi minta kos, itu sudah tak masuk akal, Nduk!” Seloroh ibunya, meminta dirinya membesarkan hatinya.

Dengan langkah gontai, ia menyemangati diri sendiri. Menerima keputusan untuk melanjutkan sekolah di kecamatan sebelah. Katanya, masih terjangkau. Nanti untuk uang gedung, SPP, masih bisa meminta keringanan. Untuk transportasi angkot, sudah ada tetangga yang mau menjaminnya. Seorang supir angkot yang dermawan. “Tunggu saja angkot Pakde tiba, tunggu di pinggir jalan, nanti gak perlu bayar.”

Gadis kecil itu akhirnya melanjutkan bersekolah di sekolah yang biasa saja. Namun, ia ingin hidupnya tak biasa-biasa saja. Ia mendambakan diri menjadi siswa yang istimewa. Sejak awal, ia berusaha menarik hati guru dan kepala sekolah dengan ketekunannya. Nilainya sempurna. Ia juga mencoba mencari peluang untuk menambah nilai dirinya. Mulai mengikuti tes olimpiade Matematika hingga menjadi tim redaksi majalah sekolah.

Tak berhenti disana. Ia juga ulet mencari pekerjaan sambilan, mulai dari menjadi juru ketik untuk para gurunya, Ia kerjakan di ruang multimedia di saat jam kosong dan istirahatnya. Ia juga mencoba menambah penghasilan tambahan dengan menjadi penjaga koperasi sekolah hingga di luar jam sekolah pun ia menawarkan jasanya, dipanggil ke rumah-rumah untuk berbenah.

Hingga tibalah, fase dimana setiap murid kelas tiga memilih masa depannya. Semua berbondong-bondong memetakan dirinya. Ada yang ingin langsung bekerja, lanjut kuliah, bahkan meneruskan usaha orang tuanya. Dan ia pun termasuk yang tak memiliki kriteria ketiganya.

Mau bekerja? Jadi apa? Tak ada bayangan. Ia juga seorang perempuan dengan badan kecil yang tak punya jaringan. Jika bekerja pun, kemungkinan terbesar menjadi buruh kasar atau pekerjaan pasar yang dibayar harian.
Mau kuliah? Uang darimana.
Mau bikin usaha? Tak ada modal dan tekad untuk ke sana.

Semua terasa gelap. Hingga akhirnya, ia membulatkan tekad untuk mengikuti tes perguruan tinggi, mencari beasiswa. Dan itu semua, ia simpan sendiri. Karena tak ada seorang pun yang mempercayai impiannya selain dirinya dan Tuhannya.

Setiap hari ia berdoa, bermunajat, menangis, meminta pertolongan hanya kepada Dzat satu-satunya yang ia yakini membersamai setiap hari. Hanya kepada Allah ia menyerahkan segala hasil yang ia sendiri tak tahu, apakah keberanian untuk bermimpi dan berjuang itu tepat adanya.

JanjiNya tak pernah meleset. Allah senantiasa sesuai dengan prasangka hambaNya. Pengumuman itu muncul. Bersamaan. Mengharukan. Keduanya ia kantongi dengan sepenuh jiwa. Senyum lega dan rasa syukur membuncah. Berkuliah dengan full beasiswa. Ia bersujud syukur penuh sukacita.

Setelah melampaui banyak hal, ia merasa bahwa semua hal yang ia lalui sungguh tak ada apa-apanya. Dibandingkan dengan karunia dari Sang Pencipta. Jika dinalar, tak masuk di akal. Perhitungan manusia, terkadang tak sama dengan ‘matematiks’ dari Sang Pencipta.

Gadis kecil itu adalah saya. Seorang bayi prematur yang lahir diantara kerapuhan mahligai rumah tangga. Biduk kapal yang karam dan retak berkeping-keping membersamai tumbuh kembang masa kecil hingga sekolah. Kedua ortu berpisah, dititipkan ke kakek dan nenek yang sudah sepuh usianya. Namun, lihat, semua impian di masa kecil, tunai terjawab atas izin dan karunia dari-Nya. Allah robbul ‘alamin yang Maha Segalanya.

Kini, saya bersyukur sudah melalui berbagai tantangan di masa muda yang tidak mudah. Semuanya sungguh berlalu sedemikian cepat. Maka, saya yakin dan semakin meyakini bahwa Allah tak akan menguji hambaNya di luar kadar kemampuan dirinya. Dan Allah sudah berjanji bahwa setiap kesulitan selalu diiringi dengan kemudahan hingga kemudahan itu jumlahnya lebih banyak dari rasa sulitnya. Subhanallah. Masihkah diri kita tak mempercayai janji-Nya?

Sesungguhnya, manusia itu diciptakan untuk bahagia. Dengan apa? Dengan menjadi hambaNya yang bertakwa, tidak pernah berputus asa dari RahmatNya, dan senantiasa memegang tali agamaNya.

Alhamdulillah. 🙂

Tinggalkan Balasan