Daily Life

Page ini akan lebih banyak saya isi dengan sisi keseharian saya yang menyukai perbaikan diri, mulai dari self improvement, membentuk habit, belajar parenting hingga gimana cara mengatur keuangan (finance) serta kehidupan receh lainnya.

Tujuannya untuk mendokumentasikan diri, siapa tahu mampu menginspirasi 🙂

Saya mau sedikit cerita perjalanan hidup disini (untuk diri sendiri sih, hhe)

Sejak dulu saya suka membaca dan menulis 🙂

Hal itu terasa lezat tatkala saya sudah merasa mampu membaca di kelas satu -kalau nggak salah SD tahun 1997 waktu itu- saya mengidap ketagihan, ketagihan baca. Bahkan dikenal sebagai peminjam buku di perpustakaan paling “gila” 🙂 dan efek dari hobi baca itu, saya jadi suka menulis. Maklum hanya itulah hiburan satu-satunya di rumah (tidak mempunyai TV dan alat elektronik canggih sebagaimana zaman sekarang). Biasanya saya membaca buku pinjaman -dari perpustakaan sekolah- setelah pulang sekolah, sambil angon wedhus (menggembala kambing) 🙂 kadang saya juga memunguti buku bekas milik orang -yang dibuang/tidak digunakan- setelah beberes di rumah orang (disuruh berbenah, dapat upah). Itu berjalan dari SD-SMA.

Hobi saya memang receh-sepele, setelah membaca biasanya saya menulis buku harian atau sekadar menulis puisi/cerpen tipis-tipis. hampir setiap buku tulis saya bagian belakang selalu penuh coretan, selalu saya tulisi apapun itu- mulai dari judul cerita atau ide, atau POV.

Dari hobi sepele itulah saya lebih percaya diri menulis cerita dibandingkan memerankannya. Beberapa kali ditunjuk untuk membuat naskah drama tugas sekolah.

Ketika masuk usia SMP, hobi tulis-menulis saya kalah jauh dengan hobi membaca disebabkan fokusnya mengejar nilai bagus (nilai rapor- akademik) agar mampu lanjut ke SMA. Konon, jika nilai bagus namun nggak punya biaya ada keringanan khusus 🙂 dan itu terbukti saya bebas uang gedung dan SPP di SMA. FYI, ortu saya cerai sebelum masa golden age (balita) saya usai, saya diasuh oleh kakek nenek dari ibu. Hampir nggak pernah deket dan tahu seperti apa ibu dan bapak itu. Kenal ibu ketika saya udah remaja 🙂

Nah! puncaknya ketika sudah duduk di bangku SMA  🙂 di SMA-lah perubahan itu saya rasakan. Saya sempat menekuni dunia jurnalistik, menjadi pemred majalah sekolah. Dan sebab buku bacaan di SMA sangat luar biasa (bahkan ada serial kalkulus yang nangkring di rak perpus) membuat saya bermimpi untuk melanjutkan kuliah. Padahal dari segi biaya sangat mustahil, jangankan kuliah jauh, untuk menjangkau yang lokal saja seolah tidak mungkin. Waktu itu seolah haram hukumnya bagi saya untuk mengucapkan “aku mau kuliah”, bisa dipelototin banyak orang hahahaha- anak miskin kok sempet mimpiin kuliah? halu?. Label kuliah yang disematkan hanya untuk orang kaya itu membuatku harus memendam perasaan itu, sempat kuutarakan ke beberapa guru dan teman, responnya macam-macam.

Hingga lulus SMA di tahun 2009, saya bertekad juga dan diterima ke sebuah institut negeri yang diidamkan oleh seluruh siswa. Bahkan di angkatan saya, tidak ada yang diterima, saya sendiri saja yang lulus test 🙂 hmmm ada sih satu orang kakak kelas, itupun laki-laki, angkatan 2008.

Bermodal nekat dan rasa percaya, saya melangkahkan kaki ke surabaya modal uang 420rb (20 ribu untuk naik becak ke DPRD dan 400rb uang pesangon dari DPRD kabupaten) saya yakin saya mampu karena saya punya ini (otak di kepala) dan ada Allah yang pasti mendengarkan doa anak yang teraniaya hahahaha. Sejak itu saya bercita-cita untuk menuntaskan apapun yang saya bangun, waktu itu : lulus S1.

Setelah lulus, menikah dan wisuda di tahun 2014 saya pindah ke Bogor. Disinilah awal mula kesadaran saya akan dunia tulis menulis bangkit.

Efek dari keisengan saya yang bosan di rumah, setiap hari saya bermain ke kampus suami : IPB. disana saya meminjam kartu perpustakaan seorang adik kelas. Meminjam beberapa buku dan terkadang iseng menanyakan apakah ada kompetisi menulis untuk umum. Waktu itu teman saya yang masih mengenyam S2 nya mengatakan bahwa ada lomba menulis cerpen untuk umum (Haii Dew, Dewiii makasii yaa udah ngasitau lomba itu padaku 🙂 masih inget waktu itu aku cupu banget ngenalin medan IPB yang super mirip hutan -tempat ngadem ter-comfy wkwk).

Akhirnya saya coba menulis, menggunakan komputer perpustakaan IPB (pinjem on the spot), saya kirim saat itu juga. Iseng aja sih, bahkan saya lupa kalau ikutan kompetisi itu- hingga pada suatu siang saya menerima email yang menyatakan saya menang lomba – dari ribuan yang memasukkan naskah cerpen. Ya ampun, saya terharu :’) dari sanalah saya merasakan kembali jerih payah menulis (terakhir saya rasakan waktu SMA dan kuliah semester 1-2). walaupun tidak banyak (kalau nggak salah honornya ditotal ada kali 2jutaan- uang, tiket couple ke jungle land, dan buku-buku bergizi) cukup membuat saya melek- bahwa memang inilah yang saya sukai : menulis. Toh waktu jualan pun lebih banyak closing di media sosial (online) dibandingkan ketika offline.

Sayangnya, kebangkitan semangat menulis itu saya fokuskan pada kompetisi, lomba yang berbau sastra : khususnya puisi dan cerpen. Waktu itu saya semakin rajin menulis hanya untuk berkompetisi. Anehnya semakin saya semangat dan mengirimkan formulir lomba serta naskah, nggak ada satupun tulisan yang menang 🙁 argh, saya jadi down gitu, hingga akhirnya memilih untuk ngeblog aja di tahun 2015. -_- sudah lama banget nggak menghidupkan blog. saya membuat blog dari SMA, kemudian lupa password dan email, bikin lagi di tahun 2010 jaman kuliah semester dua. Platformnya blogspot, namun tahun 2011 saya hapus. Ganti dengan wordpress.

Hobi baca saya tidak pernah surut walaupun saya seorang IRT (ibu rumah tangga/ WAHM/ FTM dan apapun itu istilahnya), dari sekian genre yang saya baca, ternyata saya lebih suka dengan buku non-fiksi. Hampir 70% koleksi buku non-fiksi menjadi favorit dan nangkring di rak buku saya. Mulai dari self improvement hingga buku-buku parenting dan selling. Namun di sisi lain saya juga tetap membaca fiksi, sebab fiksi inilah memanjakan imajinasi 🙂

Seiring lahirnya anak pertama saya (Juli 2015), pekerjaan di rumah semakin bertambah. Sambil menjaga anak, beberes rumah, saya mencoba jualan. Menekuni jualan online. Berawal dari produk MLM, skincare hingga palugada (jualan apapun pokoknya menghasilkan), buku anak, pakaian, jilbab, apapun deh saya lakoni. Ternyata saya sadari, semakin banyak yang saya jual, ada profitnya namun kok hampa gitu, saya juga kesulitan membagi fokus, hingga pada tahun 2017 itulah awal cerita dimulai. Kembali ke masa kecil : menekuni dunia berbenah.

Pada akhir bulan Agustus 2018, bersama 4 pendiri sebelumnya menggagas ide berbenah yang Indonesia. Maka muncullah nama : gemar rapi 🙂 Gemar Rapi resmi berdiri tanggal 5 September 2018 oleh 5 orang pendiri. Sejak itu, selain saya bersama pendiri membuat konsep untuk gemar rapi ke depan. Konsep itu juga dipaparkan mulai seminar dan workshop yang biasa dilakukan, uji coba metode hingga Februari 2019 dibukalah angkatan pertama untuk kelas berbenah Gemar Rapi ini 🙂

Awal tahun 2019 saya mengikuti kelas nulis yuk bertemakan menulis novel #beingnovelist. Dari sana, saya mengenal penulis produktif, Bunda Ary Nilandari. Pada waktu itu pula saya mendapatkan novel beliau yang kebetulan satu penerbit dengan buku pertama saya : Bentang Pustaka. Bedanya, saya ada di divisi B-First, Bunda Ary ‘novel Pelik’ di Belia Bentang. Sungguh rasanya seolah semesta mendukung. Saya semakin gila membaca dan memompa kemampuan menulis. Mulai ikutan project antologi (cerpen, kecil-kecilan untuk mengasah kemampuan menulis fiksi) dan membuat tulisan yang lebih panjang (sesuai kelas yang saya ikuti) : novel.

Selain itu, buku gemar rapi method juga akan launching. Kalau gemar rapi menulisnya barengan dengan 4 pendiri lainnya (dikumpulin jadi satu). Jadi lebih ringan insyaaAllah.

Dan sekarang, personal branding saya selain menjadi bagian dari pendiri Gemar Rapi juga sebagai konsultan berbenah Metode Gemar Rapi 🙂

Butuh bantuan? bisa komen disini atau layangkan surel ke gemarrapi@gmail.com 🙂