BLOGGER PEREMPUAN DAILY

Day 28 : What would you sacrifice in exchange for fulfilment

Hari ini tepat libur panjang, sehingga suami di rumah dan mulai fokus memperbaiki tanaman di kebun belakang. Saya sendiri masih merapikan folder dan beberapa hal untuk pekerjaan yang belum selesai. Sebenarnya ngedraft ini post blog dari pagi, tapi ada beberapa agenda hingga malam. Tadi pagi sampai siang, suami ada kelas, mengisi seminar online gemar rapi. Saya sendiri merasa gak fokus kalau dalam satu rumah atau ruangan, yang satu sedang speaking aloud (jadi pembicara) sedang saya perlu waktu dan ruang yang hening, jadi nggak nyambung.

Siang tadi dapat telepon dari Bentang, kemudian lanjut tidur siang, bangun asar. Jemput anak, makan setelah mandi. Suami masih ada zoominar global ecobrick, saya dengerin speak in english seperti itu berasa de javu. Entahlah.

Maghrib hujan, menjelang isya persiapan kelas Zoom sehat jiwanya gemari madya. Beres pukul 21.30 lanjut converting sambil ngetik post blog ini, saya tunggu sekalian mau upload ke youtube.

Demikian sekelumit aktifitas hari ini, kembali ke poin pertanyaan.

Pertanyaan hari ini : What would you sacrifice in exchange for fulfilment?

Tentu yang pasti adalah WAKTU.

Ya, waktu yang bisa digunakan untuk leyeh-leyeh, untuk me time, bisa berkurang dan terkuras jika saya ingin mencapai suatu pemenuhan, semua perlu pengorbanan bukan?

Dulu, ketika saya masih kuliah, masih belum menikah, seluruh waktu terkuras untuk memenuhi kebutuhan hidup sendiri karena selepas SMA memang 100% bertekad tak meminta uang ke orangtua. Justru berusaha menyisihkan uang untuk bisa diberikan ke ortu.

Semua pengorbanan waktu itu terasa singkat, hingga akhirnya saya lulus memperoleh ijazah walaupun ijazahnya belum pernah saya pergunakan untuk melamar pekerjaan. Namun semoga suatu hari nanti bisa kembali hadir dan duduk di lingkungan akademisi lagi. Amiin.

Jika flash back lagi, beberapa belas tahun lalu. Saya juga mengorbankan ‘waktu happy-happy’ alias tidak memberi spare time agar hidup saya berjalan normal. Tak ada masa senang-senang dengan teman, kelompok remaja atau pacaran karena memang murni saya gunakan untuk belajar dan belajar. Itulah kenapa, kini, saya merasa kembali seperti pemuda. Karena beban akademik sudah lepas dan jiwa terasa bebas.

Kedua, yaitu tenaga.

Energi ekstra memang menentukan segalanya. Mau enggak mau, tenaga menjadi bagian yang dikorbankan untuk sesuatu hal yang ingin dicapai. Setiap hari, energi ini terisi dari dalam dan kembali ke dalam. Ciri orang introvert kan gitu.

Oke, itu aja dulu ya, ini sisa tenaga ngetiknya. Semoga esok lebih baik. Happy long weekend. Cheers!