BLOGGER PEREMPUAN DAILY

Day 16 : What makes you feel furious

Duh, bahasanya ‘furious’ alias angry level dewa, geram gak ketulungan. Kira-kira apa ya? Kayaknya bakal menggali emosi jiwa dari dasar nih di post blog kali ini.

Hal yang membuat saya geram berkaitan erat dengan inner child, yaitu ‘diabaikan’.

Entahlah, ketika saya diabaikan, rasanya super geram dan kesal enggak ketulungan. Mungkin sepele, namun hal ini impactnya terasa banget. Di saat saya diabaikan, maka di saat itu pula saya akan ‘memberi tanda’ kepada hal atau siapapun itu bahwa pengabaian itu menyakitkan.

Rasa diabaikan itu benar-benar berada di dasar alam bawah sadar yang sulit baik ke atas (alam sadar) karena seolah menyatu kedalam jiwa. Ketika trigger ‘rasa abai’ muncul -diperlakukan demikian oleh orang lain- yang ada, saya akan ‘menghilang’ dan meredam emosi diri. Bisa saja akan saya tuangkan saat itu juga, tapi biasanya orang yang diajak bicara atau yang dihadapi tak akan paham.

Efek perasaan itu, berimbas kemana-mana. Contoh, setiap menonton tayangan tentang aksi unjuk rasa, demo yang ujungnya tidak direspons, maka saya ikutan lelah jiwa. Itulah kenapa, saya mulai mengurangi tontonan terkait dengan ‘pengabaian’ itu. Kalaupun ingin menonton atau tak sengaja lihat, biasanya saya filter dan tak terlalu dalam. Karena akibatnya itu lho, jadi kesal sendiri, emosi sendiri, menjadi beban jiwa.

Pun ketika saya mengajak bicara atau sedang diajak bicara dengan siapapun. Di saat saya menjawab kemudian tak ada tanggapan atau dicuekin, diabaikan, maka di saat itu juga biasanya saya langsung diam dan ‘pergi’ begitu saja. Karena saya takut trigger itu memporak-porandakan emosi.

Itulah kenapa, kini, saya sangat membatasi diri untuk dekat dan melekat dengan siapapun dan apapun. Karena inner child itu yang berkaitan dengan ‘pengabaian’ sangat menyakitkan.

Kenapa diabaikan kok sakit dan geram, Nik?

Karena sejak kecil memang biasa diabaikan, tak diberi nafkah oleh Bapak. Ditinggal begitu saja oleh orangtua yang seharusnya bertanggungjawab. Bahkan ketika sudah dewasa, saya tak dianggap sama sekali. Pun hubungan batin dengan Ibu, kurang erat karena di masa kecil minim bonding. Bahkan ada fase dimana saat saya sedang sakit, malah ditinggal pergi oleh ibu yang saya tarik tangannya untuk dielus disayang, tapi yang ada malah sebaliknya. Ditinggal pergi dan saat itu saya merasa sendiri, sepi. Sejak itulah, saya jadi anak super insecure, pendiam, penakut dan hal-hal yang menyakitkan terasa di masa balita. Sampai saat ini masih berusaha saya tekan dan damaikan.

Diabaikan itu enggak enak banget. Dan saya selalu geram dengan sikap itu. Sehingga respons saya pun juga demikian, kadang, kalau geram, saya juga akan mengabaikannya sejenak. Karena mengganggu pikiran dan kehidupan.

Kesimpulannya, saya geram dengan sikap seseorang yang mengabaikan saya, namun saya terkadang juga mengabaikan hal-hal yang tidak penting di kehidupan ini, seperti mengabaikan seseorang yang mengabaikan diri saya. Njelimet ya, begitulah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *