INSTITUT IBU PROFESIONAL KONFERENSI IBU PEMBAHARU

Day 3 – Webinar dan Workshop yang Menggerakkan Masalah Menjadi Solusi Jangka Panjang

Hari ini, tanggal 19 Desember 2021, agenda KIP cukup padat. Setidaknya ada 3 sesi narasumber yang terjadwal. Tiga agenda untuk umum dan satu agenda terbatas. Saya berencana hanya mengikuti live 2 judul saja hari ini, yaitu Workshop sustainable living Bu Deasi dan webinar terbatas malam hari Mbak Heni (peraih 30 under 30 Forbes di bidang sosial).

Saya tidak bisa mengikuti sesi pagi karena ada jadwal yoga di klinik bu Bidan. Sepulang dari yoga, bada dzuhur, barulah saya cek ponsel dan mengunjungi website KIP. Sudah ada beberapa acara hari ini yang saya lewati. Termasuk dua hari kemarin yang memang tidak sepenuhnya saya simak semua.

Saat memasuki laman, saya baru menyadari ada rangkuman dan file materi yang bisa saya akses secara mandiri (VIP) sehingga tidak perlu berputar-putar bingung mencari.

Talkshow Umum – Bu Nani

Sambil mengunduh materi, saya mencoba memutar ulang siaran pagi. Terutama untuk agenda dengan narasumber, Bu Nani Zulminarni, saya tidak menyimak penuh. Inti materinya seputar memberdayakan para ibu sebagai perempuan kepala keluarga di bidang ekonomi melalui organisasi yang dirintisnya, PEKKA Ashoka. Beliau merupakan leader PEKKA Ashoka Sea Regional Leader.

Webinar Umum – Bu Deasi

Saya baru sepenuhnya mindful menyimak pada sesi Bu Deasi, siang harinya. Pukul 14.00 WIB – 15.30 WIB. Beliau membawakan materi dengan judul ‘Ibu, Wanita, Istri, dan Lingkungan’.

Beberapa insight yang saya tangkap dari pemaparan Bu Deasi adalah :

  1. Tugas utama dan menjadi pusat kebahagiaan seorang istri, ibu, berasal dari dalam rumah. Maka, fokus sehari-hari ya di dalam hunian dan mendidik anak.
  2. Untuk hidup yang berkelanjutan, atau selaras alam, tidak akan mampu dicapai jika belum menyatu pada jiwa dan memiliki kesadaran ekstra terhadap apa yang diupayakan itu. Fokus ke diri, libatkan keluarga (terutama anak dan pasangan).
  3. Memulai segala sesuatu dengan melihat masalah di sekitar (bahkan dari dalam diri), barulah kita akan bisa berdaya dan memberikan solusi.
  4. Melibatkan keluarga, terutama anak dalam hidup yang berkelanjutan membutuhkan ekosistem yang tepat. Sebagai orangtua perlu melihat ‘channel-channel’ apa yang melekat pada anak dan memberikan kontribusi pada kehidupannya. Maka, menjadi channel utama untuk perkembangan putra-putri di rumah perlu fokus dan kerjasama penuh. Termasuk menetapkan untuk homeschool serta tidak menyediakan televisi.
  5. Hal yang menjadi kesulitan sekaligus tantangan bukanlah bagaimana hidup berkelanjutan itu, melainkan cara menetapkan prioritas serta membagi diri (terutama sharing) keluar rumah. Maka, dalam hal ini, tetap mengutamakan kewajiban sebagai ibu, istri didalam rumah merupakan hal yang tepat. Jikapun berbagi, lebih sering dilakukan didalam hunian, membagikan apa yang sudah dikerjakan.

Dari kisah, pemaparan Bu Deasi sebenarnya begitu banyak kemiripan prinsip yang saya jalani di keluarga juga. Walau masih jauh dari kata ideal, setidaknya apa yang beliau sampaikan menjadi penguatan diri saya dalam menjalani hari-hari. Alhamdulillah.

Webinar Terbatas – Mbak Heni

Malam hari, barusan, saya menyimak webinar terbatas di room VIP. Namun tidak sampai selesai. Dengan Narasumber, Mbak Heni. Beliau menyampaikan materi dengan judul ‘Ibu bagi Ribuan Mimpi’. Mbak Heni merupakan founder dari gerakan anak petani cerdas yang masuk kedalam jajaran 30 under 30 Forbes.

Hal menakjubkan dari pemaparan beliau adalah bergerak melalui empati. Membuat dampak nyata untuk membantu anak-anak kurang mampu dari anak para petani sekaligus orang tua dari anak-anak tersebut. Setidaknya sudah ada sembilan ribu lebih penerima manfaat dari program yang beliau inisiasi.

Saya menangkap binar semangat mbak Heni sebagai refleksi masa kecilnya yang hidup penuh keterbatasan. Seperti berkaca dan mengingat masa kecil diri sendiri juga rasanya. Bedanya, passion dan ketertarikan saya dengan beliau (yang dari kecil ingin menjadi guru, pendidik) tidak sama dengan impian masa kecil saya. Ya, para guru juga pernah mengingatkan bahwa diri kita akan terbentuk dan terpola dari memori di masa kanak-kanak. Segala cita-cita, harapan, impian terealisasi dari apa yang ada di benak masa itu.

Demikian agenda di hari ketiga ini. Kesimpulan yang saya dapat dari ketiga narasumber hari ini adalah menjadikan diri sebagai solusi dari masalah yang ada di sekitar akan membuat diri lebih berdaya dan kontributif.

Tinggalkan Balasan