2.11 BUNSAY LEVEL 11

Bunsay Game Level 11 #Day9 Fitrah Seksualitas

Hari ke-9 dengan topik :

Materi – Penyimpangan Seksualitas, Pencegahan dan Solusinya

Penjelasannya :

1. Eksibisionisme
Eksibisionisme adalah jenis penyimpangan seksual dimana penderitanya merasa puas ketika menunjukan alat reproduksinya kepada orang asing dan cenderung dilakukan diam-diam di tempat umum. Umumnya, pecandu eksibisionisme adalah laki-laki dan gejalanya mulai dirasakan sebelum usia 18 tahun.

2. Fetisisme
Fetisisme adalah jenis penyimpangan seksual yang melibatkan objekobjek buatan atau bagian tubuh tertentu untuk meningkatkan gairah seksual. Orang dengan fetish tertentu baru akan mencapai kepuasaan saat melakukan aktivitas seksual dimana pasangannya harus memakai objek-objek fetish atau mengekspos bagian tubuh tertentu.

3. Frotteurism
Frotteurism adalah kelainan seksual dimana seseorang cenderung bergairah untuk menggosokan bagian intimnya pada orang asing dengan tujuan memenuhi kepuasan. Sementara pecandu frotteurism akan berpura-pura tidak melakukan apa-apa, padahal saat proses itulah pelampiasan hasrat seksual mereka terjadi.

4. Pedofilia
Pedofilia adalah penyimpangan seksual yang dilakukan oleh orang dewasa terhadap anak-anak remaja atau anak di bawah umur. Pelaku pedofilia memiliki fantasi berlebihan tentang hubungan seksual dengan anak kecil, baik laki-laki atau anak gadis.

5. Masokisme dan Sadisme
Masokisme dan sadisme adalah hubungan seksual yang berfokus pada penderitaan secara fisik dan psikologi, penghinaan, atau bentuk kekerasan yang dianggap dapat membangkitkan gairah seksual.

6. Transvestisme (Transvestic Fetishism)
Transvestisme (Transvestic Fetishism) adalah penyimpangan dimana seorang pria heteroseksual atau pria normal cenderung ingin berpakaian wanita dalam aktivitas seksual atau aktivitas roleplay. Penyimpangan seksual ini juga dikenal sebagai cross-dressing.

7. Voyeurisme
Voyeurisme adalah perilaku dimana seseorang mendapat gairah atau kepuasaan seksual saat mengintip lawan jenis ketika korban sedang mandi atau tidak berbusana.

8. Autogynephilia
Autogynephilia adalah bagian dari jenis penyimpangan seksual transvestisme dimana seorang pria memiliki fantasi seksual dimana dirinya berperan sebagai wanita. Imajinasi ini pun membuatnya menjadi lebih terangsang saat berhubungan dengan wanita.

9. Necrophilia
Necrophilia berasal dari Bahasa Greek yaitu nekros yang berarti mayat dan philia yang berarti cinta. Necrophilia adalah jenis penyimpangan seksual paling ekstrim dimana seseorang memiliki kesenangan untuk berhubungan seksual dengan mayat.

10. Zoofilia
Zoofilia adalah penyimpangan seksual dimana seseorang memiliki kesenangan untuk melakukan hubungan seksual dengan binatang. Pecandu zoophilia dikaitkan dengan gejala gangguan mental.

Padahal dalam islam, Al-Quran sudah mengatur hubungan seksual dengan cara yang baik dengan bentuk-bentuk sebagai berikut:

Hubungan seks hanya dibenarkan bagi orang yang terikat oleh tali perkawinan yang sah (Q.S. An-Nur [24]:32 ).
Bagi orang yang karena suatu hal tidak atau belum menikah maka perlu memelihara kesucian hidup seksualnya (Q.S. An-Nur [24]:32 ).
Untuk tidak terjerumus ke dalam hubungan seks secara tidak benar (Q.S. Al-Isra [17] : 32).
Untuk menundukkan hawa nafsu (Q.S. Al-Ahzab [33]:59).

