INSTITUT IBU PROFESIONAL KONFERENSI IBU PEMBAHARU

Day 6 Konferensi Ibu Pembaharu – Growth Mindset : How to Survive in the Digital Age – Anna Soemarno

Hari terakhir konferensi Ibu Pembaharu merupakan waktu yang dinanti, terutama ketika melihat judul serta pembicara di siang ini. Saya menyaksikan langsung (live) dan sengaja tidak menunda-nundanya sebab hari ini tinggal 2 sesi narasumber saja, tentunya yang paling dinanti adalah acara puncaknya bersama Ibu Septi.

Lantas, siapa pemateri dan hal apa yang dibawakan narasumber siang harinya ini?

Beliau bernama ‘Anna Maria Maureta’, atau disapa dengan Bu Anna Soemarno. Seorang wanita Indonesia yang memiliki kiprah di kancah global, beliau sebagai kepala manajer payments google play Asia-Pasifik yang berdomisili di Tokyo, Japan, namun di saat sesi ini sedang berada di California, USA.

Bu Anna merupakan alumni UGM yang kemudian melanjutkan pendidikan di luar melalui berbagai beasiswa, terutama dari Google. Latar belakang di bidang periklanan, berkecimpung lebih dari 15 tahun di bidang digital payments membuat pengalaman tersebut mengantarkan beliau di posisi saat ini, yaitu menjadi leader wanita satu-satunya di google play Asia-Pasifik.

Makna Hari Ibu Menurut Bu Anna

Sebab bertepatan dengan tanggal 22 Desember, di Indonesia diperingati sebagai hari ibu, beliau menyampaikan bahwa sejatinya hari ibu itu setiap hari. Jika pun diperingati secara simbolis, beliau juga merayakannya beberapa kali dalam setahun sebab perbedaan kultur Negara. Bu Anna yang menikah dengan sosok lelaki Mexican-American juga memperingati hari ibu di tengah tahun sesuai negara tersebut. Di Indonesia, di bulan Desember. Selain itu, memperingati hari ibu sebenarnya sama halnya merefleksi diri sebagai perempuan, sebab tidak semua wanita memiliki jalan ‘menjadi ibu’.

Perbedaan Teknologi

Di awal, sambil menunggu jaringan listrik dan internet stabil, beliau menceritakan seputar kehidupan di California. “Di sini tidak seperti sedang pandemi, seolah tidak ada covid. Orang-orang bebas berjalan tanpa menggunakan masker. Kecuali saat memasuki mall atau supermarket, masih perlu memakai (masker)nya.”

Selain itu, kecanggihan teknologi juga terasa pesat. Seperti pengalaman beliau saat memesan hotel. Hotel yang dipesan sudah tidak menyediakan kunci lagi, melainkan barcode yang terhubung dengan ponsel. Super hemat dan efisien. Namun, Indonesia tidak kalah maju, jika dibandingkan Jepang. Terutama untuk sistem pembayaran digital (digital payments). Di Jepang masih bergantung pada 1 platform, sedangkan Indonesia sudah lebih banyak lagi (seperti Ovo, shopee pay, gopay, pembayaran dengan pulsa bahkan melalui kasir Indomaret-Alfamaret juga bisa).

Dengan adanya teknologi yang semakin maju, ibarat dua mata pisau yang siap memangkas segala aktifitas yang kurang efisien, jangan sampai membuat diri terlena atau terjerembab akan kemudahannya. Perlu adanya pertumbuhan pola pikir juga.

If you Become Fearless, Life Becomes Limitless

Bu Anna memaparkan dari pengalaman beliau yang terus belajar bertumbuh serta tak terpaku pada keterbatasan dan gendernya sebagai perempuan. Di google sendiri, belum pernah ada director perempuan yang tersedia sebelumnya, sehingga beliau lah satu-satunya wanita di tim. Termasuk bagaimana ketika beliau memutuskan untuk meninggalkan Indonesia, bekerja di Singapore, kemudian di Japan serta bolak-balik ke US membuktikan bahwa beliau bisa dan mampu.

Being Smart is not Enough to be Successful

Ya, di zaman ini, kecerdasan atau kepintaran saja tidak cukup untuk mengcover kehidupan. Kita tidaklah dinilai dari nilai atau angka yang tertera pada selembar kertas akademik semata. Pengalaman Bu Anna, dimana beliau lulusan UGM kemudian bekerja di perbankan (BCA – karena ayahnya), kemudian banting setir ke majalah Femina hingga kemudian melanjutkan pendidikan di Duke University dari Google (Google Business Academy). Melalui ketekunan beliau mampu menembus Google, bekerja di sana, menjadi pimpinan satu-satunya yang bergender wanita.

