INSTITUT IBU PROFESIONAL KONFERENSI IBU PEMBAHARU

Day 5 – Konferensi Ibu Pembaharu 21 Desember 2021 : Keluarga adalah Pendidik Utama dan Pertama

Jadwal hari ini, target saya menyimak dua sesi live, webinar dan workshop. Selebihnya akan saya simak setelahnya karena sore hingga malam biasanya sudah sulit fokus untuk duduk menyimak. Berikut ini jadwal lengkapnya :

Sesi pertama, pukul sepuluh pagi diisi oleh narasumber dari Keluarga Kita, Mbak Yulia. Saya menyimak live, langsung tanpa skip karena topiknya cukup penting. Berkaitan dengan keluarga.

Mbak Yulia merupakan direktur Rangkul Keluarga Kita sejak tahun 2013. Bagi yang belum tahu, keluarga kita merupakan sebuah platform yang bermula dari keresahan orang tua terhadap pola asuh. Awalnya menggunakan nama ’24hourparenting’, kemudian di tahun 2015 berubah menjadi ‘Keluarga Kita’. https://keluargakita.com/

Pengasuhan adalah Urusan Bersama

Hal menarik yang dikupas oleh Mbak Yulia di awal adalah seputar tanggung jawab. Dimana, umumnya, seseorang akan fokus pada diri serta keluarga masing-masing sehingga menganggap pola asuh atau pengasuhan merupakan tanggung jawab individu.

Sementara, realita menunjukkan apa yang ada di sekitar anak, pasti mempengaruhi tumbuh kembangnya. Sehingga pengasuhan pun sebenarnya menjadi tanggung jawab bersama, sosial. Hal itu lah yang ditekankan Mbak Yulia, “Karena kita tidak mungkin terus menerus membuat anak berada di rumah saja, tidak keluar-keluar. Maka, pola asuh diri kita juga akan mempengaruhi anak orang lain, pun anak orang lain demikian mempengaruhi anak kita. Sehingga ini menjadi tanggung jawab komunal, bukan urusan personal.”

Prinsip CINTA

Konsep yang disusun di Rangkul, Keluarga Kita adalah konsep dengan akronim CINTA.

sumber dari website Keluarga Kita

Konsep CINTA ini lah yang menjadi titik tekan pembahasan dari Mbak Yulia.

  1. Cari cara sepanjang masa.
  2. Ingat impian tinggi.
  3. Nerima tanpa drama.
  4. Tidak takut salah.
  5. Asyik main bersama.

Selanjutnya ada beberapa insight yang saya tangkap setelah pemaparan materi, yaitu.

  1. Perlunya memahami diri serta menerima anak dari berbagai aspek, tidak hanya satu sisi (misalnya nilai rapor saja). Karena anak memiliki kelebihan di bidang yang lain juga. Sehingga perlu kelola ekspektasi diri, jangan terlalu tinggi, terpenting sudah sesuai dengan tumbuh kembangnya.
  2. Penting adanya ‘ngedate’ dengan anak, secara personal. Supaya terasa one on one intim bondingnya (terutama yang lebih dari satu anaknya).
  3. Pentingnya menciptakan bounderies untuk keluarga serta ajarkan pada anak.
  4. Sering lakukan refleksi, melihat kedalam diri untuk memahami dan mengatasi setiap tantangan dalam pengasuhan.

Dari insight tersebut, beberapa sudah saya aplikasikan sejak anak pertama mampu diajak berkomunikasi dua arah – dan semakin intim, pasca fase balitanya usai. Alhamdulillah, it’s works!

Saat ini, anak saya sudah berusia 6,5 tahun, saat menyaksikan pemaparan mbak Yulia tadi seakan direminder lagi untuk merutinkan dan menjadwalkan penting agenda tersebut sebagaimana pentingnya diri saya menjadwalkan agenda lainnya.

Demikian cerita hari ini. Sebenarnya ingin menulis lebih banyak lagi, tapi ada CoC yang perlu diperhatikan (terutama terkait isi materi di sesi webinar terbatas ini).

Tinggalkan Balasan