-Alquran

Faktor-faktor penyebab terjadinya Penyimpangan seksual (Sumiati, 2009)

1. Meningkat nya libido seksual
2. Edukasi seks yang sangat kurang
3. Pendidikan agama yang kurang
4. Sikap orang tua yang otoriter
5. Media yang berbau pornografi
6. Lingkungan yang mendukung
7. Sosial budaya remaja yang berada dalan perubahan fisik dan emosi

Lalu apa bagaima mencegah penyimpangan seksual??? Berikut ini pencegahan yang bisa dilakukan di dalam keluarga (Risman, 2018):

1. Perkuat ketahanan Ayah-Ibu

Ayah – ibu sebelum mampu menjalankan ayah dan ibu sebelum mampu menjalankan peran ‘mengasuh berdua’ saya himbau untuk berusaha sekuat tenaga menemukan dulu pokok masalah, berusaha untuk saling terbuka dan mengerti masa lalu dan pengaruhnya bagi kehidupan sekarang. Kuatkan peran ayah, Kurangnya peran dan kehadiran ayah dalam pengasuhan justru sangat signifikan menjadi penyebab dari berbagai masalah moral dan spiritual yang kita hadapi sekarang ini.

2. Menyicil “hutang jiwa” dan merumuskan ulang Tujuan Pengasuhan

Kalau kita berhutang di bank harus kita cicil begitu jualah hutang jiwa pada anak anak kita. Untuk mewujudkan peningkatan kualitas pengasuhan anak kita, tak bisa tidak kita harus berusaha mencicil dulu “hutang hutang jiwa” yang kita buat tak sengaja sepanjang pengasuhannya ditahun tahun yang lalu. Jangan lupa bahwa Tujuan utama pengasuhan adalah untuk menjadikan anak anak kita menjadi penyembah hanya Allah saja. Mereka bukan saja harus mengerti tentang berbagai aturan dasar agama tetapi juga senang menjalankannya dan bisa menerapkan batas batas yang boleh dan tidak, yang haram dan halal. Tujuan lainnya adalah bagaimana secara bertahap sesuai dengan usianya anak memiliki kualitas untuk menjadi calon suami istri dan ayah ibu. Sederhana saja, mulailah dengan bertanggung jawab dengan diri sendiri dan punya empati pada orang lain. Bagaimana anak bisa menunjukkan semua hal diatas, kalau kita sekarang mengabaikan perasaannya. Hal lainnya akan berjalan sesuai usia. Tujuan pengasuhan lainnya adalah membantu anak untuk menjadi professional dengan sukses ditiap jenjang pendidikan dan seperti yang ditentukan oleh agama kita bahwa setiap manusia itu harus menjadi pemimpin bagi dirinya sendiri dan keluarganya serta bermanfaat bagi orang banyak.

3. Komunikasi yang benar, baik dan menyenangkan.

Kemampuan berkomunikasi adalah salah satu kemampuan yang sangat dibutuhkan dimasa depan, dimana kini komunikasi tersebut telh sangat diringkas dan di”hemat” dengan adanya perangkat teknologi komunikasi. Tetapi komunikasi tatap muka tak bisa dihilangkan begitu saja dan menjadi hal yang penuh tantangan untuk dilakukan dimasa depan. Biasakanlah untuk tak kehilangan komunikasi tatap muka, bicara baik baik dan berkata benar, bicara dengan kasih sayang, bicara dengan lemah lembut dan dengan suara yang rendah, karena dengan suara tinggi dan besar adalah suara Himar.Komunikasi juga harus mengindahkan kaidah cara kerja otak. Hanya kombinasi agama dan cara kerja otak itulah komunikasi bisa menyenengakan dan mengikat hati dan rasa antar ayah ibu dengan anak anak dan antar anak dengan saudara dan teman2nya.

4 . Mengajarkan agama sendiri.

Kewajiban kita pada Allah sebagai “baby sitter”Nya adalah memperkenalkan Allah,RasulNya dan kitabNya serta berbagai aturan dalam kitab suci kita secara langsung pada anak anak kita.Kalau dasar pengetahuan kita kurang, itulah yang harus kita upyakan untuk ditingkatkan terlebih dahulu. Tidak ada salahnya dan tidak usah malu bila kita harus belajar “bersama” anak, karena itu lebih benar dan mulia dibandingngkan mensubkontrakkannya ketangan orang atau institusi lain. Kita perlu memantau pemahaman dan pengetrapannya sepanjang kehidupan mereka sehari hari. Ya keimanannya, ibadahnya, amalan hariannya , akhlaknya adalah tanggung jawab utama kita. Buat kerangkanya untuk masing masing anak sesuai usia, tempel ditempat yang sering terlihat agar mudah teringat, dan berusaha melaksanakan dan mengevauasinya. Kita tidak perfect, jadi jangan berharap anak kita perfect. Pendidikan itu perlu proses. Prinsipnya yang penting SUKA bukan BISA saja. Kalau suka , anak mengerjakan perintah Allah sebagaimana semestinya, bukan hanya BISA melakukannya ketika kita ADA saja!.