Sebab timnya banyak yang ‘pintar’ dan ‘secara tidak langsung’ memberinya pressure dari sisi keterampilan, Bu Anna pun mengambil legalitas untuk membuktikan diri mampu melalui sertifikasi PMP (Projects Management Professional). Beliau juga belajar coding (Javascript & Phyton) di Khan Academy, serta melanjutkan pendidikan lagi (MBA) di UIUC Urbana Champaign) – dimana kampus ini juga menjadi kampusnya menteri keuangan Indonesia, Bu Sri Mulyani.

Apa yang membuat beliau sukses bukanlah kepintaran, melainkan ketekunan. Perseverance solved more problems than brilliance. Kenapa bisa demikian? Ya, karena :

  1. Menjadi pintar tidak memastikan bahwa kita mendapatkan kepintaran itu artinya dapat berpikir sendiri. Sebab banyak kerja-kerja yang membutuhkan orang lain, kerjasama.
  2. Menjadi pintar bukan berarti kamu bisa berpikir out of the box. Berpikir yang di luar kotak, sangat dibutuhkan di era sekarang.
  3. Memiliki kepintaran itu tidak berarti bahwa kita memiliki kemampuan untuk bermimpi besar. Begitu banyak orang sukses yang mimpinya tinggi dan mereka bisa achieve it. Misalnya Jack Ma -nya Alibaba.
  4. Terkadang kepintaran itu tidak menunjukkan fakta bahwa orang yang pintar = pandai menangani tekanan. Begitu banyak orang yang pintar namun justru lemah ketika menghadapi pressure yang kuat.
  5. Kepintaran tidak menjamin diri seseorang menjadi pemimpin yang baik. Sebab skills leadership itu berbeda dengan kecerdasan kognisi.
  6. Pintar bukan berarti kamu memiliki kemampuan komunikasi yang baik. Ini juga merupakan skills yang dilatih, tidak hadir melalui selembar kertas pengakuan.
  7. Pintar tidak selalu menunjukkan secara riil atas kemampuan seseorang yang telah berhasil menerapkan pada dirinya sendiri. Masih perlu banyak hal yang diuji di luar itu.
  8. Kepintaran tidak berarti bahwa seseorang itu gigih atau pekerja keras. Ini konteksnya berbeda, sebab kecerdasan spesifik setiap individu juga tentu tak berarti apa-apa jika tidak ada perseverancenya.
  9. Kepintaran tidak berarti bahwa seseorang sudah tahu bagaimana berperilaku di tempat kerja seperti apa (yang baik), dan itu tidak berarti bahwa seseorang sudah memiliki sikap yang bijaksana dalam menghadapi dunia. Bahkan bukan berarti sudah jelas memiliki bakat untuk berbisnis (bermuamalah) dengan benar.

Dan masih banyak hal lainnya yang beliau sampaikan terkait pengalaman selama ini di Google.

Ilusi Kesuksesan

Terkadang, seseorang menyaksikan orang lain ‘sukses’ hanya dari sisi hasil. Melihat isi instagramnya, media sosialnya, penghargaannya dan seterusnya, tanpa tahu bagaimana dibalik itu semua seperti apa perjuangannya.

Untuk menuju sukses, penting memiliki pemikiran dan hati yang benar. Misalnya, kita berpikir bahwa kegagalan artinya segala hal yang dibangun akan rusak. Coba diubah mindsetnya, bahwa jika kita tidak pernah mengalami apa itu gagal, maka kita tidak akan pernah belajar.

Dibalik kesuksesan seseorang ada gunungan besar di bawah permukaan yang diperjuangkan. Seperti ketekunan, mengalami kegagalan, pengorbanan, kebiasaan yang baik, kerja keras, dedikasi hingga bagaimana saat mengalami penolakan. Semua itu perlu dirasakan dan diupayakan dari dalam. Jika tidak, kesuksesan akan jauh dari harapan.

Bermula dari Mindset – Reset your Mind

Pola pikir menentukan bagaimana seseorang bersikap dan membuat keputusan. Mindset mudah diucapkan namun aplikasinya sungguh tidak mudah. Kata Bu Anna, “Sukses dimulai dari kita yakin bisa melakukan banyak hal yang sebelumnya dirasa mustahil.”

Setidaknya ada 2 jenis mindset, yaitu Fixed mindset dan Growth Mindset.

Fixed mindset merupakan kemampuan seseorang berpikir bahwa dirinya terbatas. Hal ini ditandai dengan tindakan membandingkan diri (comparing) dengan orang lain. Padahal setiap orang memiliki ‘jalan’ atau track masing-masing untuk menuju kesuksesannya.

Growth mindset merupakan pemikiran bahwa segala sesuatu bisa ia kerjakan jika ia mau mencoba dan melakukan hal terbaiknya.

Don’t forget to take a break to your brain (jika merasa lelah, jenuh, tidak apa-apa berhenti sejenak).

Bu Anna

Growth Mindset untuk Anak-Anak

Tidak hanya berlaku untuk orang dewasa, sebagai orang tua kita juga bisa menerapkannya pada anak-anak kita. Bu Anna memberikan, setidaknya 8 tips untuk mengembangkan pola pikir tumbuh pada anak-anak.

  1. Biasakan untuk berpikir secara strategis. Misalnya, ketika anak ingin berlari cepat, sementara ia mudah terjatuh. Maka, alih-alih menyuruhnya berjalan pelan dan memarahi, sebaiknya diajak diskusi, “bagaimana bedanya berlari dan berjalan, apa yang dirasakan?” dan seterusnya. Sehingga anak merasakan langsung tanpa merasa diperintah.
  2. Fokus kepada proses, jangan melihat hasil. Kebanyakan diri kita melupakan proses sebab terbiasa berpacu dengan hasil. Misalnya meminta anak untuk ranking kelas, padahal penting melihat prosesnya menyerap ilmu daripada sekadar nilai berupa angka-angka.
  3. Kelilingi dengan berbagai hal, jenis, varian, macam, sebab tidak hanya disebut pintar hanya dengan jago Matematika saja. Di luar sana banyak ‘jenius’ varian lain yang perlu dilihat oleh anak juga. Misalnya ada yang jago menggambar ilustrasi, membuat desain, menyanyi, dan sebagainya.
  4. Ajarkan pada anak bahwa ‘salah itu tidak apa-apa’. Ajak diskusi, belajar dari kesalahan.
  5. Ketekunan adalah hal yang utama, tanamkan pikiran itu pada mereka.
  6. Jenius hadir dari perilaku.
  7. Gak apa-apa kita beda, tidak harus sama dengan orang lain.
  8. Bantu anak-anak untuk berani ambil resiko.

Banyak orang ingin sukses, namun mereka tidak tahu apa yang mereka mau.

Bu Anna Soemarno

Jenny Blake’s Pivot Method Google

Di Google, Bu Anna menerapkan sistem pertumbuhan melalui konsep pivot yang diinisiasi oleh Jenny Blake. Yaitu :

  1. Plant.
  2. Scan.
  3. Pilot.
  4. Launch.

Plant diartikan menanam apa yang kita miliki. Melalui refleksi, melihat hal-hal apa saja yang selama ini berfungsi untuk mendukung kesuksesan diri. Kemudian scanning, artinya melihat sosok yang mirip sehingga kita bisa menirunya (bukan copas) sebagai inspirasi hari-hari. Saya jadi berpikir, saya ingin seperti mentor saya, maka sejak ini pula saya perlu mengubah strategi harian untuk meniru setidaknya 1-2 hal yang mentor saya lakukan. Dalam proses scanning ini, bisa melihat dari 3 sisi, yaitu people, skills, ataupun projects. Selain itu, perlu juga mempertimbangkan 3E, enjoyment, expertise, expansion.

Selanjutnya pilot, yaitu hal apa saja yang bisa dijadikan projects, yang saat ini juga bisa dikerjakan. Tidak ngawang-ngawang. Dalam menentukan pilot, perlu mempertimbangkan : nilai (values), skills, networks, strenghts, dan satu tahun rencana (one-year vision). Kemudian launch, apa-apa yang bisa kita tampilkan, kita persembahkan. Pada proses ini, penting untuk membuat timeline, mengumpulkan sumber daya, serta membuat keputusan yang tepat setelahnya.

Keempat langkah itulah yang membawa setiap projects di google bisa tercapai.

Lima Skills yang Diperlukan untuk Menunjang Kesuksesan

Bu Anna membagikan beberapa keterampilan yang diperlukan, diasah untuk mendukung kesuksesan di zaman digital ini.

  1. Leadership. Menjalankan peran sebagai pemimpin, setidaknya untuk diri sendiri dan tim. Yaitu pada saat membuat keputusan dan menjalankannya.
  2. Strategic Thinking. Yaitu kemampuan untuk berpikir secara terstruktur.
  3. Good Communication. Penting untuk meluruskan persepsi dan komunikasi.
  4. Problem solving. Sangat bermanfaat untuk menghasilkan ide atau solusi pada suatu permaslaahan.
  5. Stakeholder Management. Ini berguna untuk mengatur ekspektasi orang lain.

Kunci kesuksesan, jangan mudah menyerah (perlu tekun) dan jangan malu bertanya. Karena -siapa tahu- akan ada peluang dari pertanyaan yang kita ajukan itu.

Bu Anna

Demikian acara talkshow terbatas yang disajikan di hari Ibu ini, sungguh spesial dan membuka wawasan. Selamat hari Ibu untuk kita semua. 🙂

Tinggalkan Balasan