DECLUTTERING & ORGANIZING

Cut food costs with pantry power

Wah judulnya ‘bombastis’ ya! Memangkas biaya pengeluaran di rumah dengan kekuatan pantri. Terkesan click bait padahal memang sengaja menulis demikian. Judul di atas merupakan salah satu super sub kategori dari buku yang berjudul ‘Cut the Clutter’ yang menjadi salah satu referensi bacaan saya di gemar rapi.

Dapur adalah ruangan yang krusial, jantungnya kehidupan rumah tangga. Bisa dikatakan bahwa penentu sikap seseorang bermula dari dapur. Saya percaya itu karena semakin rumit, ruwet dan berantakan dapur biasanya clutter di pikiran, mental, emosional seseorang akan tampak. Namun jika dapurnya sehat, insyaaAllah kondisi jiwa raga juga mengikuti. Selain sehat, tentu dapur yang didambakan adalah dapur yang hemat.

Salah satu rahasia dapur hemat dipengaruhi oleh pengaturan pantri yang terencana dengan baik. Namun, sebelum membahas tentang pantri, saya ingin membagikan sedikit materi tentang konsep dapur secara umum yang saya terapkan di rumah dengan metode gemar rapi, juga sebagai muslim/ah kami di rumah juga berusaha detil untuk memperhatikan kehalalan dan thayyibnya setiap barang dan makanan yang masuk.

Oia, salam kenal, bagi yang sebelumnya belum kenal. Saya Nikmah, biasa aktif di @nikmahwriter dan menyukai kegiatan berbenah dan menjadi juru berbenah dari kelas 1 SD.

Konsep Dapur Gemar Rapi

Metode gemar rapi merupakan konsep yang holistik yang tumbuh karena problematika segala aspek (fisik, jiwa, keamanan, dan lingkungan) yang bermula karena disebabkan oleh clutter. Karakteristik metode Gemar Rapi sebagai berikut :

Konsep dapur kembali ke personal masing-masing keluarga, terpenting setiap anggota keluarga ‘memahami perannya masing-masing’ sebagaimana yang disampaikan oleh Ustadz Budi Ashari dalam akun instagram beliau.

Rumah tangga ibarat sebuah kendaraan. Ia digunakan untuk menempuh sebuah perjalanan. Seluruh anggota keluarga adalah ibarat penumpang dengan perannya masing-masing. ‘Ayah dan Ibu’ ibarat nahkoda dan navigatornya. Merekalah yang memiliki rencana dan akan mengumumkan kepada seluruh anggota keluarga; kemana tujuannya, lama perjalanan yang ditempuh, dan apa yang akan dilakukan sesampainya. Berbekal informasi tersebut, maka setiap anggota keluarga dapat mengukur persiapannya, apa saja bekal yang dibutuhkan.

@budiashariofficial

Konsep dapur yang saya dan suami sepakati adalah :

  • dapur yang minimalis, sedikit barang. Selama tinggal di kontrakan saya mulai mengurangi sedikit demi sedikit. Pernah saya tulis di sini (belum update yang kondisi terkini).
  • menu yang sekali saji (setiap hendak makan, langsung memproses makanan saat itu juga).
  • menu makanan yang minim proses (tujuannya supaya tidak ada gizi yang menguap terbuang). Dalam hal ini, saya jadi bersemangat belajar tentang hal ini kepada beberapa ahli.
  • bersih, nyaman dan berkelanjutan (dalam hal ini kami memilah sisa konsumsi, mengolahnya dan tidak lagi membuang barang atau sisa konsumsi ke TPA-tempat pembuangan akhir, sejak 2018 lalu hingga kini). Suami saya pernah berkunjung ke TPA 2 tahun lalu yang kemudian membuatnya semakin bersemangat untuk hidup minim sampah, sempat didokumentasikan pada laman blognya https://aanghudayawordpress.wordpress.com/2018/07/10/kemanakah-perginya-sampah-kita/.
  • halal dan thoyyib, ini penting diperhatikan sebagai seorang muslim.

Dapur sayab (kondisi masih di kontrakan) sangat simple, sehari-hari saya hanya menggunakan pantri (berisi peralatan masak, alat saji dan bahan) dalam satu rak, membersihkan semua barang yang berantakan setiap sebelum tidur termasuk mencuci tatakan kompor dan juga plastik.

Halal thoyyib

Saya bukan orang yang ahli menyampaikan hal ini, maka tulisan ini saya kutip dari Bu Murniati Mukhlisin, beliau seorang konsultan keuangan syariah di sebuah biro keuangan syariah. Beliau memulai penjelasannya dari surat Al-Baqarah dan Al-Maidah. Dimana dalam Surah Al-Baqarah (2): 168 dan Al-Maidah (5): 88 disebutkan dua kata ‘halal’ dan ‘thayib’.

Pada Al-Baqarah, makna ayat tersebut adalah dianjurkan bagi manusia untuk memakan apa–apa saja di muka bumi ini sepanjang halal dan thayib. Sedangkan di surah Al-Maidah, ayat tersebut melarang manusia yang beriman untuk tidak terlalu membatasi dirinya dengan kehidupan di dunia.

Manusia tetap dianjurkan untuk menikmati kehidupan layak yang dicontohkan Rasulullah SAW (menjadi sunah) salah satunya adalah makan apa saja sepanjang halal dan thayib.

Ayat-ayat yang berkenaan dengan halal yaitu thayyib tersebut ditafsirkan dalam tafsir Ibnu Katsir, sebagai makanan yang :

  1. sehat bergizi
  2. bermanfaat bagi fisik dan akal manusia

Contoh halal dan thayib Dari segi makanan, makanan halal adalah semuanya kecuali yang dilarang yang dinyatakan di Al-Qur’an dan hadits.

Contoh makanan yang dilarang dalam Al-Qur’an adalah :

  1. Bangkai, darah, daging babi, dan (daging) hewan yang disembelih dengan (menyebut nama) selain Allah (QS Al-Baqarah (2):173; QS Al-Maidah (5):3).
  2. Minuman keras (alkhomru) secara tegas juga dilarang (QS Al-Maidah (5):90).
  3. Segala makanan yang buruk (QS Al-Araf (7):157) termasuk al-khabaaits atau sesuatu yang menjijikan, berbahaya dan haram.
  4. Hewan yang berkuku tajam dan bertaring (HR Muslim No. 1933), serta pemakan kotoran (jalallah) (HR Abu Daud No. 3785; Tirmidzi No.1823; dan Ibnu Majah: 3189).

Selanjutnya hidup dari rezeki yang thayib disebutkan di QS Al-Baqarah (2):172 menjadi anjuran bagi orang yang beriman. Contoh makanan yang thayib atau bernutrisi tinggi dan memberikan dampak kesehatan banyak disebutkan di dalam Al-Qur’an seperti :

  1. hewan ternak beserta susunya.
  2. ikan segar.
  3. jagung.
  4. zaitun.
  5. kurma.
  6. anggur.
  7. madu.
  8. dan tumbuh–tumbuhan lainnya, termasuk jintan hitam yang disebutkan dalam sebuah hadits.

Walaupun begitu banyak makanan yang dsebut (boleh) dimakan dibandingkan larangan-Nya sebagai muslim, tetap dianjurkan untuk seimbang, tidak berlebihan sebagaimana yang disampaikan dalam surat Taha (20):81 yang artinya: “Makanlah dari rezeki yang baik – baik yang telah Kami berikan kepadamu, dan janganlah melampau batas…”

Sayangnya, semakin canggih teknologi, semakin banyak makanan yang diproduksi dengan cepat, instan dan tidak sehat dalam jangka panjang seperti ayam broiler dan telurnya, susu kaleng, beras non-organik, ikan yang diawetkan, dan sayur–sayuran yang berpestisida tinggi, beras non-organik, buah–buahan yang dililin, makanan ber-MSG dan makanan instan lainnya. 

Tentu kondisi gizi dan kesehatannya jauh beda dengan ayam kampung, ikan segar, susu segar, beras organik dan sayur – sayuran organik.

Seorang penulis, Michael Pollan dalam bukunya Food Rules menyatakan bahwa ada 10 petunjuk memilih makanan sehat:

  1. . Jangan makan apapun yang nenek moyang kita tidak mengakuinya sebagai makanan. Kita jangan sampai melampaui batas.
  2. Makan tumbuh–tumbuhan terutama daun–daunan. Saya pernah membaca buku dari dokter Hiromi Shinya bahwa makanan kita sudah diberikan tools oleh Sang Pencipta dengan adanya gigi kita, yakni lebih sedikit gigi taring dibanding gigi yang lain artinya kurangi makan hewani, perbanyak tumbuhan.
  3. Makan makanan yang kelak akan basi.
  4. Keluar dari supermarket secepat mungkin untuk menghindari makanan instan.
  5. Bukan makanan jika dia datangnya lewat jendela mobil (fast food).
  6. Bukan makanan jika disebut dengan nama yang sama di semua bahasa.
  7. Makanlah daging hewan yang memakan makanan yang baik.
  8. Makan junk-food asal buatan sendiri.
  9. Jangan sarapan pagi dengan sereal yang dapat mengubah warna susu.
  10. Jangan remehkan ikan kecil yang berprotein tinggi. 

Petunjuk dari Michael Pollan di atas dapat menambah pemahaman kita terhadap makanan yang halal dan thayib. Makanan yang halal, ditempuh dengan menjemput rezeki yang halal dengan cara yang baik. Baik saat memperoleh, memproses dan menghabiskannya. Untuk panduan cara makan Nabi, bisa kita baca sendiri di buku-buku terkait sirah kehidupan sehari-hari Rasulullah.

Makanan sehat memang membutuhkan proses yang tidak instan, biasanya jenis bahan organik jauh lebih mahal karena tidak memenuhi syarat produksi massal yang murah meriah namun merusak kesehatan.

Saya pribadi bersama suami lebih memilih untuk berproses mandiri pangan dari dalam rumah. Dengan bercocok tanam sayuran dan buah-buahan serta bunga-bunga yang bisa kami makan.

Semua bahan makanan, alat masak dan saji, tersimpan dalam ruang dan rak yang bernama pantri.

Apa itu Pantri?

Ada yang belum paham pantri itu apa?

Pantri adalah sebuah ruangan atau furniture yang dijadikan sebagai tempat penyimpanan bahan makanan dan minuman dan barang-barang terkait penyajian makanan seperti alat makan atau alat masak. Ruangan ini menjadi ruangan pendukung yang memengaruhi jenis dan segala hal yang terkait dengan bahan-bahan makanan yang akan dimasak di dapur.

Bisa dibayangkan, seandainya di dapur kita ‘bersembunyi’ banyak cadangan makanan, peralatan dapur dan perkakas yang tak digunakan, jika diuangkan maka berapa biaya sewa ‘tempat’ untuk mereka setiap meter kubiknya? Jika kita kurangi, jual dan minimalisir tentu hal ini akan menghemat, menambah penghasilan sekaligus mereduksi stres yang ada di dapur.

Saya masih ingat, pernah menyimpan beberapa jenis kotak makan bonus salah satu produk yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan, hanya disimpan begitu saja. Sayangnya memakan tempat, semakin lama ada tambahan barang yang serupa dan membuat sesak rak. Pernah juga menyimpan cokelat batang dan beberapa bahan kue yang sebenarnya saya tak tahu kapan akan saya gunakan. Akhirnya, saya keluarkan dan berikan ke tetangga, setelah itu, benar-benar harus berhati-hati lagi saat hendak membelinya. Hal ini juga berlaku dengan barang yang lain.

Apa tujuan kita berfokus pada penataan dan pemeliharaan pantri?

Setidaknya terdapat dua hal atau pandangan mengapa penting memelihara pantri.

  1. Pertama, dari sisi kenyamanan rumah. Setiap diri kita pasti mendambakan kondisi dapur yang nyaman, sehat, terjaga dan apik dibandingkan dapur yang kumuh, kotor, jorok dan kondisi bahan makanan tak jelas isinya. Semakin pantri kita terjaga akan semakin nyaman penghuni rumah karena hal ini berkorelasi dengan kondisi perut (baca : usus) sebagai manusia. Dimana produksi hormon serotonin (hormon kebahagiaan) lebih banyak diproduksi dalam perut (usus) dibandingkan otak.
    Itulah kenapa muncul istilah bahwa usus adalah otak kedua manusia, karena selain susunannya yang hampir mirip, juga kinerjanya sama seperti otak, memproduksi hormon-hormon penting yang menunjang kesehatan manusia. Saya pernah bahas disini.
    Ada juga istilah ‘good food, good mood.’ Sebab makanan yang kita makan, akan mempengaruhi kinerja hormon yang juga mengatur emosi (mood), perasaan kita. Banyak orang yang mampu mengerem, mengatur pola makannya, memiliki emosi yang lebih stabil dibanding yang awut-awutan menu makannya.
  2. Kedua, upaya perlindungan terhadap kejadian tak terduga. Bagaimanapun, pengeluaran yang menetap sepanjang membangun rumah tangga ada pada dapur. Dapur yang terencana dengan baik berarti bahwa dapur yang dikelola oleh rumah tangga yang paham kapan stok perlu ditambah, kapan akan habis maka mereka tidak akan pernah kehabisan atau kekurangan sehingga memengaruhi aktifitas di kehidupannya.