5. Persiapkan anak Baligh.

Karena makanan yang bagus dan rangsangan juga “bagus”, anak kini baligh lebih cepat dibandingkan masa kita remaja dulu. Jadi jangan pernah berfikir “Ah masih lama!”. Tanggung jawab persiapn baligh ini tidak sederhana dan tidak bisa dianggap sepele. Karena begitu anak baligh yang artinya dia telah “sampai” ketahapan dewasa, berarti hukum agama sudah berlaku baginya. Dia sudah dewasa!.
Akhirnya khusus untuk anak laki laki, kita abai. Padahal mereka adalah target pebisnis Narkoba dan pornografi!. Orang tua sudah harus mempersiapkan anak pelan pelan dengan penjelasan yang sederhana apa yang akan dihadapi anak pada masa pubertasnya sejak diatas usia 7 tahun. Dari segi ibadahnya,menjaga tubuhnya, berpakaian, pisahkan tempat tidurnya, pergaulan dengan keluarga maupun teman dan sekitarnya dan berbagai adab hidup lainnya.Jangan hanya fokus pada reputasi akademis saja, karena kerusakan otak akibat pornografi tak bisa dilihat dari terganggu atau tidaknya prestasi akademisnya, tapi pada kehidupan emosinya dan spiritualnya!

6. Bijaklah berteknologi.

Mengejutkan sekali data yang kami peroleh dari angket yang kami sebarkan dibeberapa propinsi sejak pertengahan tahun 2017 ini, bahwa kecenderungan orang tua memberikan gadget dan social media semakin membenkan diusia semakin muda. Ada beberapa kota dan kabupaten tertentu yang persentase pemberian gadget pada anak BATITA DAN BALITA lebih tinggi dari pada anak SD!. Kami kawatirkan hal ini terjadi karena orang tua benar benar LATAH, memberikan gadget pada anak karena anak orang lain punya . Tapi lebih menyedihkan lagi kalau pemeberian itu karena orenga tua NGGAK MAU REPOT ngurus anak yang ‘lasak/aktif dan menangis/ rewel atau yang lebih parah karena mereka tidak mau terganggu dalam membaca dan membalas pesan2 teman dari berbagai grup yang dia miliki. Andai saja para orang tua ini tahu akibatnya bagi otak anak itu, gangguan pada mata, jemari, tulang belakang, perilakunya, dan keberhasilan hidup secara emosional dan spiritual dan betapa repot dan ruginya mereka nantinya, pasti mereka berjuang untuk menunda memberikan perangkat canggih itu pada anak anaknya. Kendali ini letaknya pada ayah. Berilah anak perangkat teknologi sesuai dengan para penciptanya memberikan pada anak anak mereka 12- 13 tahun. Dan mulai denga perangkat yang sederhana fungsinya.Pemberian perangkat canggih ini tidak bisa tidak harus dengan penjelasan akan fungsi dan bahayanya, aturan yang harus dibahas dan disepakati bersama dan merumuskan konsekuensinya bial dilanggar. Itu saja juga tidak cukup, tpi harus disempurnakan dengan pendampingan , dialog dan diskusi dan pembuatan peraturan berikutnya sesuai dengan meningkatnya usia. Ayah ibu harus menjelaskan pada anak bahaya pornografi, kriminalitas, berbagai jenis narkoba dan kemungkinan kejahatan melalui perangkat tersebut dan bagaimana menghindarinya dengan cara melakukan “bermain Peran” atau Role Play. Menyedihkan sekali menemukan fakta dari kegiatan kami, anak anak yang diberikan HP pada usia muda, ternyata mengakses pornografi mulai jam 10 malam sampai dini hari… Sekali lagi ayah bunda, anak anda generasi Millenials dan generasi Alpha (lahir diatas 2010!), tantangannya luar biasa.

