4. BUNDA SALIHA INSTITUT IBU PROFESIONAL

Buddy Review #7 Kelas Bunda Saliha Batch 2 : Apresiaksi

Bismillah, alhamdulillah sudah memasuki jurnal review ke-7 ya. Kali ini saya mendapat pasangan, buddy, dari IP Karawang, Mbak Resti Utami. Jurnalnya bisa dibaca disini.

Apakah yang ditulis sudah menggerakkan aksi menjadi bagian dari solusi? Mengapa?

Menurut saya, sudah.

Melihat yang ditulis mbak Resti, sudah sesuai dan selaras dengan solusi yang dijalani menjadi aksi. Karena problemnya juga satu topik dengan saya, inner child, saya kira sudah sesuai dengan yang ditawarkan dalam jurnal Mbak Resti, yaitu fokus pada kesehatan mental ibu.

Mungkin bedanya dengan suara inner child, kalau Mbak Resti ini gerakannya dengan memberikan solusi dari eksternal, melalui support system gerakan peluk ibu, sehingga ibu bisa memulihkan inner child negatifnya dengan harapan tujuannya mampu mengelola emosi dan menjadi lebih bahagia. Sedangkan suara inner child, berfokus dari dalam (internal) yaitu dengan memahami bahwa luka yang ada merupakan tanggung jawab individu atau pribadi, sehingga untuk pulih, perlu kesadaran dari dalam diri (awareness of inner child within/inner child voice), bukan dari luar/eksternal (support system tadi).

Tujuannya pun berbeda, jika inner child yang diangkat Mbak Resti ini adalah ujungnya ada pada pengelolaan emosi, namun untuk suara inner child ini berkaitan dengan salah satu akar dari trauma yaitu authenticity. Karena suara inner child mengangkat tema the wisdom of trauma, dimana rootsnya adalah attachment & authenticity. Selengkapnya ada di podcast kami disini. Authenticity ini yang jadi bagian dari solusi untuk kesejahteraan (well-being) dan kesehatan diri secara individu nanti.

Adapun untuk topik seputar emosi, gerakan saya, di suara inner child meyakini bahwa emosi ini berkaitan dengan perasaan-perasaan yang bisa jadi memiliki aneka pemaknaan. Kami meyakini bahwa emotional body layer memiliki hak dan penuntasan hanya satu, just feels our feelings, karena dia seperti musim yang silih berganti. Sehingga ini topiknya ada pada satu layer yang berkaitan dengan efek, yaitu pemaknaan perasaan atas kejadian yang secara perasaan/emosi tidak tertunaikan ‘feels the feelings’nya secara utuh.

Sedangkan inner child yang ada di gerakan suara inner child, roots yang kami angkat ada pada mental body (relasi diri dengan diri sendiri/ego body). Jadi, saya kira disini kita bisa menjadi saling melengkapi ya dengan kita sama-sama mengangkat topik yang sama namun berbeda dari sisi body layernya saja.

Saya juga meyakini bahwa Feelings are okay, behaviours are not. Artinya kita boleh banget dan perlu banget untuk marah, pusing, sedih, dan rasa kecewa. Tetapi tidak boleh memberi efek ke orang lain. Karena perasaan sendiri, tanggung jawab sendiri. Termasuk kalau inner child ini, karena efeknya biasanya menyebar ke sekitar yang dekat diri kita, terutama di dalam rumah, misal suami.

Jadi sejatinya, kalau konsep di suara inner child itu, feelings tanggung jawab masing-masing. Jadi, bukan tanggung jawab kita untuk membuat suami tenang dengan emosi yang dia punya, termasuk bukan tanggung jawab suami atas emosi yang diri saya miliki. Once again, karena ini ranahnya tanggung jawab pribadi.

Sama halnya dengan luka, luka kita, tanggung jawab kita, bukan blaming ke orang lain. Nah, itulah yang guru saya ajarkan sepanjang pemulihan inner child, sehingga ujungnya nanti ada outcome berkaitan dengan awareness inner child secara holistik. Boleh sepakat untuk tidak sepakat ya tapi intinya gerakan inner child kita ini saling melengkapi dari berbagai sisi.

Terkait body layer, pernah saya bahas di beberapa postingan blog saya :

Theory of Change : Apakah urutannya bisa diterima? Mengapa?

Bagi saya, namanya juga teori ya, apalagi buatan manusia, mau kita isi seperti apa pun, itu tidak ada yang benar dan tidak ada yang salah. Semua yang diisi, sudah sesuai. Karena, bagi saya, yang penting sudah menjawab dari sebuah masalah dan itu dijalankan sesuai dengan kemampuan dan peta yang dibuat oleh Mbak Resti dan timnya.

Apalagi jika kita lihat semua isiannya lengkap, ini dari blog Mbak Resti :

Semua sudah keren dan itu sudah runut. Hanya mungkin perlu diberi kotak-kotak saja, mana yang input, activities, dst.

The Logic Model

Kemudian, melanjutkan ke model logika. Berasa belajar matematika lagi ya. Jadi, ini poinnya ada di jika > dan > maka.

Jujur aja, saya tidak terlalu paham yaa maksudnya gimana ini pertanyaan dari templatenya, wkwkwk. Tapi mudah-mudahan saya bisa menjawabnya.

Mari kita cek dulu, dari jurnal Mbak Resti :

Disini saya jadi bingung, asumsinya yang dimana? Jadi, saya hanya bisa menyambungkan antara :

  1. jika (input) dan (asumsi : -) maka (activities), dan
  2. jika (activities) dan (asumsi : -) maka (output).

Kita skip ya asumsinya.

  1. jika (support system yang baik sangat berpengaruh untuk kesehatan mental ibu, gerakan peluk ibu dan sayangi ibu, akan membuat ibu merasa terus terisi tangki cintanya) dan (asumsi : tidak ada), maka (kesehatan mental ibu akan terus stabil jika ibu sudah berdamai dengan inner child dan memaafkan hal yang tidak baik/perlakuan tidak baik di masa lalu).
  2. jika kesehatan mental ibu akan terus stabil jika ibu sudah berdamai dengan inner child dan memaafkan hal yang tidak baik/perlakuan tidak baik di masa lalu dan (asumsi : tidak ada), maka ibu akan merasa bahagia melakukan perannya.

Setelah saya cek, kayaknya saya jadi bingung ya, hahaha. Entahlah. Yang jelas, kemungkinan karena asumsinya kosong, dan kemungkinan juga saya yang tidak nyambung?

Kalau saya sendiri, bisa bahagia melakukan peran sebagai ibu, jika saya memiliki kesadaran (di mental body tadi) dan untuk inputnya, saya lebih senang menggunakan frasa ‘perasaanku adalah tanggung jawab diriku, dan mengisi tangki cinta itu tanggung jawab diriku sendiri juga’ jadi disini lebih butuh self care (ini opini pribadi ya, karena terkadang faktanya : seorang ibu selalu berusaha keras untuk melakukan yang terbaik dan memberikan untuk anak, keluarga, atau orang lain SEGALANYA. Namun hanya memberikan untuk dirinya yang tersisa SEADANYA. Padahal ibu yang paling butuh nutrisi dan dukungan, kesadaran, pemenuhan ‘unmet needs’ terbaik. :’)

Saya kok jadi penasaran sama jurnal saya yaaa, saya coba cek juga ya mbak. Punya saya :

Saya coba punya saya kalau digabung jika-dan-maka :

  1. Jika ada (materi kelas, konten medsos) dan (asumsinya) dengan tim yang solid, maka akan ada postingan instagram dan webinar kelas.
  2. Jika ada postingan instagram @suara.innerchild dan webinar kelas dan (asumsinya) dengan tim yang solid, maka akan muncul (output) awareness holistics inner child.
  3. Kalau diteruskan lagi >> Jika muncul awareness holistics inner child, dan dengan tim yang solid, maka muncul dampak bertumbuh dengan suara inner child (growth with inner child voice). Dan kalau sudah bertumbuh, maka akan tumbuh lagi >> well-being (in anything layer).

Walah, saya malah ngereview jurnal saya sendiri ini, hihihi. Kok malah asik yaaa pakai the logic model itu?

Bandingkan Tabel Risk Management VS STOP, CONTINUE, START

Nah, ini saya pun baru tahu kalau ada perbandingannya. Benar-benar belajar banyak di jurnal ke-7 ini, terutama untuk memahami struktur pola berpikir.

Saya coba tempelkan dulu ya jurnalnya Mbak Resti.

Ternyata resiko yang di-list banyak sekali. Dari yang probabilitasnya low hingga high. Sure, saya jadi kepikiran, jangan-jangan saya juga begini? Tapi selama ini resiko yang saya hadapi sebenarnya kalau dari tim, gak terlalu, intinya dari diri sendiri saya sendiri sih, yang on-off saat mengelola suara inner child.

Oke, balik ke jurnal Mbak Resti.

Menurut saya, sudah selaras ya, karena saya fokus ke 2 hal penting yang resikonya tinggi sekali yaitu materi dan fasilitator. Dalam tabel stop, continue and start, saya rasa sudah cukup menjawab dari 2 resiko itu. Selebihnya sudah okeee.

Demikian jurnal kali ini, berbeda dengan menuliskan jurnal materi yang mepet deadline lalu, kali ini saya mencoba mengawali waktu. Saya tuliskan di tanggal terbit pengumuman buddy review, 27 November 2023.

Thank you for reading ! see you next time.

Tinggalkan Balasan