DAILY

Challenge Minggu 1 : Anak Tanpa Ponsel Seharian

Sebenarnya malam ini saya mau berbagi cerita tentang sumur resapan, sebagaimana yang tadi pagi saya bagikan di Instagram Stories. Sayangnya, saya baru bisa membuka blog ini pukul 22 malam menjelang tidur. Sehingga post blog khusus sumur resapan sepertinya besok saja. Dan kondisi laptop saya, keyboardnya sedang error. Maka, saya kembali mengetik postingan di ponsel.

Seperti emak-emak pada umumnya, zaman sekarang tak bisa lepas dari perangkat elektronik yang dinamakan gadget. Entah itu bentuknya tablet, laptop, komputer, ponsel pintar, jam pintar, dan sejenisnya. Namun, di sisi lain muncul perasaan bersalah karena merasa bergantung dengan benda-benda tersebut. Saya sendiri mengalami dilema, di satu sisi ingin mengurangi, di sisi lain, merasa butuh. It’s okaylah sebagai seorang dewasa, saya bisa mengontrol diri untuk tidak setiap waktu menggenggam benda tersebut. Namun, bagi seorang anak, bisa saja, karena terbiasa dengannya, sebagai hiburan atau edukasi sekalipun, ia akan marah jika tidak diberi tontonan atau melihat hape.

Anak kami sebenarnya tidak mengalami adiksi gadget, hanya saja, sekali dia merasa nyaman, ia akan terus menerus meminta hanya untuk sekadar mengalihkan perhatian. Maka, per hari ini, saya berlatih untuk memegang ponsel di jam jam tertentu saja dan tidak memperlihatkan pada anak. Walaupun di rumah tak ada layar TV dan segala jenisnya, hiburan yang paling berarti adalah kebersamaan itu sendiri.

Saya menantang diri pribadi, sebagai orang tua, untuk tidak teradiksi gadget dan juga melatih diri untuk tega, yaitu terhadap ponsel genggam agar tak lagi digenggam oleh anak.

Hasilnya apakah hari ini berhasil?

Alhamdulillah, berhasil!

Tip yang saya dapatkan dari belajar melepas ponsel hari ini adalah :

Biarkan Anak Sibuk dengan Aktivitas Fisik

Hari ini, anak kami cukup sibuk. Dari pagi, bangun, mandi kemudian membantu mengangkat dan memindah tanaman dari depan ke samping rumah. Awalnya dia ingin merengek minta nonton, namun saya jelaskan bahwa tidak ada gadget di pagi hari hingga siang.

Sekitar pukul 9.30 pagi, saya pergi menengok tetangga bersama ibu-ibu komplek. Anak di rumah merengek ingin ikut, namun karena crowded, tak saya izinkan. Akhirnya dia ikut abinya, kondangan hingga pulang tepat azan zuhur.

Bada zuhur, saya tidur sedangkan anak, bermain air, hujan-hujanan dan bermain bersama temannya. Hingga Maghrib, beres mandi, makan bareng, bermain lagi dan ditutup dengan rutinitas sebelum tidur (gosok gigi, pipis, baca buku, berdoa).

Alihkan Fokus Diri untuk UPGRADING dari sisi personality

Saya pribadi, ingin bisa memasak enak dan cekatan. Masih belajar sih, termasuk hari ini. Saya belajar memasak dari resep salah satu sahabat saya.

Dan hasilnya ternyata :

  1. anak suka
  2. Suami suka
  3. Teman mainnya anak, juga suka

Saya jadi semakin semangat memasak. Apalagi saat teman syahid bilang mau nambah karena enak lauknya. (Jadi terharu sekaligus tersipu).

Biarkan anak Explore dan Berimajinasi tanpa perlu melihat Gadget

Karena rumah saya minimal barang. Kini rak buku hanya ada satu saja dan mudah sekali membersihkannya. Perabotan juga semua serba sederhana dan minimalis, maka seberantakan apapun, saya mudah sekali mengembalikan ke kondisi semula.

Efeknya, ketika anak-anak bermain riang, dalam kondisi ruangan yang lapang, mereka menjadi bebas berekspresi serta bereksplorasi. Seperti Maghrib tadi, mereka membuat kandang dari buku, mereka berperan menjadi kambing. 😅

Buku adalah Kunci

Karena tak ada gadget di tangan, maka buku menjadi primadona di rumah. Alhamdulillah saat kami jauh dari gadget, kami bisa merasakan bahwa meaningful for life itu justru didapat ketika tak memegang benda kecil di tangan ini.

Kini, saya bisa membaca buku dengan tenang. Rehat pun jadi terasa lebih nyaman. Karena isi kepala sudah mulai terpenuhi dengan charger aktivitas : membaca buku.

Demikian post blog sederhana hari ini. Semoga esok lebih baik. Amin.

Tinggalkan Balasan