Adapun yang dapat dilakukan dalam pendidikan seks dalam keluarga, islam sudah memberikan acuan dan prinsip-prinsip dasar sebagai pedoman hidup, yaitu
1. Memisahkan tempat tidur anak Islam mengajarkan kepada para orangtua untuk memisahkan tempat tidur anak-anakynya ketika telah mencapai usia tujuh tahun.
2. Meminta izin ketika memasuki kamar orang tua Seperti dalam surat An-Nur [24] : 58-59. Beberapa waktu yang ditegaskan dalam ayat tersebut adalah (dini hari sebelum subuh, tengah hari, dan sesudah sholat isya).
3. Perintah menutup aurat ketika sudah baligh. Seperti dalam surat Al-A’raf [7] : 26 dan surat surat An-Nur [24] : 30-31.
4. Mengajarkan Adab memandang lawan jenis.
5. Menanamkan fitrah gender
6. Mengenalkan mahrom-mahrom nya
7. Mendidik cara menjaga kebersihan kelamin (adab istinja)
8. Memberikan pengertian tentang mimpi basah dan haid
9. Pemahaman mengenai bahaya penyimpangan seksual dan bahaya yg ditimbulkannya.

Apabila sudah ada kejadian penyimpangan seksual bagaimana solusinya???

Apa yang harus dilakukan ketika anak-anak diindikasi mengalami penyimpangan orientasi/perilaku seksual?

– Cari tahu faktor yang melatarbelakanginya (Apakah faktor biologis, kesalahan informasi dan persepsi anak, pergaulan, ataukah faktor lainnya). – Diskusi dengan psikolog tanpa melibatkan anak.
– Ketika data sudah cukup, ajak anak untuk datang ke psikolog (pastikan anak merasa nyaman).
– Jika ada faktor biologis (misalnya masalah hormone, maka perlu adanya terapi hormone).
– Jika penyebabnya karena kesalahan informasi atau persepsi dan pergaulan, maka bisa dilakukan terapi kognitif. Pada kasus-kasus demikian, nilainilai moral sosial dan agama adalah hal yang tidak bisa dilepaskan di samping tetap diperlukannya penanganan tenaga psikiater, psikolog atau medis lainnya. Hal yang perlu diketahui bahwa pada penanganan kasus demikian, psikolog bisa saja memberikan intervensi tidak hanya pada anak yang dimaksud, namun juga pada anggota keluarga, atau bahkan lingkungan sekolah anak tersebut. Bentuk intervensi bisa saja berbeda tergantung jenis kasus dan penyebabnya. Hasil yang dicapai pun bisa jadi berbeda antar kasus. Batas paling rendah adalah membantu anak untuk ‘mengabaikan’ kecenderungan Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender, yang populer dengan istilah LGBT.

Jika anak usia SMA cenderung kelaki-lakian (untuk perempuan) atau sebaliknya. Bagaimana cara untuk mengatasinya?

Ketika seseorang berperilaku berbeda dengan identitas gendernya, maka harus dipastikan terlebih dahulu bagaimana orientasi seksualnya. Karena orientasi seksual ini sulit diketahui kecuali dari pengakuan jujur dari yang bersangkutan. Jika memang memiliki orientasi seksual sesama jenis atau Same-Sex Attraction (SSA) yang tidak seharusnya, maka perlu dikembangkan lebih lanjut apakah telah sampai pada perilaku seksual menyimpang atau tidak.
Karena tomboy saja misalnya, belum tentu dia memiliki SSA kepada sesama jenis. Hampir semua SSA atau homoseksual sudah menyadari sejak masa umur 10 tahun hingga remaja. Bahkan pada beberapa kasus, anak telah menyadari penyimpangannya saat di bawah usia 10 tahun. Jika sudah dalam taraf berlebihan, karena individu sudah SMA, maka remaja tersebut dapat diajak diskusi. Remaja harus ditanya kenapa ia bergaya atau melakukan pilihan perilaku demikian.
Eksplorasi juga bisa dengan membenturkan remaja tersebut pada pertanyaanpertanyaan berikut:
– Apakah ia nyaman dengan gaya/tingkah lakunya?
– Apakah ia akan melakukannya secara terus menerus?
– Apakah itu akan baik-baik saja dengan cita-cita yang sedang ditujunya? Pendekatan secara kognitif demikian perlu dilakukan untuk menangani penyimpangan orientasi/perilaku seksual pada remaja, sebelum kemudian dilakukan intervensi perilaku berupa target supaya dalam kehidupan sehari-hari individu dapat bersikap sesuai ‘gender’-nya.

Ada tips dari mereka yang memiliki SSA tetapi tidak sampai melakukan perbuatan selayaknya gay atau lesbian, dan mereka sedang berjuang untuk merubah orientasinya tersebut, yaitu:
– Menahan pandangan
– Membatasi pergaulan langsung dengan orang SSA
– Menjauhi tawaran yang tidak jelas seperti pemikiranpemikiran yang merusak
– Mengikuti berbagai jalan kebaikan, seperti kegiatan keagamaan, dll.

