INSTITUT IBU PROFESIONAL KONFERENSI IBU PEMBAHARU

Day 4 – Konferensi Ibu Pembaharu : Permaculture Living, Solusi Berkelanjutan di Segala Aspek Kehidupan

Hari ini, saya mulai menyimak ulang pemaparan Teh Nana, sapaan dari Listriana Suherman terkait hidup yang berkelanjutan dengan konsep permakultur. Awalnya saya mengira akan membahas bercocok tanam, bagaimana konsep menanam tumpang sari serta memanfaatkan lahan sempit semata. Faktanya, bukan sekadar menanam dan memanen. Lebih dari itu, konsep permakultur ternyata sampai ke sumsum tulang belakang semua aspek kehidupan. Salah satunya mengawinkan permakultur dengan edukasi (pendidikan), kesehatan hingga penataan pikiran. Wow!

Berikut ini flyer yang saya unduh dari lama instagram Ibu Profesional. Acaranya berlangsung di tanggal 20 Desember 2021, dari sore bada asar hingga pukul 18.00 WIB menjelang maghrib.

Kiprah dan perannya sebagai permakulturis lebih dari enam tahun, membawa Teh Nana untuk terus berbagi serta membuat berbagai projects seperti :

@duniaanakalam
@bandungpermaculture
@sumbawapermaculture
@waste2hero
@kampungsorghum

Dan beberapa projects lain yang pada intinya menggunakan konsep permakultur dalam mengembangkannya.

Apa itu Permakultur?

Teh Nana menjelaskan bahwa permakultur merupakan penyelesaian problem atau masalah dengan pendekatan ekologi. Dalam hal ini permakultur memiliki cakupan yang luas, bukan saja terkait lingkungan (tanaman) saja, melainkan bagaimana manusia hidup, seperti menguatkan ketahanan pangan, pengelolaan sampah hingga pendidikan.

Sederhananya, dengan mengintegrasikan semua aspek masalah yang ada di lingkungan, bukan hanya mendapatkan penyelesaian tunggal melainkan akan memiliki banyak solusi yang saling berkaitan. Misalnya, ketika ingin memiliki generasi unggul, melalui anak, perlu ditunjang dengan kecukupan nutrisi yang baik. Tentu dalam hal ini, perlu makan sayur. Untuk pemenuhan gizi tersebut, biasanya membutuhkan pengeluaran yang besar, namun dengan menanam, menggunakan konsep permakultur, tidak hanya menghemat dan mendapat manfaat kesehatan. Melainkan bisa diturunkan juga untuk melibatkan anak dalam proses menanam (ada nilai edukasi) sehingga anak pun ikut menikmati prosesnya.

Permakultur dan Ketahanan Pangan

Topik utama yang disampaikan Teh Nana adalah berkaitan dengan ketahanan pangan. Kata kuncinya adalah ‘tidak terputus’. Artinya tidak sekadar menanam, melainkan memerlukan strategi. Misalnya ketika rumah diintegrasikan dengan dapur (makanan – tanaman), perlu dipikirkan apa yang akan ditumbuhkan. Seperti menanam pohon buah serta sayuran, perlu mengetahui buah dan sayuran apa yang mampu mengcover semua nutrisi.

Teh Nana memberikan saran untuk menanam, setidaknya pohon jambu merah. Selain tidak bergantung pada musim (tidak memiliki musim), nutrisi dari jambu merah juga sangat kaya untuk dikonsumsi tubuh kita. Perlu juga menanam pohon pepaya karena law maintenance.

