INSTITUT IBU PROFESIONAL KONFERENSI IBU PEMBAHARU

Day 4 – Konferensi Ibu Pembaharu : Perjuangan Single Moms Indonesia

Jadwal hari ke-empat, ada dua kali talkshow dan dua live show. Dan saya hanya fokus mengikuti live sesi terbatas, satu talkshow, materi single mom saja di hari ini. Untuk yang lainnya saya simak pasca acaranya. Berikut ini jadwal yang tercantum.

Single Mom Indonesia

Saya tertarik untuk menyimak tema ini karena ibu saya juga menjadi single mom sejak saya batita hingga saya menikah. Pasca saya menikah, ibu baru mampu merelase traumatisnya dan mau menikah lagi. Padahal, sejak dulu, hampir setiap tahun selalu ada laki-laki yang mau melamar dan mendekatinya. Namun, lagi-lagi, kondisi tersebut memang tidak mudah.

Melalui narasumber keren, KIP menghadirkan tema yang komprehensif. Mbak Maureen namanya, beliau mengalami perceraian di tahun 2010, namun hebatnya, bisa mendidik anak bersama pasangan walaupun sudah tidak se-atap dengan suaminya lagi.

Mbak Maureen mengatakan bahwa mencari komunitas atau support system untuk single mom tidaklah mudah kala itu. Jika pun ada komunitasnya, biasanya campur antara single mom dan single dad, sehingga kurang adanya ‘kebebasan’ untuk saling menguatkan sebagai sesama wanita. Akhirnya sebagai healing theraphynya, beliau lebih banyak ‘curhat’ menulis di blog dan ternyata banyak yang mendukung. Setelah empat tahun merasa healse, relased traumatis serta luka, tahun 2014 Mbak Maureen mendirikan Komunitas Single Moms Indonesia.

Tips dari mbak Maureen untuk bangkit pasca menjadi ibu tunggal, cukup panjang. Namun intinya, seorang wanita perlu mengubah mindsetnya dulu, dan bersikap proaktif mencari bantuan. Entah itu mencari komunitas, pertolongan ahli, terutama untuk diri (jiwa)nya sendiri. Dan paling penting menentukan prioritas, membuat visi, let go dari masa lalu, menciptakan kondisi yang nyaman untuk diri serta terus mau belajar.

Hal-hal yang saya highlight dari pemaparan beliau adalah :

  1. Tidak semua wanita aware dengan kondisi psikisnya, sebab terlalu banyak beban yang diemban. Untuk wanita yang bersama pasangan pun merasa kewalahan kadang, apalagi sebagai ibu tunggal, merangkap peran dan tanggungan. Maka, berkomunitas sangat penting untuk saling menguatkan.
  2. Terkadang banyak stigma dan memandang sebelah mata terhadap status ibu tunggal, maka ciptakan boundaeris, batasan untuk tidak terjerembab pada perasaan yang negatif dari omongan orang tersebut. Sebaliknya, perlu fokus pada diri sendiri dan keluarga yang paling utama.
  3. Masih banyak PR, terutama pada ibu-ibu yang pendidikannya tidak tinggi, kurang akses, bahkan ada yang banting tulang sehari-hari, tidak ada perlindungan di desa maupun kota yang secara ekonomi kurang beruntung. Maka, diperlukan kader dan kepedulian setiap diri kita terhadap lingkungan sekitar. Jangan menutup mata pada kondisi mereka.
  4. Komunikasi menjadi kunci, walau tidak serumah, alangkah baiknya menjalin hubungan baik dengan mantan pasangan untuk mendidik anak bersama-sama. Perlu menurunkan ego dari masing-masing untuk mencapai keharmonisan keluarga.
  5. Jangan pernah menimbulkan rasa benci pada diri anak terhadap mantan pasangan, sebab tidak ada mantan orangtua atau mantan anak.

Dari insight tersebut, saya jadi berkaca kembali ke masa kecil. Betapa perjuangan ibu untuk mengatasi perasaannya (feels her feelings) tidaklah mudah dan tidak ada yang mendukung penuh psikisnya, sementara kondisi saya kala itu masih kecil. Kini, saya menjadi lebih berempati pada keadaan ibu. Dimana saya belum tentu mampu jika mendapat ujian seperti itu.

Sebagai anak dari orangtua yang tidak utuh, saya merasakan benar betapa lingkungan sangat membentuk pola pikir dan sikap seseorang. Termasuk bagaimana saya memandang ibu saya yang puluhan tahun menjadi single moms, walau ibu saya super cantik, banyak yang tertarik, namun menyembuhkan luka dan traumanya ternyata tak semudah itu. Saya bersyukur berada pada kondisi langsung bagaimana survivenya sosok ibu untuk teguh menghadapi kehidupan sendiri, menghadapi stigma di masyarakat hingga ‘direndahkan’ dari sisi sosial-ekonomi. Namun akan lebih baik jika stigma itu dihapus bersama melalui komunitas.

Bagi teman-teman yang ingin mengenal lebih dalam komunitas Single Moms Indonesia, bisa menghubungi tautan ini :

  1. Facebook https://web.facebook.com/SingleMomsIndonesia/?_rdc=1&_rdr
  2. Instagram https://www.instagram.com/singlemomsindonesia/
  3. Instagram Pribadi Mbak Maureen https://www.instagram.com/maureen.hitipeuw/

Tinggalkan Balasan