Bagaimana mengetahui bahwa penyimpangan seksual anak disebabkan karena faktor internal seperti faktor hormonal, kelainan kromosom, atau struktur otak?

Bagaimana/mengapa itu bisa terjadi? Keputusan apakah ada sumbangan faktor nature dalam sebuah perilaku harus diputuskan oleh kalangan medis, dan bukan sekedar asumsi dan opini dari orang-orang yang tidak otoritatif. Terkait dengan kelainan kromosom atau faktor DNA dalam kasus homoseksual, hal tersebut telah banyak ditentang para pakar salah satunya yaitu Dean Byrd.

Apakah identitas gender itu terkait dengan stereotipe, misal laki-laki ‘NO PINK’?

Stereotipe lahir dari budaya. Misalnya: dulu cewek cantik itu yang kuning langsat sedangkan cowok keren itu yang semacam Doel anak sekolahan, sedangkan zaman sekarang cewek cantik itu yang putih sedangkan cowok keren itu yang standar Korea, Hollywood, atau Bollywood. Maka, ‘cowok’ dan ‘pink’ itu bukan gender.
Gender adalah PERAN berdasar jenis kelamin. Pria peran gendernya adalah melindungi dan ‘merawat’ wanita atau anak-anak, mencari nafkah, mengasihi, dsb. Sedangkan wanita peran gendernya adalah merawat anak-anak bersama suami, memanajemen rumah tangga, dll. Hal demikian lah yang disebut identitas gender. Identitas gender adalah proses awal seorang individu menilai dirinya. Sedangkan stereotype gender dikembangkan untuk memudahkan dalam mengembangkan atribut personal di antara laki-laki dan perempuan. Menurut para psikolog sosial, stereotype gender adalah skema sosial yang lumrah dalam menyederhanakan pengalaman hidup yang kompleks dengan cara mengkategorikan dan melakukan generalisasi.
Stereotype gender dalam kondisi tertentu bisa jadi menyimpan bahaya, namun dalam kesempatan lain perlu diakui bahwa hal tersebut juga diperlukan. Hal yang perlu dilakukan dalam kondisi seseorang yang terlihat memiliki identitas gender yang tidak sesuai adalah individu tersebut harus mempertahankan perilaku sesuai stereotype gender-nya dan usahakan supaya jangan berada dalam situasi yang netral gender. Misal tentang stereotype warna. Ada baiknya anak lakilaki yang suka warna pink diarahkan pada warna seperti warna biru atau warna lain yang lebih berkesan maskulin. Ada kalanya stereotype gender seperti warna pink untuk perempuan dan biru untuk laki-laki dalam kasus tertentu perlu dikuatkan. Hal ini karena bisa jadi untuk mereka yang bermasalah, hidup dalam dunia netral gender justru akan menambah ketidakjelasan identitas.

Bagaimana bila terjadi tindakan seorang kakak yang ‘iseng’ mendandani adik laki-laki menjadi perempuan saat bermain?

Apakah bisa mempengaruhi orientasi seksual anak? Perilaku manusia itu unik. Segala intervensi faktor nature dan nurture bisa berpengaruh dengan cara yang sangat individual sifatnya. Kasus anak-anak yang suka didandani bisa saja mempengaruhi tapi bisa juga tidak terjadi pengaruh sama sekali. Meski demikian, lebih baik dihindari tindakan dandan-dandan yang tidak semestinya, karena kita tidak mengetahui apakah tindakan tersebut akan memicu penyimpangan pada anak ataupun tidak. Terlebih lagi bahwa agama secara jelas telah memberikan arahan bahwa tidak boleh lakilaki menyerupai perempuan, begitupun sebaliknya.

Penyimpangan seksual kabarnya bisa menular, benarkah?

Faktor lingkungan menjadi faktor yang dominan dalam munculnya penyimpangan perilaku seksual. Ketika lingkungan mendukung dan individu terbuai, maka akan sangat mudah bagi individu tersebut untuk terbawa pengaruh lingkungan. Gaya hidup menjadi salah satu contoh jelas ketika manusia yang memiliki kecenderungan ingin bisa diterima oleh lingkungan berusaha berasimilasi pada lingkungannya. ‘Menular’ yang dimaksud di sini bukan ‘contagious’ sebagaimana penyakit menular akan tetapi lebih kepada kebutuhan untuk ‘diterima’ yang membuat individu berasimilasi pada gaya hidup lingkungan tersebut.