Siklus Tanaman

Berdasar siklusnya, tanaman terbagi kedalam 3 jenis :

  1. Tanaman Annual.
    Tanaman annual atau tanaman semusim menuntaskan siklus hidup dari biji, berkembang, berbunga, berbuah atau berbiji lagi, hingga mati dalam satu musim saja. Kelemahannya, cukup high effort untuk penanganannya. Contohnya : oyong, terong, kubis, zinnia.
  2. Tanaman perennial.
    Tanaman perennial disebut juga ‘tanaman menahun’ atau tanaman tahunan. Tanaman perennial biasanya terus berbunga setiap tahun dan dapat bertahan hidup selama bertahun-tahun. Contohnya : bayam brazil, turi, kelor, manggis.
  3. Tanaman binneal, atau tanaman dwimusim membutuhkan waktu dua musim untuk menyelesaikan siklus hidupnya. Musim pertama, saat tanaman biennial menumbuhkan akar, batang, dan dedaunan, serta menyimpan makanan, selanjutnya di musim kedua saat tanaman biennial berbunga, memproduksi biji, dan mati.

Aplikasi di Rumah

Saat menyimak materi dari Teh Nana, saya menggut-manggut. Secara praktikal, sudah diterapkan di rumah. Namun bukan saya sebagai center atau eksekutornya, melainkan suami. Saya menyadari, dari dulu tidak terlalu tertarik dengan pelajaran biologi. Sementara suami, alumni IPB yang memang punya passion di bidang lingkungan dan menggemari pelajaran biologi dan lingkungan.

Selama ini, saya lebih senang belajar secara mandiri, tidak meminta penjelasan suami yang menggeluti dunia lingkungan kurang lebih 4-5 tahun terakhir ini. Tekait bercocok tanam pun, ia memiliki bakat dari ayahnya yang pernah memiliki usaha di bidang tanaman serta peternakan. Seperti menjalani hobi, ‘me time’, alih-alih melelahkan, malah baginya menyenangkan. Kebalikan banget dengan saya, hehe.

Di rumah kami, sejak awal mendisain pondasi, membuat perancangan konsep blue print pembangunan juga melibatkan topik rumah ramah alam. Setidaknya belajar dulu, kemudian di tahun 2020 direalisasikan. Kami menempati hunian sendiri di bulan kedua 2021 ini, masih baru. Mendesain sirkular, dari penataan drainase, tidak membuat got -semua diresapkan ke sumur resapan- hingga berpikir menanam di lahan terbatas dengan memanfaatkan atap rumah (depan dan belakang), balkon untuk bercocok tanam.

Dengan adanya pemaparan dari Teh Nana terkait konsep permakultur itu, membuat diri saya semakin tersadar dan menjadi kokoh untuk terus belajar dan mempraktikkannya. Terutama khusus dapur, ingin sekali menerapkan berbagai resep masakan yang disajikan di materi (colorful foods – merah, kuning/oranye, hijau, biru/ungu/hitam, dan putih). Rasanya lezat, menarik, menyenangkan dan menyehatkan.

Selain itu, tanaman yang dimention oleh Teh Nana, Alhamdulillah ada semua di rumah. Seperti bunga telang, kelor, jambu, bayam brazil, turi, chaya, ginseng, pepaya, rosela, dst.

Insight

  1. Mulai dengan kekompakan visi bersama pasangan. Jika tidak satu visi tentu akan sulit, namun jika belum, bisa dimulai dari diri sendiri.
  2. Memulai dari yang paling sederhana, sesederhana menghemat air, listrik dan mempertimbangkan jejak karbon.
  3. Memulai dari kegelisahan yang paling dirasakan. Teh Nana cukup concern dengan dunia pendidikan, maka permakultur pun dikawinkan dengan sekolah yang dirintisnya.
  4. Fokus ke generasi setelah diri kita, tinggalkan legacy terbaik untuk mewariskan eco warrior di bumi pasca kita tiada nanti. Jika bukan dari diri kita, ke anak-anak, siapa lagi yang peduli bumi?
  5. Dari Sumbawa Permaculture terbukti bahwa pendidikan untuk anak-anak ekonomi lemah pun bisa setara dan sama berkualitasnya dengan sekolah internasional atau montessorian. Semua bergantung dari stakeholder dan para pengampu yang memiliki visi serta kepedulian tinggi terhadapnya.

Demikian cerita singkat pasca menyimak materi Teh Nana. MasyaaAllah, berkah ya Teh. Super inspiring!

Tinggalkan Balasan