Saya masih ingat di saat awal menikah begitu rajin mencatat pengeluaran dan pemasukan karena merasa penting dan serba terbatas. Lambat laun karena merasa sudah tercukupi dan mulai mapan, kebiasaan itu semakin lenyap ditelan kesibukan dan aktifitas seharian sehingga di saat kondisi darurat, kekurangan uang, kembali disadarkan akan perencanaan ini dan akhirnya kembali ke ‘jalan yang lurus’. Memang, manusia tak ada yang sempurna, selalu saja ada kesalahan, itulah kenapa ketika diingatkan dengan kesalahannya, kita perlu mencari ilmu agar tak terjerembab ke dalam lubang yang sama.

Lebih penting lagi di masa pandemi covid-19 ini, dimana dapur adalah bagian penentu kesehatan kita, ia menjadi cadangan di masa-masa sulit. Misalnya terjadi hal-hal yang tak diinginkan, apakah itu kehilangan pekerjaan, sakit, atau bencana alam, maka dengan memiliki kemampuan menata pantri, kita bisa senantiasa memastikan keluarga akan terus kita beri makan, dalam kondisi bersih, dan tetap merasa nyaman walau dalam menghadapi kesulitan.

Tingkatan Kondisi Pantri

Apakah kamu masuk pada jenis : pemula, menengah, atau advanced?

Chyntia Ewer membagi kondisi pantri dalam 3 jenis :

  1. Jika kamu berada di tingkat pertama, dapur pemula berfokus pada kenyamanan dan isi stok setiap bahan makanan yang dapat disimpan yang digunakan di rumah saat itu juga. Standarnya sederhana: untuk setiap kantong yang terbuka, laci, boks, kotak, atau apapun itu wadahnya, dipastikan selalu menyediakan cadangan kedua. Tipe pemula ini cukup bagus, karena memiliki persediaan makanan selama tiga hari dan perlengkapan kebersihan yang memadai. Kondisi ini biasa dimiliki oleh kalangan menengah ke bawah atau para pekerja harian atau pekerja lepas. Intinya bekerja untuk menyiapkan makan 1-3 hari. Namun kondisi ini belum bisa dikatakan ‘kokoh’.
  2. Kondisi yang kedua, tingkat menengah. Dalam kasus darurat, pantri kelas menengah masih dapat memberi makan keluarga untuk jangka waktu tertentu. Minimal dua minggu sampai satu bulan.
  3. Jenis pantri yang ketiga adalah yang komprehensif, artinya pantri yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan penyimpanan makanan jangka panjang. Minimal satu tahun. Biasanya pantri jenis ini memiliki tenaga yang profesional, andal dan mampu mengatur bujet sehingga kondisinya ‘pas’ dan terukur. Misalnya pantri di pondok pesantren, sekolah boarding school, hotel dan seterusnya. Pantri level advanced sudah teruji dan memiliki kapasitas berpikir yang kompleks untuk mengatur keuangan dan proses membuat keputusan dalam hal berbelanja bahan yang esensial.

Biasanya, kondisi pantri beririsan dengan bagaimana food preparation. Saya pernah menuliskannya di sini. Berbeda dengan foodprep, mengatur pantri justru lebih luas dan besar cakupannya karena meliputi budgeting di luar menu sehari-hari juga.

Cara Mengatur Pantri

  1. Stocking pantry. Cek kebiasaan apa saja yang selama ini dilakukan terhadap bahan makanan dan peralatan masaknya. Jika ada yang berlebih, sebaiknya dikurangi sejak awal dan berikan label.
  2. Check the grocery list. Artinya setiap kali belanja, pastikan tidak sedang ‘lapar mata’ atau ‘digunakan kapan-kapan (entah kapan, gak jelas)’ atau sedang dalam kondisi emosi yang tidak stabil (cenderung impulsif). Pastikan semua stok misalnya di kulkas benar-benar tingga sedikit dan akan segera dihabiskan atau dikosongi sebelum memutuskan untuk membeli bahan makanan yang baru. Termasuk dalam hal ini, persediaan bumbu.
  3. Perhatikan cara menyimpannya.

Cara Menyimpan Bahan Makanan di Pantri

Biasanya saat berbelanja, kita mendapatkan produk dengan bungkusnya sekaligus (plastik). Sebaiknya cek tanggal kadaluarsanya sebelum memutuskan untuk masuk ke dalam keranjang belanja. Setelah tiba di rumah, pilih area penyimpanan pantri di dapur yang lokasinya sejuk.