Apabila yang bersangkutan tidak merasa perilakunya menyimpang, bagaimana cara menyadarkan dan kemudian membantu ‘meluruskan’ orientasi seksualnya?

Ini masalah belief yang terlanjur menguat dalam individu pelaku homoseksual. Dengan demikian, persepsi mereka harus terlebih dahulu diubah, sebagaimana kita melihat pada kasus mereka yang berkebutuhan khusus yang memerlukan penanganan dan terapi untuk mengubah orientasinya.

Bagaimana mengajarkan pada anak cara bersikap pada orang yang mengalami Penyimpangan Gender?

Pada anak-anak kita perlu menyampaikan supaya jangan melakukan bullying pada mereka yang menunjukkan Penyimpangan Gender. Karena bullying akan semakin menguatkan para pelaku Penyimpangan Gender pada pilihan perilaku yang salah.

Bagaimana menolak homoseksual yang memiliki ketertarikan pada diri kita?

Kita harus punya sikap asertif untuk menolak, disampaikan dengan tegas namun tetap baik dan santai. Katakan bahwa kita enjoy dengan kondisi kita sekarang dan belum ingin mengubahnya dengan menjadi pasangannya. Bersyukur bila moment tersebut bisa menjadi ajang penjelasan dan pembahasan terkait agama dan norma sekaligus untuk meluruskan keyakinannya. Terkait sikap dari pelaku homoseksual atas penolakan yang kita berikan, pada akhirnya kembali ke sifat dasar individu tersebut, ada yang menghadapinya dengan santai, ada yang lalu memusuhi, atau bisa jadi semakin keras untuk mengejar kita. Pada dasarnya mereka ‘normal’ dalam memberikan respon balik terhadap penolakan, seperti individu heteroseksual pada umumnya.

Apakah kaum LGBT bisa mengubah orientasi yang dimiliki?

Tergantung situasi dan kondisi yang dimiliki pelaku LGBT. Orang-orang yang masih polos berpeluang besar mengubah orientasinya. Sebuah cerita, ada 3 narasumber yang ditangani oleh lembaga Peduli Sahabat, mereka masih polos-polos dan berhasil melakukan perubahan orientasi setelah usia di atas 40 tahun dengan berbagai metode yang dicoba sendiri. Dari kasus tersebut dapat kita lihat bahwa yang masih ‘polosan’ (tidak mengenal dunia LGBT, tidak terbelenggu dalam hubungan seksual sesama jenis) baru bisa mengubah orientasinya sekitar umur 40-an, maka butuh waktu yang lebih lama bagi yang sudah sangat dalam menjalani ke-LGBT-annya. Berhadapan dengan kasus penyimpangan orientasi dan perilaku seksual, pemberian intervensi dengan pendekatan psikologi, medis dan agama secara harmonis menjadi jalan yang patut diusahakan. Karena dalam praktiknya, walaupun kita meyakini agama selalu bisa menjadi solusi dan nasihat, ternyata tidak semua bisa mudah diterapkan, karena memang ada hal-hal yang harus atau membutuhkan pertolongan medis. Meski demikian, agama selalu bisa menjadi pendamping dalam semua model terapi apapun yang dilakukan dan ini adalah kekuatan yang tidak bisa diabaikan. Bersama dengan hal tersebut, penanaman nilai-nilai moral juga penting bagi pembentukan karakter anak. Keluarga sebagai lingkungan terdekat anak harus mampu menjadi tempat edukasi yang pertama dan paling efektif. Keluarga bertanggungjawab dalam membimbing dan mengarahkan anak-anak kepada perilaku seksual yang seharusnya.
Ketika menemukan kasus Penyimpangan Perilaku Seksual dalam keluarga atau lingkungan, maka berpikiran jernih untuk mencari jalan keluar terbaik dengan tetap menjadikan nilai-nilai moral dan agama sebagai salah satu pertimbangan adalah hal yang perlu diutamakan. Manusia tidak bisa sekedar dipandang dalam konteks kepentingan manusia semata sehingga membuat kita mengembangkan sikap humanisme berlebihan. Dengan demikian, kembali lagi perlu bagi semua pihak untuk menguatkan mata rantai keluarga – lingkungan – peer group – media – sekolah – negara, untuk bersama-sama menanggulangi keberadaan penyimpangan perilaku seksual ini di masyarakat.

1 thought on “Bunsay Game Level 11 #Day9 Fitrah Seksualitas”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *