2.11 BUNSAY LEVEL 11

Bunsay Game Level 11 #Day4 Fitrah Seksualitas

Day 4 – Artikel biasa karena kemarin GFOS.

Kali ini saya mengangkat sebuah artikel dari website pop mama yang membahas tentang bagaimana menjelaskan alat kelamin kepada anak. Link disini.

Perlunya Mendidik Anak Menyebutkan Alat Kelamin dengan Benar

Gunakan sebutan yang tepat untuk menjelaskan alat kelamin

“Bagian tubuh adalah bagian tubuh,” jelas pendidik seks, Lydia M. Bowers.

Ia menekankan bahwa penis dan vagina bukanlah kata-kata buruk. Orangtua harus merasa nyaman untuk menggunakan istilah-istilah ini kepada anak-anak.

“Gunakanlah istilah yang akurat untuk penis, vagina dan anus seperti bagian tubuh lainnya yakni siku, lutut dan hidung,” jelas pendidik seks lainnya, Carnagey.

Ada beberapa alasan mengapa anak-anak harus mempelajari istilah yang tepat untuk bagian pribadi mereka.

Salah satunya adalah untuk membantu anak-anak memahami dengan jelas mengenai tubuh mereka.

Hal ini penting dalam konteks memberi tahu dokter atau perawat jika alat kelaminnya terasa menyakitkan atau gatal.

“Menggunakan istilah yang akurat juga lebih baik untuk mempersiapkan mereka agar dapat berbicara dengan percaya diri tentang perubahan yang mungkin mereka alami pada tubuh mereka saat mereka tumbuh,” tambah Carnagey.

“Ketika orangtua menghindari penggunaan kata-kata tersebut, sama saja orangtua menanamkan rasa malu kepada anak. Bagian pribadinya bukanlah sesuatu yang harus dihindari atau disembunyikan,” tutur Bowers.

Ia juga menambahkan bahwa menggunakan istilah yang benar berguna untuk mengajarkan anak agar bisa menjaga organ intim mereka tetap bersih dan sehat.

Hindari Kata Pengganti

Meskipun tergoda untuk menggunakan eufemisme dan bahasa pengganti lainnya ketika berbicara dengan anak kecil tentang tubuh mereka, namun ternyata hal ini dapat menyebabkan masalah.

“Jika Mama tidak mengajarkan nama alat kelaminnya dengan benar, maka hal ini bisa berisiko karena dapat menyebabkan anak disalahpahami oleh orang lain, terutama jika mereka telah mengalami sentuhan yang tidak nyaman ke bagian tubuh mereka dan perlu melaporkannya,” jelas Carnagey.

Anak-anak harus dapat mengidentifikasi bagian tubuh sebagai bagian pribadi dan menamainya dengan benar, sehingga mereka dapat berkomunikasi jika mereka disentuh secara tidak tepat.

“Jika orangtua menggunakan kata pengganti karena malu untuk mengatakan istilah yang sebenarnya, maka sama saja orangtua telah memberikan gagasan kepada anak bahwa beberapa bagian tubuhnya itu kotor, buruk dan memalukan,” tambah Carnagey lagi.

Gunakan kata sebenarnya dalam situasi sehari-hari

Agar anak-anak terbiasa dengan penggunaan nama alat kelaminnya, maka orangtua perlu membentuk budaya di rumah agar mereka dapat menyebut alat kelaminnya tanpa rasa malu atau takut.

Tidak perlu tabu terhadap hal tersebut, karena mengajarkan tentang nama organ intim sebenarnya pada si Kecil akan mencegah hal buruk terjadi padanya di kemudian hari.

Hal ini juga dapat menghindari anak dari ancaman predator seksual. Dengan begitu, anak juga tak ragu untuk menceritakan kepada orangtua ketika ada yang melakukan pelecehan seksual terhadapnya.

Justru, ketika orangtua menyamarkan nama alat kelamin, anak akan merasa hal itu tabu untuk dibicarakan dengan orangtuanya.

Akibatnya, anak malah bertanya kepada temannya atau mencari di internet yang bisa memberikan informasi keliru.


Dari artikel diatas menunjukkan bahwa memang harus mengajarkan anak untuk mengucapkan nama alat kelaminnya dengan tepat. Karena pendidikan seks sejak dini sangat penting agar anak bisa menjaga kesehatan organ reproduksinya dan tahu bagaimana menjaga organ intimnya dari orang lain.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *