DAILY

Day 20 : what would you do for free for 5 years?

what would you do for free for 5 years?

Kayaknya, jika pertanyaan ini diajukan di tahun 2017, saya bisa menjawabnya. Waktu itu, saya mengadakan sharing gratis membagikan ilmu berbenah dari berbagai referensi untuk semua orang. Faktanya diberi gratis pun ternyata diremehkan. Akhirnya per 2018, membuka kelas berbayar sampai sekarang bernama gemar rapi. Tapi masih saja, terkadang untuk tujuan charity kami menerima pelayanan kulwap gratis. Sejujurnya, gratis itu membuat orang tidak sungguh-sungguh dan tak totalitas. Ada yang bersungguh-sungguh tapi saya, kini, mulai ‘menghitung’ energi yang saya keluarkan.

Sebagai orang yang punya sifat dasar introvert, saya mulai belajar ‘membaca diri’ sendiri, setiap saya meluangkan untuk bertatap (walau dunia maya) bersama orang dengan serius, maka saya akui, energi saya terkuras dan terkadang habis. Beberapa kali, saya uncontrolled tentang energi diri, hasilnya saya tepar dan overwhelmed sendiri.

Jikapun disuruh untuk melakukan kegiatan cuma-cuma, mungkin sifatnya hanya bersosial murni, bukan sebagai profesional. Dan itu secukupnya saja dan akan saya atur jauh hari, karena tak akan bisa saya kerjakan jika dipaksa mendadak. Misalnya, mengisi kulwap untuk ibu-ibu pengajian, berbagi dan bedah buku di suatu komunitas dsb.

Untuk hal-hal yang sifatnya sebagai relawan, gratisan, saya lakukan intens mungkin hanya di Gemar Rapi. Seperti membina tim, membuat buku, karena sudah dari tahun lalu khusus beberapa hal di luar job desk sudah saya kerjakan tanpa imbalan sepeser pun. Bahkan saat mengadakan HUT pertama, kami sempat membuat kulwap, sebagai pengisi kulwap juga tak mengambil satu sen pun dari pemasukan itu. Pun saat menjadi editor naskah buku, mengisi konten dan lain sebagainya. Intinya, yang gratisan pun akan saya pilah kembali, dan akan saya luangkan energi yang grtais ini ya kemungkinan di Gemar Rapi- entah sampai kapan. Namun, belajar dari kejadian selama 2 tahun ini, saya tak akan terlalu ngoyo ke depan hanya untuk ‘memikirkan’ Gemar Rapi karena saya merasa lelah sendiri dan kecewa sendiri. Maka dari itu, saya berusaha slow down, biasa saja dan sesuai porsi saja. Saya mulai belajar fokus untuk ‘menyenangkan diri sendiri’ dan fokus kepada ‘merawat diri’ memupuk self care agar tak tercederai.

Menurut saya, bahagia itu wajib, apalagi bagi perempuan yang setiap hari harus berjibaku dengan berbagai peran di dalam rumah. Maka, jangan sampai hal yang awalnya diharapkan membuat diri lebih baik, malah jadi beban jiwa, kan enggak enak? Maka, yaudah, kerjakan apapun sesuai dengan prioritas aja. Dan untuk tahun ini, prioritas saya adalah menyelesaikan pembangunan rumah (biaya sendiri, mandiri) bersama pasangan. Dan itu, perlu uang!

Semangat!

Tinggalkan Balasan