Misalnya bahan makanan yang rentan disemutin, simpan di suhu 70ºF (21ºC) atau di bawah itu, jangan menyimpannya di tempat terbuka. Lebih baik lagi jika dikemas, dimasukkan kedalam boks baru. Hal ini biasa saya lakukan jika bahan makanan itu terbungkus plastik, misalnya gula, terigu dan sebagainya.

Setelah saya masukkan kedalam kotak, bahan makanan itu saya sertakan tanggal penggunaan sebagai pedoman saat penggunaan, terutama dalam hal ‘refresh’nya produk. Jika tanggal tidak tersedia, kita bisa mengamati pedoman penyimpanan makanan (sumber dari Cynthia Ewer) :

Selain itu, terdapat beberapa hal yang saya lakukan untuk menata pantri supaya lebih menyenangkan, sehat, dan esensial :

  1. Rotasi, yaitu setiap ada bahan yang baru masuk, maka saya letakkan di belakang (jika penataan berjajar depan-belakang), atau di bawah (jika ditumpuk) dan di kiri (jika terbiasa mengambil bahan dari sebelah kanan) serta memberi label jika diperlukan (biasanya yang jenisnya mirip-mirip, misalnya kotak tepung beras vs tepung tapioka).
  2. Menyiapkan bahan untuk beberapa menu yang mirip (misalnya menyiapkan stok bumbu baceman bawang putih untuk beberapa tumisan) namun jadwal menunya tidak saklek (karena terbiasa memasak fresh, ketika ada undangan makan atau diberi makanan matang, bahan di rumah saya tetap aman, tak mubazir).
  3. Masak sesuai porsi yang hendak makan di meja makan, bukan memasak banyak untuk dimakan kapan-kapan. Selain menghindari mubazir, makanan yang didiamkan dalam suhu ruang terlalu lama juga berpotensi terkontaminasi bakteri.
  4. Jika punya kulkas, biasakan untuk cek bahan sayur dan buah. Pastikan konsumsi kedua bahan itu setiap hari. Kondisi idealnya, kita memakan dari kebun sendiri, namun jika belum mandiri pangan pastikan membeli sayur dan buah di pedagang yang amanah, jujur (amannya buah-buah lokal karena selain menghindari carbon foot print juga kondisinya jauh lebih fresh dibanding impor).
  5. Melakukan deep cleaning sebulan sekali, biasanya saya lakukan bersamaan dengan kulkas. Deep cleaning ini mengeluarkan seluruh perabotan dari dalam pantri untuk dibersihkan, cek dan detoks perangkat yang ada di dalamnya.
  6. Mengurangi penggunaan listrik, jika tak mampu merawat dan menggunakannya. Saya masih ingat, dua tahun lalu saya keukeuh membeli beberapa alat elektronik dapur. Endingnya, saya harus menjualnya karena tidak mampu merawat bahkan menggunakannya sebab kesibukan dan tak tergolong barang hobi. Maka saya lepas dan saya menjadi lega. Selain itu, saya jadi belajar untuk mindful buying terhadap segala sesuatu yang saya (kayaknya) lihat memesona.
  7. Menjadi minimalist. Ini tips yang terkahir, sebagai penghujung dari perjalanan berbenah saya sebagai seorang istri, ibu dan muslimah. Sudah saya tulis dalam sebuah buku, insyaaAllah terbit dengan judul ‘Muslim Hidup Minimalist’. Artikel tentang kiprah hidup minimalis pernah ditayangkan oleh salah satu pers yang didalamnya menyebut nama saya. https://muslimahdaily.com/muslimah-zone/focus/item/4575-5-muslimah-penggiat-gaya-hidup-minimalis-yang-patut-jadi-inspirasi.html
    Perjalanan menuju minimalist tidak mudah, namun sekalinya mindset ini tertaut pada konsep minimalist, semuanya terasa jauh lebih mudah.

Tentu tips di atas tidak sepenuhnya efektif karena urusan dapur, kembali ke individu masing-masing, bagaimana pola kebiasaan, karakter dan pola asuhnya maka itu yang berpengaruh di kehidupan kita.

The last, quotes penutup yang saya suka dari penataan dapur adalah….

“If you can organise your kitchen, you can organise your life.”

Louis Parrish

Sumber :

  1. Cut The Clutter (Cyntia Ewer)
  2. Disain : Camva
  3. Murniati Mukhlisin (Praktisi Ekonomi Syari’ah)
  4. Pengalaman Pribadi
  5. Gemar Rapi

Tinggalkan Balasan